Istriku Selingkuh dengan Pegawai Bank karena Diiming-imingi Uang

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah karangan semata. Bila ada kesamaan nama, waktu, tempat, profesi, dan cerita itu bukan merupakan kesengajaan.
Untuk sebagian orang, jatuh cinta pasti sangat menyenangkan meski beberapa di antaranya merasakan pahitnya ditinggalkan. Malah terkadang banyak orang yang cintanya bersemayam hingga akhir hayat tetapi sepertinya hal-hal semacam ini tidak berlaku untuk orang sepertiku.
Pekerjaanku hanyalah supir truk yang membawa barang lintas provinsi, aku jarang sekali berada di rumah dan uang yang kuhasilkan pun sedikit. Bukan berarti aku tidak bersyukur atas semua hal baik yang terjadi, hanya saja aku memiliki istri yang ternyata menginginkan suami dengan pekerjaan jauh lebih baik.
Dari segi ekonomi, pastilah lelaki itu jauh lebih baik. Akan tetapi, dari sisi perjuangan pastilah aku yang menang. Kami menjalin hubungan selama bertahun-tahun bukan tanpa perjuangan. Untuk mendapatkannya aku harus rela bolak-balik dua pulau agar bisa bertemu dengannya.
Belum lagi kalau aku harus mengantar barang yang jauh dari pulau tempat dia tinggal. Aku harus kembali ke perusahaanku menyerahkan laporan perjalanan dan bukti pengiriman kemudian berangkat lagi ke pulau tempat ia tinggal meski hanya istirahat satu hari. Saat sedang lelah, bukan berarti aku sampai di sana dan langsung diterima oleh keluarganya.
Mereka menentang hubungan kami dan meragukan kalau aku bisa membahagiakan anaknya, atau paling tidak menafkahinya. Wajarlah orang tua mana yang ingin anaknya menikahi supir truk seperti aku, tapi apalah daya aku sudah kadung jatuh cinta. Aku kejar dia meski harus menanggung lelah yang berkali-kali lipat.
Awal mula kami bertemu ketika aku mengantarkan barang kiriman ke toko tempat dia bekerja. Ia bekerja sebagai kasir dan dipercaya mengurus aku dan temanku selama berada di sana. Mulai dari menyediakan makanan, minuman, sampai menyiapkan tempat tinggal karena kami selalu diberi waktu satu hari untuk beristirahat sebelum kembali ke perusahaan. Aku sering kali memerhatikannya, tak pernah sekalipun wajahnya terlihat murung, ia selalu ceria dan senang bercerita pada siapa pun.
Toko di desa itu sering memesan barang pada perusahaanku, semacam sudah langganan. Kebetulan ketika ada pengiriman ke toko tempat dia bekerja, aku dan temanku baru saja kembali dari provinsi lain, kejadiannya selalu seperti itu. Sebenarnya, aku sudah lama mengenal dan memerhatikannya tetapi tidak punya keberanian untuk mendekati.
Temanku yang sudah berpengalaman soal wanita memberi saran agar aku cepat mendekati sebelum dia ‘diambil’ orang lain. Sebagai permulaan, aku memberanikan diri untuk meminta nomor ponselnya dan ternyata ia berikan dengan mudah. Setelah itu kami sering berkomunikasi untuk sekadar berguyon dan menanyakan kabar. Lama-lama hubungan kami semakin dekat dan komunikasi menjadi hal wajib yang dilakukan setiap hari.
Aku merasa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mulai menyatakan cinta dan memintanya menjadi kekasihku, ternyata dengan senang hati ia menerima cintaku. Kemudian barulah perjuanganku melintasi beberapa provinsi hanya untuk bertemu dimulai.
Lima tahun berpacaran dengan pertemuan lintas provinsi yang rutin setiap bulan membuat orang tuanya luluh dan mengizinkanku menikahi anak mereka. Singkat cerita, beberapa bulan setelah lamaran aku menikahi dia di kampung halamannya dan mengajaknya ikut bersamaku setelah dua minggu berada di sana.
Hampir sepuluh tahun kerja di perusahaan itu, aku belum bisa membeli sebuah rumah dan masih mengandalkan sewa di lingkungan yang cukup padat. Aku sempat khawatir dia tidak akan senang dengan rumah yang aku sewa, tetapi aku justru melihat dia tidak mempermasalahkannya, saat itu aku yakin menjadi istri yang sangat pengertian.
Dua tahun menikah, rumah tangga kami baik-baik saja. Seluruh uang pendapatan aku serahkan seluruhnya dan dia pun pandai mengatur keuangan. Ia masih bisa menabung meski sedikit dari semua pendapatanku dan meminta izin untuk berjualan bakso tusuk agar menghasilkan pemasukan lebih.
Aku sangat bersyukur mendapatkan istri yang sangat pengertian. Aku tidak memaksanya membantu karena tetap ingin seluruh pengeluaran rumah tangga berasal dari pendapatanku. “Mungkin ia menginginkan pendapatan lebih agar lebih bebas mengatur keuangan,” pikirku saat itu.
Baru berjalan lima bulan, ternyata Tuhan berkehendak lain. Ia positif hamil tetapi kondisinya sangat lemah sehingga tidak memungkinkan untuk berjualan. Aku yang memutuskan untuk bekerja dua kali lebih keras, hari libur kugunakan untuk menjadi kuli bangunan agar biaya melahirkan istriku bisa tercukupi.
Sayangnya, ia terjatuh saat berada di kamar mandi sehingga anak di dalam kandungannya tidak terselamatkan. Ia menangis dan meminta maaf, aku memintanya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan soal itu. Aku hanya ingin dia sehat dan menjalani hidup dengan baik.
Lima tahun pernikahan, kami tak kunjung diberi keturunan. Aku sudah tidak mengkhawatirkan soal itu dan memaksakannya untuk memberi aku keturunan. Kalaupun ia tidak bisa hamil kembali, aku akan tetap menerima dan mencintainya seperti dulu.
Layaknya rumah tangga, terkadang pertengkaran pasti terjadi. Saat itu kami habis bertengkar karena tidak biasanya ia merajuk tidak membolehkan aku ke luar kota. Sedangkan itulah pekerjaanku selama berpuluh tahun, aku marah karena atasanku sudah menunggu barang tersebut diantar ke alamat yang ditujukan.
Aku memaksa keluar dari rumah dan membiarkan dia merajuk di rumah. Perjalananku kali ini memang memakan waktu yang cukup lama, tetapi aku tetap harus melakukannya agar mendapatkan pemasukan. Selama perjalanan aku berkomunikasi dengan istriku seperti biasa tetapi memang ada perasaan aneh yang mengganjal di hatiku.
Tidak biasanya ia tidak membalas pesanku, “mungkin masih merajuk,” pikirku. Berulang kali aku menelepon untuk meminta maaf karena terpaksa pergi tetapi telepon itu tidak pernah diangkat. Aku biarkan dia merajuk di rumah dan memilih untuk menghubunginya besok pagi.
Tujuanku kali ini memakan waktu hingga tiga hari, jadi bolak balik akan sampai satu minggu. Mungkin itulah yang membuatnya merajuk karena tidak ingin ditinggal terlalu lama. Keesokkan harinya, aku kembali menelepon dia dan sudah diangkat, aku meminta maaf dan kami berkomunikasi seperti biasa.
Namun, selama berkomunikasi hanya di jam tertentu ia tidak membalas pesanku. “Mungkin ia tertidur,” pikirku, tetapi hati memang tidak bisa dibohongi. Beberapa bulan belakangan memang aku menaruh curiga padanya, entah aku mencurigai dia dengan siapa tetapi ada yang aneh dengannya.
Suatu kali aku menelepon dia berkali-kali dan tidak diangkat. Sampai suatu ketika telepon itu terangkat dan terdapat suara rintihan istriku. Aku mendengarkannya dengan sangat jelas dan emosiku mulai meninggi. Aku meminggirkan truk dan meminta temanku yang menyetir, ia bertanya setelah kami kembali ke jalan.
Aku menceritakan semuanya dan temanku menyarankan agar aku tidak menghubunginya terlebih dulu jika akan pulang. Aku mengikuti saran temanku, setelah kami sampai di perusahaan untuk menyerahkan laporan dan bukti pengiriman, aku langsung izin pulang tanpa memberitahu istriku.
Di perjalanan, aku mendapat telepon dari tetanggaku dan mengatakan kalau dia melihat laki-laki, yang juga tetanggaku, sering masuk ke dalam rumahku tetapi tidak menyebutkan namanya. Ia mengatakan kalau laki-laki itu bekerja di bank karena saat masuk ke dalam rumahku sedang mengenakan seragam dari perusahaannya.
Aku mempercepat laju motor, sengaja aku tidak membawa truk ke daerah rumahku karena pastilah ia akan tahu kalau aku sudah pulang. Aku meminjam motor temanku agar ia tidak menyangka aku sudah kembali dan melihat apa yang ia lakukan selama aku pergi.
Motor yang kupinjam, aku taruh di salah satu teman dan aku berjalan kaki menuju rumahku. Aku tidak melihat ada sepatu atau sandal lain selain milik istriku, tetapi itu tidak menurunkan kecurigaanku terhadapnya. Aku mengirimkan pesan pada tetangga yang sebelumnya meneleponku dan ternyata mereka sudah ramai membicarakan tentang istriku.
Mereka tidak berani menangkap basah istriku karena ketua rt di lingkungan kami sedang tidak berada di rumahnya. Aku langsung membuka pintu dan berteriak memanggil nama istriku, kemudian setengah berlari ke arah kamar. Aku membuka kain yang menutupi kamar kami dan melihat ada seorang laki-laki di sana.
Aku sangat mengenal laki-laki itu, dia adalah teman dekatku yang memang bekerja di bank. Tetanggaku benar karena dia masuk ke dalam rumahku memakai seragam dari perusahaan tempat dia bekerja. Aku mulai memukulnya dengan membabi buta, istriku hanya berteriak dan menangis di pojok kasur sambil memegangi sehelai kain.
Tetanggaku berdatangan ke rumah dan menarikku agar berhenti memukuli laki-laki itu. Emosiku sangat meluap, aku memaki istriku dan menyeret laki-laki itu. Ketika menyeret laki-laki itu, aku diikuti oleh beberapa tetangga untuk memastikan aku tidak membunuhnya.
Aku menyeret laki-laki itu ketika ia benar-benar tidak mengenakan satu helai kain. Aku ingin tetanggaku tahu apa yang sudah dia perbuat dengan istriku, aku membawanya keliling tempat tinggalku dan membiarkannya tanpa busana. Ketika kembali, aku menceraikan istriku dan mengusirnya dari rumah yang kusewa.
Ia menangis, memohon, dan meminta maaf tetapi tidak menjelaskan alasannya melakukan hal itu. Dari kejadian itu, banyak tetangga yang mengatakan kalau ia memang sering memasukkan laki-laki itu ke dalam rumah di saat aku tidak ada. Istriku tetap menunggu di depan pintu rumah, ia menangis dan meminta maaf. Aku tidak membukakan pintu dan membiarkannya seperti itu.
Banyak tetangga yang memberinya makan dan minum, berulang kali aku mendengar mereka meminta istriku untuk masuk ke salah satu rumah tetanggaku, tetapi tidak mau. Ia memilih untuk menungguku membukakan pintu. Karena tidak tega, aku menyuruhnya masuk ke dalam, ia sangat senang dan berusaha memelukku tetapi aku menepis tangannya.
Saat berada di dalam, ia mandi dan menyiapkan makan malam untukku tetapi aku memilih keluar dan makan bersama teman-temanku. Ketika aku pulang, dia meminta maaf dan menjelaskan kalau dia dipaksa melakukan itu olehnya. Ia mau karena diiming-imingi uang, sedangkan ia mau kehidupan kami tercukupi.
Aku merasa sangat sakit hati mendengar penjelasannya, dari awal ia sudah tahu pekerjaanku dan siap menerimanya. Tetapi setelah menikah, ia menginginkan banyak uang dan hidup berkecukupan. Mungkin itu adalah mimpi semua istri, tetapi aku bisa memberikannya dengan usahaku sendiri dan tidak dengan cara seperti itu.
Di depannya, aku menelepon temanku. Aku meminta tolong padanya agar mengembalikan istriku pada kedua orang tuanya. Aku menceraikannya malam itu dan ia kembali menangis dan memohon agar aku tidak melakukannya. Berulang kali ia mengatakan kalau ia cinta padaku, tetapi ucapan dan kelakuannya sangat jauh berbeda.
Temanku mau membantuku dan esok pagi ia menjemput mantan istriku dan mengembalikan pada orang tuanya. Satu minggu kemudian, orang tuanya meneleponku dan meminta maaf. Ia memintaku untuk kembali pada anaknya karena dia tidak mau menerima makanan apa pun. Aku meminta maaf pada keluarganya karena benar-benar sudah tidak bisa menerima wanita itu kembali ke hidupku lalu memutus komunikasi itu dan mematikan ponselku.
Saat itu aku meminta waktu libur beberapa hari karena kondisiku tidak memungkinkan untuk membawa truk rute jauh. Perusahaanku mengizinkan dan aku mulai menata hatiku, menelan bulat-bulat rasa sakit hati itu kemudian kembali menjalani hidup. Sejak saat itu, aku tidak lagi mau mengantar ke desanya dan memilih untuk hidup sendiri karena tidak mau mengambil risiko dikecewakan untuk kedua kalinya.
