Izin Melanjutkan Kuliah, Istri Kembali Membawa Calon Suami Baru

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Saat berada di bangku SMA, aku menjadi laki-laki yang cukup populer di kalangan teman-temanku. Entah itu laki-laki atau perempuan, kami sangat dekat dan aku cukup terkenal karena celotehanku yang sedikit ‘kotor’. Di SMA dulu, banyak yang ingin menjadi kekasihku, tetapi aku menolak setelah berpacaran dengan kakak tingkat saat masih kelas 1 SMA.
Aku kapok pacaran satu sekolah karena merasa tidak bebas bermain dengan teman-temanku. Apa-apa selalu dipantau dan dikomentari, terlebih kalau aku main dengan teman wanitaku. Pacarku pasti akan cemburu atau temanku didatangi dan dimarahi olehnya.
Aku lebih memilih memacari seorang wanita yang sekolahnya justru dekat dengan rumahku. Kami berpacaran selama enam tahun, bisa dibilang ia cukup gila dan membuatku menjadi lebih gila saat berpacaran dengannya. Kalau bukan karena cinta mungkin dia akan ku tinggalkan sejak dulu.
Setelah dua tahun berpacaran, aku baru mengetahui kalau dia memiliki penyakit psikis yakni bipolar. Aku mengetahui itu setelah membujuknya untuk datang ke psikiater, kedua orang tua wanita ini sudah menyerah menghadapinya dan meminta aku untuk menjaga juga merawatnya. Setidaknya, dia lebih menuruti apa pun perkataanku dibandingkan orang tuanya.
Ketika aku tidak membalas pesan atau mengangkat teleponnya, ia akan mulai berpikir negatif dan menyakiti dirinya sendiri. Kemudian akan marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar kepadaku, semua temanku tahu bagaimana sikapnya terhadapku. Aku tidak bisa memiliki teman wanita yang bahkan ketika kami berpose berdua dan terlihat sedikit akrab, dia akan memarahi wanita itu.
Ia bak detektif yang mengetahui semua aktivitasku bahkan hampir setiap hari kami bertemu dan menelepon hingga ia tertidur pulas. Setelah ia tertidur barulah aku bisa bermain dengan teman-temanku hingga pagi. Meski selalu melontarkan kalimat-kalimat ‘kotor’ aku bukanlah tipikal pria yang senang mempermainkan wanita.
Aku sangat menentang perselingkuhan apalagi poligami. Ketika aku sudah jatuh cinta pada seseorang, aku akan mencintainya sepenuh hati meski itu menyulitkanku. Aku sering merasa kesulitan saat menghadapi pacarku, tetapi berusaha bertahan karena memang tidak ingin menyakiti dirinya. Tidak pernah sekalipun aku memutus hubungan, pastilah mereka yang akan meminta pisah dariku.
Selama menjalin hubungan, aku sudah sangat mencintainya. Aku sudah sangat dekat dengan keluarganya, begitu pula sebaliknya. Pernah suatu kali ibuku mendapati dia mengirimiku pesan yang berisi makian hingga kata-kata kasar. Ibuku mempertanyakan hal-hal seperti itu kepadaku, tetapi aku berusaha untuk membelanya.
Bertahun-tahun pacaran, diam-diam aku sudah mulai merancang masa depan dengannya. Meski beberapa kali aku diminta oleh orang tuanya untuk menikahinya, tetapi aku menolak. Padahal aku hanya tinggal duduk manis menjadi pengantin dan semua dibiayai oleh keluarganya termasuk rumah yang akan kami tinggali.
Aku menolak karena ingin memperjuangkan semua itu sendiri. Ingin merasakan lelahnya mencari uang dan menikmati hasilnya berdua dengan orang yang aku cintai. Keluarga pacarku bisa dikatakan sangat kaya, tetapi aku tidak mencari kesempatan di dalam kesempitan.
Ayahku mengajarkan agar aku menjadi laki-laki sejati yang bisa berdiri di kakiku sendiri. Sejak kecil aku banyak dilatih mandiri oleh keluargaku dan semua itu kupetik saat aku sudah mengerti banyak hal. Selama enam tahun ia menungguku untuk siap menikahinya, ketika sudah waktunya aku mulai melamar dan tak lama kemudian menikahinya.
Meski masih di bangku kuliah tingkat akhir, aku sudah memiliki penghasilan sendiri dengan menjual berbagai desain rumah yang aku kerjakan. Sedangkan dia sudah lebih dulu lulus, aku telat karena ingin mengulang semua mata kuliah hingga benar-benar paham. Aku mengikuti kelas tambahan di jam karyawan dan mengambil semua mata kuliah yang ingin aku kuasai.
Aku telat lulus satu tahun dibandingkan dirinya, tetapi aku sudah bisa menikahi dan menghidupinya meski saat itu masih berkuliah. Ketika aku kuliah dan sibuk mengambil banyak kelas, ia pun bekerja di salah satu perusahaan ternama. Perusahaan itu memintanya untuk melanjutkan kuliah di universitas yang sudah dipilihkan dengan biaya ditanggung penuh oleh mereka.
Ketika dia sampai ke apartemen kami, ia menemuiku yang memang sedang menyelesaikan skripsiku. Ia mengatakan ingin mengambil kesempatan ini untuk menaikkan jenjang kariernya. Aku membolehkannya karena memang tidak ingin membatasi dia dalam berkarier.
Dia terlihat sangat senang sekali waktu itu, ia mencium dan memelukku kemudian pergi ke kamar mandi. Setelahnya ia membuatkanku makan malam dan beberapa camilan untuk menemaniku mengerjakan skripsi. Saat mengizinkannya, aku benar-benar menaruh rasa percaya penuh padanya.
Aku percaya karena merasa dia se cinta itu padaku. Dua hari kemudian, ia baru memberikan jawaban pada atasannya setelah kami berdiskusi panjang tentang bagaimana kehidupanku di sini tanpanya. Apa saja yang boleh dan tidak boleh aku lakukan.
Setelah memberikan jawaban, ia diminta untuk mengaplikasikan beberapa dokumen kelengkapan untuk dia melanjutkan kuliah di kota lain. Dua minggu kemudian, ia mendapatkan email balasan dan harus berangkat satu minggu setelah email tersebut dikirimkan. Ia senang bukan main, aku pun turut senang karena dia bisa mengembangkan karier sesuai dengan impiannya.
Singkat cerita, ia berangkat ke kota tersebut dan memulai perkuliahannya. Satu bulan pertama, kami bertengkar hampir setiap hari hanya karena Whatsapp dan teleponnya lama aku respons. Dia selalu menaruh curiga dan menuduhku berselingkuh padahal dia sangat tahu kalau aku sedang mengerjakan skripsi.
Aku menyuruhnya untuk bergaul dengan orang-orang di sana, mengejar materi kuliah dengan baik, atau ikut organisasi apa pun. Meski sebenarnya aku tidak tahu apakah ada organisasi di ekspansi kuliah S2? Intinya aku berusaha membuatnya sibuk dengan kegiatan agar dia tidak berpikir negatif terus-menerus kepadaku.
Otakku sudah cukup padat untuk diisi dengan skripsi, jadi tidak perlu ditambah dengan serentetan tuduhan negatif darinya. Ia mulai menuruti kata-kataku, setiap malam ia bercerita sedang mengikuti kelompok diskusi di universitas tersebut. Aku meresponsnya dengan sangat baik.
Dia mengatakan kalau memiliki banyak teman laki-laki, aku tidak cemburu dan justru senang karena ada seseorang yang bisa menjaga dia di sana. Terkadang aku menyuruhnya mencari teman laki-laki untuk menemaninya pulang ke tempat tinggal di selama di sana. Dia pun menuruti kata-kataku.
Namun, semakin lama aku merasa ada hal yang tidak benar dengannya tetapi berusaha ku abaikan. Aku mulai fokus mencari pekerjaan untuk memperbaiki hidup kami, terlebih jika ingin memiliki anak nantinya. Tak sampai satu bulan setelah kelulusan, dua perusahaan menarikku untuk bekerja di sana, aku menegosiasi agar bisa mengambil keduanya.
Aku berpikir kalau selama istriku di sana itu adalah hal yang baik karena aku bisa mempersiapkan uang lebih banyak dengan bekerja di dua tempat sekaligus. Akhirnya aku bisa bekerja di dua perusahaan dan mulai menghabiskan waktuku untuk bekerja. Aku tidak mau hidup istriku hanya seperti ini dan menginginkan yang terbaik untuknya.
Suatu hari, ada seorang wanita yang meneleponku. Ia mengatakan kalau istriku dekat dengan satu laki-laki dan mereka sering naik gunung bersama selama di sana. Saat itu aku berpikir kalau memang aku yang menyuruhnya untuk menyibukkan diri dan tidak masalah jika dia berteman dengan laki-laki.
“Engga apa-apa kalau dia dekat dengan laki-laki, malah bagus ada yang menjaga dia di sana” balasku pada wanita yang meneleponku “oh yaudah, gue cuma ingetin aja karena lo kan suaminya, takut lo diselingkuhi sama dia” ucapnya kemudian memutus sambungan telepon. Aku hanya menghela napas dan kembali bekerja.
Ada target yang harus aku capai demi kehidupan yang lebih nyaman untuk istriku. Selama dia di sana, kami masih sering berkomunikasi dan dia memang jadi lebih santai juga tidak menjadi pemarah. Ketika aku merespons pesannya lambat atau tidak mengangkat teleponnya karena ketiduran, dia pun tidak marah.
Aku sangat senang dengan perubahan sikapnya karena dengan begitu ia jadi tidak menggangguku saat mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Terkadang jika pekerjaan tersebut masih longgar, aku akan mengambil permintaan desain dari beberapa klien di luar kedua perusahaan tersebut. Sebenarnya aku tidak suka tinggal di apartemen dan memilih untuk membangun rumah.
Aku ingin secepatnya membangun rumah untuk istriku sebelum kami memiliki anak. Dia melanjutkan kuliah itu dalam kurun waktu dua setengah tahun dan selama itu aku bekerja seperti ini. Jika dia sudah kembali, aku akan memilih salah satu perusahaan saja agar masih memiliki waktu untuknya.
Dua tahun berlalu, aku mulai mengecek tabunganku dan kurasa sedikit lagi aku sudah bisa membangun sebuah rumah untuk istriku. Aku semakin jarang berkomunikasi dengannya, alasannya karena ia sibuk mengurus disertasi. Aku memaklumi karena di sini pun aku sedang sibuk mengejar penyelesaian dua pekerjaan untuk dua perusahaan.
Ketika aku memprediksi ia akan pulang, satu bulan sebelumnya aku sudah mengajukan surat pengunduran diri ke salah satu perusahaan. Aku mulai bekerja normal dan sesekali menerima permintaan desain dari klien. Satu minggu sebelum kepulangannya, ia meneleponku dan kami mengobrol lama sekali. Tidak ada hal yang aneh dari suaranya.
Aku merahasiakan tabunganku karena memang belum cukup untuk membangun rumah impiannya. Satu minggu berlalu, ia kembali dan aku ingin menjemputnya di sebuah bandara tetapi ia melarang. “Dari kantor sudah ada yang menjemput” katanya, aku menuruti permintaannya dan menunggu di apartemen. Hari itu sengaja aku tidak masuk kerja karena memang ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.
Tetapi meski hari sudah sore, ia tidak kunjung pulang. Aku meneleponnya “kamu di mana? Kok belum pulang” tanyaku “sebentar lagi aku pulang, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu” jawabnya “oke” balasku. Hingga malam aku menunggunya, dia baru datang sekitar pukul 21.00, aku memeluknya melepas rindu tetapi dia tidak membalas pelukanku.
Ia memegangi kopernya dan ku bantu membawa itu masuk ke dalam. Setelah dia mandi dan membersihkan diri, ia duduk di sampingku “aku mau bicara penting sama kamu” katanya, aku mendengarkan dengan seksama. “Aku sudah tidak cinta lagi sama kamu” ucapnya, aku tertegun dan terkejut mendengar ucapannya “selama di sana kamu menyuruhku untuk menyibukkan diri dan berteman dengan laki-laki, saat itu aku sudah menemukan apa yang buat aku bahagia” tambahnya.
Aku masih terdiam dan mendengar penjelasan itu tanpa memotongnya, “aku menemukan dia dan dia mengajarkanku banyak hal, aku mencintainya dan aku sudah tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku sudah tidak mencintai kamu” ucapnya “aku ingin kita pisah” tuntasnya. Kalimat terakhir membuatku serasa ditampar dan didorong masuk ke jurang, aku menghela napas “yaudah kalau memang itu yang kamu mau dan itu buat kamu bahagia” jawabku.
Ia berterima kasih padaku kemudian memberikanku pelukan terakhir sebelum dia mengemasi barang-barangnya. Ia meninggalkan aku di dalam apartemen yang mulai terasa hampa. Setelah kepergiannya, aku menyibukkan diri dengan bekerja tetapi tetap mengurung diri di apartemen selama lima bulan.
Teman-temanku berusaha membujukku keluar untuk main bersama mereka, tetapi aku tidak mau. Tak lama surat resmi perceraian kami keluar, aku tidak hadir selama persidangan itu, entah apa yang ia tuduhkan padaku. Aku merasa waktu berputar sangat cepat dan terasa semakin menyakitkan.
Mereka datang ke apartemenku dan mulai menginterogasiku. Aku bercerita pada mereka hingga suaraku bergetar menahan tangis, mereka menyesali apa yang telah diperbuat oleh mantan istriku. Teman-temanku tahu bagaimana perjuanganku membahagiakan dia bahkan berusaha mewujudkan rumah impiannya. Tetapi ternyata dia malah memilih pria yang baru ia kenal dua setengah tahun dibandingkan aku yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun.
Dua tahun aku menjadi duda kemudian berpacaran dengan teman lesku dulu tetapi ternyata hubungan kami tidak berhasil. Setelah putus dengannya, aku berpacaran dengan teman SD-ku dan kini kami sudah menikah. Ia cukup pandai merawat aku dan juga rumah tangga, uang yang selama ini aku simpan ku gunakan untuk membahagiakannya.
Setelah perceraian itu, mantan istriku sempat menemuiku dan ingin kembali, tetapi saat ia datang hanya hitungan hari aku menikahi teman SD-ku itu. Aku menolaknya karena sudah menemukan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Pertemuan itu menjadi terakhir kali aku melihat dan mendengar kabarnya kalau hubungan dia dengan pria itu tidak berjalan dengan baik.
