Konten dari Pengguna

Karena Sakit Hati, Calon Suamiku Menikahi Wanita Lain di Hadapanku

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pixabay.com/shutterbug
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pixabay.com/shutterbug

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Selama masa sekolah hingga kuliah, aku menjalin kasih dengan salah satu teman. Kami begitu dekat hingga akhirnya jatuh hati dan berpacaran, dia sungguh mencintai atau mungkin bisa dibilang terobsesi denganku. Meski terlihat menyenangkan karena dia begitu mencintaiku, kenyataannya kami memiliki kepribadian yang jauh berbeda.

Dia sangat bebas dan tidak pernah merencanakan apa pun di hidupnya. Semua ia jalani dengan mengalir tanpa persiapan, sedangkan aku sebaliknya. Aku mempersiapkan segalanya sematang mungkin agar bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Setelah selesai kuliah, secara mendadak dia melamarku dan ingin tinggal bersamaku di luar kota.

Aku jelas menolak, aku menyelesaikan kuliah karena memang ingin mengejar impianku sebagai pengacara dan menempuh pendidikan lanjut di luar negeri. Mengetahui alasanku akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi hubungan kami, keluargaku sudah tahu tentang keinginanku pergi ke luar negeri, mereka pun sudah menyiapkan dana sejak aku masih kuliah.

Dua minggu setelah lamarannya kutolak ia menemuiku di bandara untuk terakhir kalinya, alih-alih sedih dia malah terlihat sangat kesal dan marah. Aku tetap berpamitan dengannya dan tidak bisa mengubah keputusanku. Sudah jelas kalau impianku jauh lebih penting, aku tidak bisa hidup mengalir begitu seperti dia.

Setelah sampai di negara tujuan, aku menempati sebuah apartemen kemudian mulai mengurus berbagai dokumen yang diperlukan. Hampir lima tahun aku berada di sana, setelah lulus pendidikan lanjutan aku mulai meniti karier di negara tersebut. Negara itu sangat cocok denganku ditambah pertumbuhan ekonominya sangat pesat yang membuatku selalu update dengan banyak hal.

Saat sedang bekerja di salah satu perusahaan swasta di sana, ibu meneleponku dan mengatakan kalau dirinya sedang dirawat di rumah sakit. Kami tidak pernah putus komunikasi, apalagi setelah ayahku meninggal saat aku masih di negara lain. Lalu aku meminta izin untuk cuti sementara kepada atasanku agar bisa menjaga ibu selama di rumah sakit.

Aku berencana untuk mengajak ibu tinggal bersamaku setelah kondisinya membaik agar dia bisa mendapatkan perawatan yang jauh lebih baik. Hampir satu bulan ibu di rumah sakit, membuatku harus membagi tugas pada diri sendiri karena memang hanya ada aku di rumah. Aku harus mengurus keperluan di rumah kemudian siangnya ke rumah sakit untuk menjaga ibu sampai malam.

Sepulang dari supermarket, aku berpapasan dengan mantan pacarku. Ia terlihat sangat gagah dan berbeda dari terakhir kali aku bertemu dengannya. Dia mengajakku berbincang sebentar di sebuah kafe, ia mengatakan kalau dirinya saat ini sudah memiliki banyak cabang untuk restoran dan kafe.

Kami kembali dekat sejak saat itu, dia selalu mengatakan kalau dirinya tidak pernah bisa melupakanku. Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama tetapi berusaha untuk terus memikirkan pekerjaan dan ibu. Dia mulai mendekatiku dan akhirnya kami tinggal di apartemen yang sama.

Dua bulan setelah kami pindah dan tinggal bersama, dia melamarku kembali. “Sudah tidak ada lagi alasan kamu menolak lamaranku,” katanya, dengan senang hati aku menerima lamarannya. “Mungkin ini yang terbaik buatku setelah sekian lama berpisah akhirnya kami dipertemukan kembali,” batinku, ia menginginkan agar aku keluar dari pekerjaanku di negara sana dan kembali ke negara asalku.

Aku menyetujui permintaannya, mungkin ini jalan tengah agar aku bisa dekat dengan ibu dan calon suamiku. Aku bisa meniti karier di negara asalku, maka setelah memikirkannya cukup lama aku pun mengirimkan surat pengunduran diri ke kantorku. Mereka sempat kecewa dan ingin menungguku hingga urusan di negaraku selesai, tetapi aku menolak karena ingin tinggal di kampung halamanku.

Jawabanku cukup diterima dan akhirnya mereka merelakanku keluar dari perusahaan tersebut. Aku merasa sangat bahagia ketika pindah ke apartemen yang kubeli di dekat rumah ibu agar bisa tinggal bersama calon suamiku. Terlebih ketika ia mengatakan ingin merencanakan semuanya seorang diri dan memberikanku kejutan indah.

Aku penasaran dengan kejutan dan pesta seperti apa yang ia buatkan untukku. Selagi menunggu, aku fokus merawat ibu di rumah karena memang ia sedang melakukan rawat jalan dan juga terapi. Hampir setiap hari calon suamiku tidak berada di rumah, “ia terlalu sibuk,” pikirku.

Sempat aku ingin membantunya karena mengingat ia harus melakukan bisnis dan juga acara pernikahan kami secara bersamaan “pasti sangat sulit untuknya,” pikirku. Aku tahu bagaimana karakternya yang jika terlalu dirumitkan oleh masalah, ia akan membentak hampir semua orang dan itu akan memperkeruh suasana.

Tetapi ketika kutawarkan, dia menolak. Dia bilang kalau dirinya tidak seperti dulu dan sanggup untuk menghadapi banyak tekanan. Aku sangat bersyukur dengan perubahannya dan membuatku lebih fokus mencari pekerjaan baru dan juga merawat ibu.

Tiga bulan persiapan kami menikah akhirnya selesai juga, ia hanya menyuruhku datang ke sebuah gereja tua di dekat apartemen kami. Ternyata ia sudah menyebarkan undangan tanpa sepengetahuanku, seharusnya aku mulai curiga dari sana tetapi kenyataannya tidak. Aku menganggap kalau itu termasuk dalam kejutan untukku, “mungkin saja ia akan mengundang sahabat lamaku,” pikirku.

Ia menyuruhku bersiap di apartemen kami dengan mengirimkan banyak orang untuk membantuku mengenakan gaun pernikahan dan juga rias wajahku. Setelah semua siap, aku melihat ada mobil mewah di pelataran apartemen kami yang akan membawaku ke gereja tempat kami akan mengucap janji. Aku masuk ke dalam mobil itu dan ketika turun, aku mendengar kalau pengucapan janji sudah dimulai.

Aku segera berlari ke dalam dan melihat ada wanita lain yang bersanding dengan calon suamiku. Mereka telah selesai berikrar dan kemudian si pria melihat ke arahku “tidak baik loh menggunakan pakaian yang sama dengan pengantin wanita” ucapnya di hadapan para tamu.

Mereka langsung menoleh dan melihat ke arahku. Aku hanya berdiam di tempatku sambil menahan tangis ketika mereka semua mulai berbisik membicarakanku. Pria yang seharusnya menjadi calon suamiku mendekat kemudian berbisik di telingaku “aku tidak terima penolakan apa pun” katanya.

Seketika aku teringat kalau aku pernah menolak lamarannya dan ia sengaja mendekatiku untuk membalas dendam karena itu. Wanita yang menjadi istrinya pun terlihat bingung ketika aku datang menggunakan gaun pernikahan yang sama dengannya terlebih ketika pria itu menghampiriku dan berbisik.

Perlahan aku melangkah mundur dan memasuki mobil mewah yang tadi kutumpangi. Ia mengantarku kembali ke apartemen dan aku mulai menangis di sana. Aku bersyukur ibuku sedang berada di rumah sakit dan tidak ikut dipermalukan. Aku menangis dan mengatur perjalananku kembali ke negara yang kutinggali bersama ibu.