Konten dari Pengguna

Karena Suaminya Selingkuh dengan Pria Lain, Dosenku Jatuh ke Pelukanku

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

comment
16
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. WikiMedia Common/Bizarre Love Triangle
zoom-in-whitePerbesar
Dok. WikiMedia Common/Bizarre Love Triangle

Disclaimer: Cerita ini adalah karangan semata. Bila ada kesamaan nama, waktu, tempat, profesi, dan kejadian itu bukan merupakan kesengajaan.

Cerita ini bermula sekitar 15 tahun lalu, ketika aku masih lajang dan berusia 20 tahun. Saat itu aku sedang melakukan penelitian di Indonesia bagian Timur untuk membantu seorang dosen mencari data terkait suatu hal. Dosen itu sudah berumur 45 tahun, sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak.

Hubunganku dengan dosen itu terbilang cukup baik, aku sering kali diajak untuk membantunya melakukan penelitian. Jadi, tidak heran kalau kedekatan kami seperti tidak memiliki jarak yang jauh, meski tetap ada batasan tertentu.

Suatu hari, tepatnya sehabis maghrib waktu Timur, ketika saya sedang memilih hasil penelitian di ruang tamu tempat tinggal sementara kami, dia datang menghampiriku. Kemudian duduk tak jauh dari sisiku, ia mengenakan pakaian santai layaknya berada di rumah. Meski santai, ia tetap menggunakan pakaian yang tertutup dan sopan.

Ia duduk sambil membawa secangkir teh panas di tangan kanannya. Sesekali ia menyesap teh panas itu perlahan dan memerhatikanku. “Menurutmu aku cantik engga?” tanyanya tiba-tiba sambil mengambil salah satu lembar hasil penelitian yang berserakan di atas meja.

Aku menghentikan aktivitasku dan sejenak berpikir “Aku harus menjawab apa?”, jangankan dosen apabila yang bertanya itu teman wanitaku pasti aku akan tetap bingung harus menjawab seperti apa. Baru kubuka mulutku untuk menjawab seadanya, ia pun melirikku dan menunggu jawabanku.

“Aduh, bagaimana ini,” batinku, banyak rumor wanita sangat sensitif sekali mendengar jawaban seperti ini. “Kenapa memangnya Bu?” tanyaku, aku melihat dia menghela napas panjang dan menyesap teh panasnya. Ia terlihat seperti sedang banyak masalah, "Mungkin tentang penelitian,” pikirku.

Lalu muncul pertanyaan lain, “Kalau itu benar, lalu apa hubungannya dengan parasnya cantik atau tidak?”. “Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?” tanyanya kemudian, “Cantik kok Bu” jawabku singkat.

Bukan karena aku mencari jawaban yang aman, tetapi untuk wanita yang sudah hampir menginjak kepala lima ia masih awet muda. Ia memiliki kulit sawo matang dengan mata yang indah, tubuhnya proporsional, dan berambut ikal. Kemudian ia hanya tersenyum dan menyesap kembali tehnya, “Mungkin ia tersipu dengan jawabanku,” pikirku.

Kemudian ia bercerita kalau suaminya tepergok selingkuh dengan pria lain. Aku terkejut dan ia melanjutkan cerita sambil berderai air mata. Hatinya hancur mengetahui semua itu, ia merasa kalau dirinya tidak cukup memuaskan sampai-sampai suaminya ‘berbelok’ ke arah lain.

Selama ia bercerita saya berusaha untuk tidak berkomentar tentang apa pun. Saat ini, ia sedang membutuhkan seorang teman bukan mahasiswa yang banyak bertanya hal-hal tidak penting. Ia hanya ingin didengarkan karena mungkin kejadian ini sudah ia pendam sangat lama.

Saya berusaha menghibur dan mengatakan kalau itu bukan salahnya. Memang setiap orang memiliki orientasi seksual yang berbeda dan mungkin selama ini suaminya memendam hasrat itu hanya karena ingin dianggap laki-laki normal.

Saat ini sudah banyak laki-laki yang berkeluarga tetapi memiliki penyimpangan orientasi seksual. Mereka menggunakan keluarganya hanya sebagai kedok untuk dianggap normal. Mungkin itulah yang dilakukan oleh suaminya.

Ia mengatakan alasannya sering melakukan penelitian, selain memang kebutuhan tetapi juga untuk menyibukkan diri agar tidak selalu teringat dengan masalah ini. Ia mengajakku karena aku laki-laki yang ia anggap memiliki pemikiran yang bijak hingga suatu saat ia bisa meminta saran dariku, seperti saat ini.

Sejak kejadian itu, kami sering bertukar cerita. Terlebih saat itu kami sedang jauh dari rumah dan membutuhkan teman cerita agar tidak jenuh menghadapi penelitian yang sedang kami kerjakan.

Berminggu-minggu berada di Indonesia Timur membuat kami menjadi saling mengenal kehidupan dan karakter satu sama lain. Sekembalinya kami ke kota asal, aku kira semua akan kembali normal tapi ternyata hubungan itu masih berlanjut.

Kami menjadi teman curhat rahasia, saling mengirim pesan Whatsapp, dan sesekali berkencan di mal. Karena terlalu sering bercerita dan mengenal kepribadian masing-masing, perasaan antara dosen dan mahasiswa itu luntur perlahan. Semua berganti dengan rasa nyaman dan kasih sayang.

Saat berada di tempat umum, kami tidak malu untuk berpegangan tangan. Kami merasa nyaman saat kami memiliki satu sama lain. Tidak peduli berapa banyak pasang mata yang melirik ke arah kami saat sedang berpegangan tangan.

Bertahun-tahun hubungan ini kami jalani dengan sangat baik hingga suatu malam ia menghubungi aku dan bertanya “Aku boleh ke kosan kamu?”. Suaranya parau sekali, sepertinya ia habis menangis semalaman.

Benar saja, ketika ia sampai di kosanku wajahnya penuh lebam dan sudut bibirnya berdarah. “Kamu kenapa?” tanyaku, ia menjawab hanya dengan tangisan. Aku memeluknya dan berusaha menenangkannya terlebih dulu.

Setelah tangisannya mereda, aku obati semua lukanya. Kemudian ia mulai bercerita kalau ia meminta cerai kepada suaminya. Ia sudah lelah melihat suaminya berselingkuh dengan banyak pria.

Aku menatapnya dengan perasaan iba, ia tidak hanya sakit hati tetapi juga kaget dengan orientasi seksual yang menyimpang seperti itu. Pernah suatu kali ia meminta suaminya untuk berhenti, tetapi tidak mau. Akhirnya, ia meminta cerai dan inilah jawabannya.

Ia tidak hanya luka fisik tetapi juga luka batin. Setelah selesai mengobati lukanya, aku memeluknya dan ia kembali menangis terisak dipelukkanku. Aku sangat nyaman dengannya, bukan karena menginginkan uang atau nilai tambahan tetapi ada perasaan tersendiri ketika membicarakan banyak hal.

Ia pun tidak memberikan uang atau nilai tambahan. Ia sangat paham kalau aku mengkhawatirkan hal yang lebih besar ketimbang keduanya. Beberapa tahun kemudian, mereka resmi bercerai.

Satu tahun sebelum perceraiannya, aku dan dia memutuskan hubungan kami. Tepatnya, setelah tujuh tahun menjalani hubungan tidak biasa ini. Setelah perceraiannya, komunikasi di antara kami masih baik. Ia memutuskan untuk tidak menikah lagi hingga saat ini dan saya pun masih melajang.

Kami saling mendukung keinginan satu sama lain. Aku mendukungnya untuk meneruskan gelar profesor, ia mendukungku untuk meneruskan S3 dan menjadi dosen di perguruan tinggi yang sama.

Sumber: https://id.quora.com/Apakah-ada-yang-pernah-menjadi-selingkuhan-dosen/answers/202447868?ch=10&share=d2ec6852&srid=uC0h00