Keluargaku Hancur karena 4 Wanita yang Jadi Selingkuhan Ayahku

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini adalah karangan semata. Bila ada kesamaan nama, waktu, tempat, profesi, dan kejadian itu bukan merupakan kesengajaan.
Sudah 18 tahun, ibu selalu bercerita tentang asmara ayah dengan wanita lain. Awalnya aku hanya menyangka kalau itu adalah kecemburuan sepihak saja, tetapi ibu tetap meyakinkanku kalau ayah sering ‘menyeleweng’ dengan wanita lain. Terutama dengan rekan kantornya.
Sampai suatu ketika ibu menyuruhku menguping pembicaraan ayah dengan salah satu penelpon. Waktu itu 1997, kami hanya memiliki telepon rumah, jadi mau tidak mau semua pembicaraan dapat terdengar oleh siapa pun.
Untuk penelpon yang katanya dari kantor itu durasinya cukup lama, topik yang dibicarakan cukup mesra. Dari situlah aku mulai mempercayai semua cerita ibu. Entah bagaimana kelanjutan dengan wanita di telepon waktu itu, pada 2013 ayah selingkuh lagi dengan teman sekantornya.
Inisalnya Y, ayah sering cerita pada ibu soal Mba Y tentang pekerjaan bahkan katanya sampai pulang bareng karena rumahnya searah. Ibu juga sempat dikenalkan dengan Mba Y ini, bahkan bertemu beberapa kali.
Dari informasi tersebut, iam-diam rupanya ibu sering menunggu di persimpangan jalan tempat ayah dan Mba Y berpisah. Ibu sudah geram dengan kelakuan ayah, mungkin kelihatannya saja tegar tetapi siapa yang tahu hati seorang istri? Memergoki suaminya selingkuh dua kali.
Suatu pagi, ibu memaksaku untuk ikut dengannya. Mengajakku ke tempat biasa ibu menunggu ayah. Berulang kali aku bertanya untuk apa datang ke sini? Berulang kali pula ibu hanya menjawab, “Nanti juga kamu tahu”. Jawaban itu membuatku semakin penasaran dan memandangi persimpangan jalan.
Rupanya ibu benar, tak menunggu lama kami melihat ayah dengan Mba Y. mereka memang pulang bersama, namun sepertinya ada yang janggal. Ayah merangkul Mba Y mesra sekali layaknya kekasih. Mereka turun dari bus dan pergi ke restoran cepat saji di dekat sana.
Aku melirik ibu, wajahnya sudah merah padam. Aku mengerti jika ibu ingin memaki dan mempermalukan ayah di depan umum karena ini bukan kali pertama ayah selingkuh. Bahkan kali ini, ibu tahu bagaimana rupa selingkuhannya itu.
Mba Y memang menawan meski sudah berumur, tetapi ia jauh lebih tua daripada ibu. Entah apa yang ada dipikirkan ayahku, usia dia jauh lebih tua dibandingkan ibu tetapi malah memilih dirinya. Aku berani bertaruh Mba Y pasti sudah berkeluarga bahkan mungkin memiliki cucu.
“Ibu tidak apa-apa?” tanyaku, ibu diam tidak bergeming.
“Ayo! Ibu sudah gerah melihat kelakuan ayahmu!” hardik ibu.
“Jangan diselesaikan di sini Bu, lebih baik selesaikan di rumah saja, malu kalau dilihat banyak orang” jawabku berusaha menenangkan ibu.
“Untuk apa? Biar saja wanita itu dan ayahmu malu!” bentak ibu.
“Sudah kita selesaikan saja di rumah ya Bu” jawabku tenang sambil memeluk kedua bahunya.
Aku merasa sangat kasihan kepada ibuku, ia tidak bahagia di pernikahannya. Memiliki suami yang tak ada bosan menyelingkuhi ibuku. Ibu menarik tanganku menuju restoran cepat saji itu. Aku sudah takut ibu tidak mengindahkan kata-kataku. Tetapi ternyata, ibu menarikku hanya sampai di parkiran saja, kami menunggu tepat berseberangan dengan mulut pintu restoran.
Ketika ayah keluar dengan Mba Y sambil berangkulan. Mereka mematung, ayah menghampiri ibu “Ayo pulang” katanya sambil berbalik pergi, Mba Y berusaha tersenyum dan pamit. Ia menebalkan muka karena kadung malu kepada ibuku, setelah ia pergi kami pun jalan menuju rumah.
Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan apa pun. Suasananya tegang dan jelas terlihat ibu menahan amarahnya kuat-kuat. Sesekali aku rangkul ibu dan mengelus pundaknya.
“Sabar ya bu, setidaknya ibu punya anak-anak yang sayang sama ibu” bisikku. Ibu hanya menoleh dan menatap mataku dalam-dalam.
Matanya sudah berbinar menahan air mata, kami pulang berjalan kaki menyusuri jalan besar dan berusaha bersikap normal seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin bagi mereka yang melihat keluargaku berjalan bersama dan melihat ayah masih mengenakan pakaian kerja pasti akan menganggap kalau keluarga kami harmonis hingga ayah pulang saja harus kami jemput.
Kenyataan sebenarnya, jauh lebih pahit dari itu. Sesampainya di rumah, perdebatan pun dimulai. Ibu tidak peduli seberapa lelah ayah selepas bekerja, ia sudah melakukan yang terbaik menahan amarahnya ketika mengetahui ayah untuk kedua kalinya berselingkuh.
Perdebatan panjang nan hebat tidak terhindarkan. Ayah yang jelas-jelas salah malah lebih keras dibandingkan ibu. Hasil akhirnya? Lagi-lagi ibu memaafkan kesalahan ayah. Aku yang melihatnya saja tidak terima dengan keputusan ibu, tapi itu dibuat karena memandang anak-anaknya.
Setelah perdebatan panjang, ayah tetap bersama dengan Mba Y. Ia mengganti kata sandi ponselnya agar tidak dilihat oleh ibu. Saat itu ponsel ayahku BlackBerry, tiba-tiba ia meng-update status “menghitung hari”, rupanya itu ditujukan untuk Mba Y.
Dalam beberapa hari, Mba Y akan pensiun dan ayah merasa kesepian karena ditinggal olehnya. Beberapa bulan berlalu, sepertinya ayah tidak kehabisan cara untuk menyakiti hati ibu. Ia bermain Facebook dan berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja dia Mba L.
Mba L ini tinggal berbeda kota dengan ayah, tetapi ayah sudah keburu kecantol olehnya. Mba L ini cukup berani, ia meminta untuk menjadi teman di Facebook dan meminta pin BBM ibu. Setelah ibu berikan, ia mengirimkan pesan “Selamat malam Mba, maaf saya hanya ingin memberitahu bahwa saya dan suami Mba hanya berteman, tidak lebih dari itu. Saya harap pertemanan kami tidak membuat isu di keluarga Mba. Terima kasih”.
Melihat pesan itu, ibu geram bukan main. Beberapa hari lalu ayah membeli sebuah ponsel BlackBerry baru dan cerobohnya dibawa ke rumah dengan alasan itu adalah milik kawannya. Istri kawannya akan menikah dan ponsel itu sebagai hadiahnya, “kejutan untuk istrinya” kata ayah.
Ibu hanya berpura-pura memercayai kata-kata ayah, diam-diam ibu menyuruhku untuk menyalin pin BBM tersebut. Benar saja, ketika Mba L mengirimi ibu pesan ternyata pin itu sama persis yang berarti ayah memberikan ponsel itu kepada Mba L.
Aku tebak hubungan mereka tidak berjalan lama karena memang jarak antarkota tempat Mba L tinggal dengan ayah cukup jauh. Mereka hanya bertemu seminggu sekali dan mungkin itulah yang membuat ayah gerah karena tidak bisa sering-sering berkencan.
Sudah tiga wanita yang ayah kencani, tetapi ibu terus-menerus memaafkannya atau bahkan cenderung tidak peduli? Aku tidak tahu yang jelas semua itu berpuncak ketika ayah naik jabatan pada 2017 lalu.
Ayah diangkat menjadi petinggi perusahaan yang membawahi beberapa kantor cabang. Kenaikkan jabatan tersebut membuat ayah diberi fasilitas berupa mobil dan supir. Jika saat memegang jabatan biasa saja ayah sudah berani membelikan barang untuk selingkuhannya, lalu bagaimana saat sudah memegang jabatan penting?
Kelakuan ayah semakin di luar batas, ia mengencani seorang wanita bernama D. wanita ini yang mengancam keutuhan rumah tangga ibuku setelah sekian lama memendam hasrat ingin berpisah. Entah ayah mengenal Mba D dari mana, tetapi pada 2018 ibu sudah mulai curiga karena ayah jarang sekali buka puasa di rumah.
Ayah ada di rumah hanya Sabtu dan Minggu. Ibu mengecek ponsel ayah yang saat itu sudah tidak diberi kata sandi. Ibu menemukan banyak pesan dari Mba D, dari sanalah ibu tahu bahwa ayah sudah lama menjalin kasih dengannya.
Ayah dan Mba D sudah memiliki panggilan “mama-papa”, jijik sekali aku mendengarnya. Aku tidak membayangkan betapa remuk hati ibu saat membaca setiap pesan yang Mba D kirimkan untuk ayah. Pasti sakit sekali.
Mba D sering sekali dikirimi uang oleh ayah, untuk sekali pergi nonton bioskop ayah mengirimi uang 500 ribu. Sedangkan ketika aku, ibu, dan kedua saudaraku berada di Jawa Timur ayah mengirimkan jumlah yang sama untuk tiga hari.
Ketika anak Mba D telat bayaran sekolah, ayah dengan sigap langsung mengiriminya uang bahkan saat kuota Mba D habis ayah memberikan 200 ribu. Mba D sering kali minta diantar-jemput oleh sopir ayah, sedangkan ketika ibu memiliki sakit telinga ayah seolah tidak peduli, ia sering membentak dan menyuruh ibu melakukan banyak hal.
Aku dan kedua saudaraku rela tidak makan saat sekolah juga kuliah selama dua minggu untuk membawa ibu ke rumah sakit. Bahkan saya menjual jasa untuk mengerjakan tugas dan catatan ke teman-teman saya. Saat ibu dibawa ke rumah sakit, ayah ada di sana dan bertanya “pakai uang siapa?”, kami tidak menjawab dan kemudian “kenapa tidak pakai BPJS saja?” tambahnya.
Mendengar kata-kata itu keluar rasanya aku ingin marah sejadi-jadinya. Aku ingat sekali waktu itu aku SMP dan sedang terbaring di kamar tidak bisa melakukan apa-apa, untuk makan pun sulit karena terus dikeluarkan.
Ternyata aku sakit tifus dan anemia hampir tiga minggu, ibu bersusah payah meminjam uang ke sana-sini hanya untuk membawaku ke rumah sakit. Sedangkan ayah? Ia hanya bertanya tanpa berbuat apa-apa “suruh makan, suruh minum obat, paksa aja kalau tidak mau” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Saat itu aku baru tahu, selama 23 tahun menikah ibu tidak pernah tahu berapa gaji ayah. Setiap ibu bertanya, ayah selalu menjawab dengan nada kasar “mata lu ijo liat duit”. Hubungan ayah dengan Mba D baru berakhir ketika pada akhir 2018. Itu disebabkan karena Mba D terkena pengurangan karyawan dan pada awal 2019 ayah dan teman-temannya terlibat satu kasus dan terancam di PHK.
Pada Februari, ayah resmi menjadi pengangguran dan Mba D? Dia menikah dengan pria lain. Setelah di PHK hidup kami berantakan, utang di sana-sini, belum lagi cicilan mobil dan kartu kredit yang baru lunas pada November mendatang.
Kakakku dengan sangat terpaksa mengurungkan niat untuk menjadi sarjana tahun ini, aku pun juga memendam mimpi agar bisa kuliah karena kenyataannya keluarga kami sudah tidak mampu. Uang yang diterima hanya untuk membayar cicilan mobil dan kartu kredit.
Ketika uang pesangon sudah habis, ibu kembali bersusah payah mencari pinjaman ke sana-sini. Sering kali mereka bertengkar karena bingung harus meminjam uang ke siapa lagi. Pernah suatu hari kami makan satu piring berempat dan menambahkan nasi dengan penyedap agar lebih gurih.
Hubungan ayah dengan istri dan kedua anaknya sudah tidak ada bedanya. Kami tidak dekat bahkan saya cenderung membenci ayah. Ketika senang kami dibuang dan saat susah ibuku juga yang harus menanggungnya. Aku kasihan sekali pada ibu dan berharap bisa membahagiakannya.
Sumber: https://id.quora.com/Apakah-ada-orang-yang-sukses-menghancurkan-keluargamu/answers/179360955?ch=10&share=a9945d2c&srid=uC0h00
