Konten dari Pengguna

Lama Menghilang Ternyata Dia Sudah Bersama yang Lain

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pixabay.com

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Sejak kejadian hari itu aku tidak mau lagi percaya dengan hubungan jarak jauh. Cukup menyakitkan rasanya delapan tahun hubungan itu kubina dengan penuh kepercayaan dan kesetiaan tapi yang kuterima hanya rasa sakit.

Aku dan Daniel berteman sudah sangat lama, mungkin sejak SD kelas lima seingatku. Saat itu aku baru pindah ke Pekanbaru karena papa mendapat mutase kerja di sana, aku tidak mengenal siapa pun lalu ada seorang anak kecil kurus dan bermata sipit menghampiriku. “Halo, kamu si anak baru yang baru pindah ya? Kenalin namaku Daniel” ucapnya dengan nada gembira, aku tidak menyangkan kalau ada anak laki-laki yang seramah itu padaku.

Dulu aku selalu berkepang dua, entah mengapa mama selalu mengepang rambut panjang ikalku saat itu. Rambut ikalku dibiarkan oleh mama hingga panjang sepantat lalu dikepang dua menggunakan kunciran dengan hiasan buah. Aku ingat sekali, anak laki-laki kurus bernama Daniel itu menghampiri pada saat istirahat. Kalau membahas hari itu rasanya dunia masih sangat baik dan polos.

Kedekatan kami terus berlanjut karena ternyata aku dan Daniel tinggal di komplek rumah yang sama, hanya berbeda dua rumah. Aku dan Daniel memang mengambil sekolah lanjutan yang berbeda tetapi dia selalu datang ke rumahku setiap sore, entah itu untuk memberi makan ikan koi milik papa atau hanya bercerita tentang khayalan masa kecil. Namun rutinitas sore itu tidak pernah berhenti hingga kami kuliah, itu pun harus terpisah karena Daniel mengambil beasiswa untuk meneruskan studi di Jepang sedangkan aku tetap di Indonesia, tepatnya di Malang.

Malam sebelum Daniel berangkat ke Jepang, papa dan mama membolehkan ia untuk menginap di rumah dan saat itulah hubungan percintaan kami dimulai. Semua bermula dari nostalgia masa SD yang berujung pada pengungkapan rasa cinta, aku tidak tahu apakah perasaanku pada Daniel adalah cinta atau bukan? Tetapi yang pasti aku tidak ingin kehilangan dia, aku tidak ingin melihat dia tertawa bersama wanita lain. Wanita itu harus aku dan selalu aku.

Hari pertama kami menjadi sepasang kekasih dimulai dengan Skype dari dua negara yang berbeda. Satu di Indonesia dan satu lagi di Jepang, baru pertama kali aku merasa sangat merindukan Daniel karena setiap sore dia sudah berada di kamarku tanpa terlewat. Sesibuk apa pun Daniel, dia pasti akan menyempatkan untuk datang ke kamarku walau hanya sebentar dan saat itu aku benar-benar harus tenggelam dalam kebiasaan itu sendirian.

Dua tahun pertama terasa sangat berat, aku tidak bisa memeluk atau bermanja-manja pada Daniel seperti biasanya. Marah-marah tidak jelas sering kali kulampiaskan pada Daniel tapi dia hanya menanggapinya dengan tawa atau malah balik meledekku “kangen ya?” ucapnya. Aku dan Daniel rela menghabiskan waktu hingga berjam-jam hanya untuk melepas rindu, ketika jadwal dia pulang aku dengan gesit menjemputnya di bandara bersama papa-mamanya.

Kami sedekat itu? Tentu saja. Empat tahun aku melakukannya dan ketika studinya sudah selesai Daniel malah memperpanjang masa itu dengan mengambil S2 di sana sambil bekerja. Mulanya aku merajuk, meminta dia untuk melakukannya di Indonesia tetapi dia meyakinkan kalau ilmu sekaligus budaya di sana lebih membuat dia disiplin untuk bekerja. “Aku akan kembali padamu setelah semua ini selesai, atau kamu yang akan menyusulku ke sana? Kita tinggal di Jepang dan akan aku tunjukkan padamu tempat mana saja yang bagus” ucapnya.

Sejak hari itu sebelum lulus kuliah aku gencar mencari pekerjaan apa pun yang uangnya bisa kutabung dan setelah lulus aku mengambil kerja penuh untuk menabung lebih banyak lagi. Kami tetap berkomunikasi seperti biasa, menghabiskan malam-malam hanya dengan melihat wajah masing-masing sambil bercerita tentang kejadian hari itu. Daniel sering kali mengirimkan post card dengan gambar yang sangat bagus dari berbagai daerah di Jepang, kalimatnya pun sangat memotivasiku untuk segera menyusulnya ke sana.

Tahun demi tahun mulai terlewati dengan baik, tidak sesulit dua tahun pertama tapi masih terasa sangat sulit bagiku. Ketika Daniel kembali, rasanya aku ingin mengunci pintu kamar selama berhari-hari agar dia tidak pergi ke mana pun tapi aku sadar kalau dunianya bukan hanya tentang aku. Ada keluarga dan teman-teman yang juga rindu padanya meskipun dia akan selalu menemuiku pertama kali dibandingkan yang lain.

Aku bersyukur setelah lulus kuliah, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang mengharuskan kami menguasai beberapa bahasa di antaranya Bahasa Jepang. Banyak sekali klien-ku yang merupakan orang Jepang dan sesekali kami bertukar cerita tentang bagaimana kehidupan di sana, mereka menyarankan agar aku mengambil sebuah program yang menukar pegawai dari negara yang berbeda untuk bekerja di sana.

Kupikir itu adalah ide yang menarik, aku bisa menyusul Daniel tanpa harus mengeluarkan uang pribadiku. Semua biaya dan akomodasi akan ditanggung perusahaan, belum lagi pengalamanku bekerja di Jepang yang tentu saja akan membuat portofolio-ku semakin bertambah. Jadi saran itu, kuterima dengan baik dan aku langsung mencari tahu apa saja persyaratan yang harus dipenuhi.

Setelah semuanya lengkap aku tinggal menunggu seleksi perusahaan, aku tidak memberitahu Daniel tentang hal itu. Aku ingin semuanya menjadi kejutan saat aku bisa berhasil ke sana dengan jerih payahku sendiri, “dia pasti bangga apalagi aku menyusulnya tanpa mengeluarkan biaya” pikirku. Dalam bayangku sudah banyak sekali tempat-tempat indah yang akan kami datangi saat pekerjaan sedang senggang “pasti romantis” batinku.

Enam bulan lebih aku menyiapkan segalanya, berkas, bahasa, lulus ujian tertentu. Semuanya kupersiapkan dengan baik agar aku lolos seleksi untuk bisa pergi ke Jepang menyusul pujaan hatiku. Banyaknya bulan dan usaha yang kutempuh ternyata tidak sia-sia, mereka menunjukku sebagai perwakilan Indonesia untuk bekerja di perusahaan inti di Jepang. Aku sangat bahagia sekali, Daniel selalu menanyakan kenapa wajahku terlihat berseri-seri saat kami Skype tapi tidak pernah satu patah kata pun aku mengatakannya.

Aku menyimpan semua kebahagiaan itu untuk kurasakan di sana bersamanya. Akhirnya jadwal keberangkatanku pun tiba, aku menghilang dari Daniel selama beberapa waktu untuk mempersiapkan sisanya. Mengepak banyak baju, dokumen pekerjaan, dokumen pribadi, dan lain-lain sementara Daniel sibuk mengirimiku pesan karena tidak muncul selama satu minggu. “Sebentar lagi kita akan ketemu” pikirku, selama di perjalanan menuju Jepang perutku rasanya tak karuan.

Aku memegang semua alamat tempat tinggal Daniel, jadi kupikir aku akan pergi ke sana sebelum menempati rumah tinggalku. Namun sesampainya di bandara, aku melihat Daniel sedang melepas kepergian wanita lain berambut pirang. Mereka berpelukan, berciuman, seolah tidak ingin terpisahkan persis seperti aku dulu saat melepas kepergiannya di dalam kamarku. Tak sadar mataku tak berhenti menatap kemesraan mereka hingga akhirnya Daniel tersadar dan balik menatapku.

Wajahnya sangat terkejut. Air mataku mulai mengalir merasakan sesak yang menghantam dadaku tanpa ampun. Aku segera pergi mencari taksi untuk langsung menuju rumah yang disediakan oleh perusahaan, sepanjang jalan aku hanya bisa menangis karena masih terlihat jelas bagaimana mesranya Daniel memeluk wanita itu dari belakang. Mencium rambutnya, berbisik di telinganya sambil tertawa pelan. Hatiku sakit, rasanya perjuanganku untuk menyusulnya terasa sangat sia-sia.

Aku rasa supir taksi itu kebingungan karena aku menangis di sepanjang jalan hingga akhirnya mobil itu berhenti di depan bangunan yang persis seperti di dokumenku. Supir itu membantuku membawa koper-koper besar ke dalam rumah lalu aku sangat terkejut saat melihat jumlah yang harus kubayar. Seketika aku teringat kalau tidak seharusnya aku menjegat taksi karena rumahku berada di daerah yang berbeda dengan bandara.

Setelah selesai membantuku memasukkan koper ke dalam rumah, dia pergi meninggalkan aku sendirian di dalam rumah kosong. “Kenapa aku harus di sini? Sia-sia saja perjuanganku menyusulnya ternyata dia sudah bahagia dengan wanita itu” ceracauku terus-menerus. Untung saja aku mengambil waktu keberangkatan dua minggu sebelum agenda kerjaku dimulai karena kupikir aku akan menghabiskannya bersama Daniel tapi ternyata kenyataan berkata lain.

Dua minggu di negara orang aku justru harus beradaptasi dengan rasa sakit dan kecewa sebelum memulai pekerjaan baru. Bulan demi bulan aku masih berjuang dengan rasa sakitku dan selama dua tahun aku berada di Jepang tak pernah sekalipun kami bertemu. Ketika kembali ke rumah, aku memilih untuk dimutasi ke Jakarta dan menghilang dari semua bayang-bayang Daniel yang selama ini terasa sangat indah. Bagiku apa yang kulihat di bandara saat itu sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi selama dia berada di Jepang tanpa aku. Rasa sakit yang sudah kuterima benar-benar tidak akan pernah terlupakan. Aku ingin hidup bahagia dan memulai hidup baru di kota yang baru.