Konten dari Pengguna

Mama Tiriku adalah Sahabatku

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pixabay.com

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Anak mana yang tidak ingin melihat kedua orang tuanya utuh hingga mereka tua dan dipisahkan hanya oleh maut? Aku rasa itu adalah impian semua anak di dunia. Namun terkadang ada banyak hal yang tidak bisa dimengerti bahkan oleh anak yang sudah beranjak dewasa sekalipun. Atau mungkin pikiran para pria memang tidak bisa ditebak dan tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki?

Naas rasanya melihat pernikahan yang telah dibangun dan dijaga oleh mama selama dua puluh sembilan tahun harus kandas hanya karena orang ketiga. Lebih sakit hati karena orang itu adalah teman kecilku sendiri. Entah apa yang ada di pikiran papa sampai mau berhubungan dengan seorang wanita yang seusia dengan anaknya sendiri. Apa dia tidak ingat dengan perjuangannya mendapatkan mama dulu?

Tiga tahun silam aku melihat mama menangis di dalam kamar yang gelap. Saat itu tengah malam, sebenarnya ada rasa takut untuk memeriksa kamar mama tapi dari suara tangisannya aku sangat mengenali kalau itu suara mama. Aku memberanikan diri membuka pintu perlahan sambil tetap menyiapkan diri kalau-kalau buka mama yang kulihat. Pintu itu terbuka dan perlahan cahaya dari luar mulai menyelinap masuk ke dalam ruangan yang gelap.

Di seberang kamar, tepatnya di bawah jendela aku melihat seorang wanita terduduk lemas dengan pakaian tidurnya. Segera kunyalakan lampu dan melihat mama sedang menangis hingga pucat pasi, “Maa..Maa..Mama kenapa?” panggilku sambil mengguncang tubuhnya kencang-kencang tapi ia tak juga menjawab. “Maaaaa” suaraku mulai meninggi karena panik, “Din kalau Mama mati kamu harus jaga adik-adikmu ya” ucapnya dengan lirih, “Mama ngomong apa sih! Ayo bangun jangan di lantai seperti ini” sahutku.

Tak lama kedua adikku datang dengan wajah baru bangun tidur, “ada apa sih?” Tanya Dea si bungsu, “De tolong ambilkan Mama air putih” pintaku dan setengah sadar ia berbalik pergi ke dapur untuk mengambilkan minum. Aku dan Indra membopong mama hingga terlentang di atas kasur, kami mencuri pandang seolah mengobrol hanya dari tatapan mata dan tak lama Dea datang membawa segelas air putih. “Nih Ma” ucapnya yang sekuat tenaga membuka matanya, “makasih De” jawabku yang memberikan mama minum perlahan.

Selepas minum mama tertidur pulas, mungkin dia lelah karena nangis entah berapa lama. Aku dan Indra menjaga mama di kamar sambil menerka-nerka apa yang membuat mama menjadi seperti ini. Kami periksa semua kamar bahkan ponselnya tapi tidak menemukan apa pun. Malam itu kami buntu dan hanya menunggu hingga mama terbangun lalu menceritakan segalanya yang tidak pernah terjadi sampai kapan pun.

Papa dan mama masih terlihat mesra seperti biasanya, jadi kupikir bukan permasalahan rumah tangga mereka. Aku selalu memerhatikan setiap gerak-gerik mama kalau-kalau ada sesuatu yang janggal dan berusaha ia sembunyikan dari kami. Hal yang paling kutakutkan adalah kalau mama mengidap suatu penyakit dengan intensitas kematian yang tinggi, aku belum siap kehilangan mama. Aku tidak mau mama menghadapi ketakutan itu sendirian, dia harus tahu kalau dia punya kami.

Tiga tahun berlalu, kejadian itu masih melekat erat diingatanku dan Indra karena mungkin hanya kami yang sudah cukup besar. Semua terlihat biasa saja, normal seperti dua puluh tiga tahun aku hidup bersama mereka. Tak ada yang mencurigakan. Hingga suatu hari aku tak sengaja bertemu papa di sebuah kafe tempat biasa aku dan teman-teman mengerjakan tugas kuliah. Kafe itu memang sedang tren dan pemiliknya adalah salah satu dari temanku, Angga.

Hampir setiap hari aku nongkrong di sana, jadi aku tahu betul pelanggan setia mereka dan hari itu aku bertemu papa. Ia sangat terkejut saat melihatku yang berteriak histeris saat melihat ke arahnya, “Papa sedang apa di sini?” Tanyaku, “lah ini mah kafe anak muda ya Tan, Papa kira bisa untuk meeting. Tadi teman Papa shareloc di tempat ini” jawabnya, “haha engga Pa ini kafe-nya Angga, tuh dia ada di sana. Papa mau pesan apa? Biar aku bilang sama Angga” ucapku, “engga usah deh Tan, Papa keluar aja. Malu di sini diliatin banyak orang, mungkin teman Papa salah kirim lokasi kali ya nanti Papa telepon dulu deh” sahutnya.

“Oh yauda Pa, tapi Intan di sini yaa mungkin sampe jam sepuluh malam” timpalku, “oke jangan pulang malam-malam ya, nanti pulang diantar siapa?” Tanya papa, “belum tahu, nanti aku kasih tahu Papa” jawabku, “oke, Papa keluar dulu ya. Kamu baik-baik di tempat orang” tambahnya. Aku melihat papa keluar dari kafe dan mengeluarkan ponsel, mungkin untuk menghubungi temannya karena tak lama ia pergi menuju mobilnya lalu menghilang entah ke mana.

Dua bulan kemudian aku berpapasan dengan Bunga di sebuah mal besar di Jakarta, ia terlihat rapi dan cantik seperti yang kuingat dulu. Bunga adalah teman SD-ku, sedari dulu ia memang terkenal cantik di kalangan para pria. Tubuhnya sekal, tinggi semampai, rambut ikalnya tak pernah sekalipun terlihat pendek berwarna cokelat kemerahan. Matanya yang bulat dengan bulu mata lentik rasanya tidak akan pernah puas untuk memandangi seluk-beluk sudut pandangnya.

Bunga adalah anak dari pasangan internasional, tidak heran kalau dia cantik luar biasa. Saat bertemu dengannya aku dan Bunga bak orang yang tak pernah bertemu selama ratusan tahun, heboh, senang, tapi samar terlihat kikuk. Kami berbincang sebentar, bertukar nomor kontak lalu melanjutkan urusan masing-masing. Semua terlihat normal sampai di hari yang sama aku melihat papa merangkul Bunga dengan mesra menuruni tangga escalator.

Kupicingkan mataku untuk melihatnya lebih jelas, itu memang papa! Mereka sepertinya pergi menuju tempat parkir. Aku memotret mereka dengan cepat lalu mengirimkannya pada Indra, aku berusaha bersikap normal agar teman-temanku tidak curiga dengan apa yang sudah kulihat. “Aku harap mereka tidak melihat apa yang sudah kulihat” batinku, aku dan Indra heboh bukan main hingga akhirnya kami sepakat untuk mengadukan hal ini pada mama.

Butuh waktu tiga hari untuk aku dan Indra menyiapkan diri menunjukkan hasil foto itu pada mama. “Ma, ada yang mau Intan sama Indra omongin sama Mama” ucapku saat kami masuk ke dalam kamarnya, kebetulan papa tidak ada di rumah sudah beberapa hari “apa? Kok kalian kaya ketakutan gitu?” Tanya mama, “tapi Mama janji jangan marah sama kami ya” jawabku, “kalian bikin salah apa? Membahayakan? Jangan bikin Mama takut begitu dong ah” timpalnya kesal.

Indra kemudian menunjukkan foto yang kuambil beberapa hari lalu dan dari raut wajah mama sepertinya dia sudah tahu tentang hal itu. “Mama mau bicara sama kalian” ucapnya sambil mengesampingkan ponselku, “kalian tidak salah, apa yang kalian lihat itu benar adanya. Papa memang menjalin hubungan dengan wanita bernama Bunga dan saat itu Mama sangat terkejut hingga rasanya dunia Mama hancur berkeping-keping. Berhari-hari Mama menangis dan ingin menyudahi hidup tetapi keesokan harinya saat Mama melihat wajah kalian, keinginan itu hilang begitu saja” ucapnya.

Tiga tahun lalu, saat aku menemukannya menangis hingga pucat adalah momen di mana mama tahu tentang hubungan papa dan Bunga. Aku sangat salut karena mama dengan rapi menutup semua masalah seolah tidak terjadi apa-apa. Mama masih mau bermesraan dengan papa meski hatinya sedang hancur tak karuan, selama kami hidup tak pernah sekalipun kami melihat mereka bertengkar hebat. Aku dan Indra sangat terpukul mendengar cerita mama kalau ternyata sudah lima tahun mereka menjalin hubungan, mama tahu saat memasuki tahun ketiga.

Pandai sekali papa memainkan peran dan menutupi boroknya. “Bunga itu teman kecilku Ma, kenapa Papa tega berhubungan dengan wanita seusia anaknya? Kenapa Bunga tega melakukan ini padaku Ma?” Tanyaku yang kini sudah berlinang air mata. Kini aku tahu rasanya, mungkin tidak sebesar mama tapi aku tahu rasanya dikhianati oleh orang yang kita sayangi dan percaya. Hatiku hancur, papa adalah cinta pertamaku dan ia tak pernah cacat sedikit pun di mataku tapi semuanya seolah ia hancurkan begitu saja dengan mudah.

“Mama tahu, tapi kamu harus kuat Intan. Ini pilihan hidup seseorang, kamu tidak bisa memaksakan semua harus sesuai dengan keinginanmu. Mama pun tidak bisa memaksakan diri Mama untuk bertahan pada seseorang yang tidak mau mempertahankan Mama lagi” ucapnya. “Apa maksud Mama?” Tanya Indra, “Bunga sudah hamil Intan, sudah memasuki enam belas minggu. Papa tidak mungkin membiarkan wanita itu sendirian” jawab mama, “hah? Bunga hamil? Sama Papa?” Tanyaku yang masih tidak percaya.

Mama menampilkan senyum terpaksa, jauh di dalam hatinya aku tahu ia sedang merasakan sakit yang luar biasa. Rapuh tapi harus tetap terlihat kuat di mata anak-anaknya. “Mungkin minggu besok, sidang perceraian Mama dan Papa akan berlangsung” tambah mama kemudian, aku dan Indra hanya bisa bertukar pandang lesu. Aku tahu Indra sangat marah tapi ia berusaha tidak menunjukkannya depan mama, “kalian harus ikhlas ya, mungkin hanya sampai di sini batas kemampuan sabar Mama menghadapi Papa kalian” ucapnya.

“Engga, Mama hebat! Mama bisa bertahan selama ini sama Papa itu sudah sangat hebat. Mama kuat, Intan belum tentu bisa seperti Mama. Mama tidak pernah menunjukkan pertengkaran kalian di depan kami, Mama masih mau menerima perlakuan mesra Papa saat hati Mama benar-benar hancur. Mama kuat Ma, Mama punya kami” ucapku sambil memeluk mama penuh air mata. Aku tidak tega wanita kuat seperti mama akhirnya harus dikalahkan oleh wanita muda yang belum berpengalaman.

“Kalau kami sudah berpisah, kalian tetap harus baik dengan Papa dan Bunga ya. Mama tidak mengajarkan kalian untuk membenci mereka, biarlah ini urusan Mama dengan Papa. Kalian tetap harus hormat pada Papa. Indra, Mama tahu kamu marah tapi Mama mohon jangan campuri urusan Mama” ucap mama tegas pada Indra. Aku memeluk mama lagi dan lagi, begitupun dengan Indra.

Prediksi mama benar, satu minggu kemudian sidang perceraian itu berlangsung dan butuh waktu hampir enam bulan sampai semuanya benar-benar selesai. Papa meninggalkan rumah yang ditempati untuk mama dan kami, sedangkan dia membeli rumah baru bersama Bunga. Ada yang berubah antara sikapku pada papa, begitu juga dengan Indra, yang masih sama adalah Dea karena dia tidak tahu apa pun tentang perceraian atau memiliki ibu tiri.

Sekarang kedekatan papa dengan kami semakin berjarak, apalagi setelah kelahiran anak keempatnya. Jangankan menafkahi, memberi kabar pun tidak tapi aku, Indra, Dea, dan mama hidup bahagia dengan cara yang lebih sederhana. Aku dan Indra pun sudah bekerja, membantu mama untuk memenuhi semua kebutuhan hidup. Aku harap suatu saat nanti aku bisa memiliki hati setegar mama walaupun aku tidak ingin memiliki pasangan hidup seperti papa.