Om dan Tanteku Saling Mengkhianati hingga Ditipu oleh Kekasih Mereka

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Sebenarnya ini bukan kisah aku atau kedua orang tuaku. Bersyukur pernikahan mereka masih baik-baik saja hingga saat ini. Namun aku kasihan pada kehidupan saudara sepupuku, ia tidak bahagia tinggal bersama ayah-ibunya.
Mungkin ini bukan urusanku, tetapi aku menyaksikan bagaimana sandiwara keluarga mereka dimulai dan aku masih merahasiakannya. Dulu aku mengira kehidupan sepupuku, Georgia, sangatlah bahagia. Keluarga terpandang, bergelimang harta, hingga kedua orang tua yang baik dan penyayang.
Sekilas memang kehidupan Georgia terlihat sangat harmonis layaknya keluarga impian. Tetapi suatu ketika aku melihat ayah Georgia, Om Sandy, tengah memeluk wanita lain di sebuah restoran pada malam hari. Kukira aku salah orang tetapi setelah aku menegaskannya hingga berkali-kali, aku sangat yakin itu adalah Om Sandy.
Malam itu aku sangat terkejut hingga kehilangan kata-kata namun tetap saja aku tak punya keberanian untuk mengatakannya pada siapa pun, termasuk ayah-ibuku. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan keluarga lain sekalipun apa yang kulihat adalah kebenarannya. Setelah malam itu, ketika bertemu dengan Om Sandy membuat aku sedikit ada rasa canggung.
Om Sandy sangat baik padaku, beberapa kali ia membayarkan kuliah dan membelikanku laptop. Jadi aku tidak ingin membuatnya marah dengan mengatakan hal yang bukan urusanku. Beberapa hari kemudian setelah kejadian mengejutkan itu, aku kembali melihat Om Sandy memasuki hotel berbintang dengan wanita yang sama.
Sepertinya Om Sandy memang senang sekali 'bermain' di daerah universitasku. Namun lagi-lagi aku bungkam, tak ingin rasanya kubagikan berita buruk itu pada siapa pun, termasuk Georgia. Perlahan aku mulai mencari tahu siapa wanita yang bersama dengan Om Sandy hingga mereka sering kali kutemui di sekitar universitasku.
Tiga bulan mencari, akhirnya aku tahu kalau wanita itu mahasiswa di universitas yang sama denganku meski berbeda fakultas. Tak heran jika Om Sandy terlampau sering menghampirinya dan berada di sekitar universitas. Harus kuakui selera Om Sandy masih bagus meski usianya sudah tidak lagi muda.
Sarah, nama wanita itu. Ia cukup terkenal di fakultasnya karena wajahnya yang sangat menawan. Tingginya semampai dengan pinggang ramping, berdada cukup besar, proporsional! Aku membiarkan Om Sandy dengan wanita itu memiliki urusan mereka sendiri dan aku beralih dengan urusanku.
Dua bulan kemudian, Georgia bercerita padaku kalau mereka kehilangan uang sebanyak $1000 dolar. Cukup banyak untuk keluarga seperti Om Sandy tetapi sangat sangat banyak untukku. Orang tua Georgia hanya berusaha mengikhlaskannya tanpa pernah mencari tahu ke mana uang itu pergi.
Tetapi Georgia selalu mengutuk bank yang telah menghilangkan uang orang tuanya. Terkadang aku terkekeh dengan tingkahnya, kebetulan ia memang berbeda cukup jauh denganku. Jadi wajar saja jika sikapnya masih kekanak-kanakkan.
Jauh di dalam benakku, aku yakin uang itu tidak hilang melainkan berpindah tangan. Ke siapa lagi kalau bukan Sarah? Wanita secantik itu harus kuakui ia cukup mahir untuk memeras seseorang hanya bermodalkan tubuh dan wajahnya. Beberapa minggu kemudian, aku memutuskan untuk berlibur bersama teman-temanku ke sebuah pantai.
Bukannya terhibur justru kali ini aku kembali merasa terkejut. Aku melihat wanita yang tak asing buatku tengah memakai bikini sambil bercumbu mesra dengan pria. Dia adalah Tante Neila, ibu Georgia, aku hanya bisa menghela napas membayangkan betapa hancurnya hati sepupuku jika ia tahu kebenaran tentang keluarganya.
Aku bukan tipikal pria yang senang bergosip apalagi membongkar rahasia orang lain. Aku lebih suka menyimpannya dan menganalisis sendiri peristiwa itu. Jadi aku kembali bungkam, kuamati Tante Neila yang semakin hari semakin terlihat muda. Terima kasih untuk uang yang bisa memberikannya perawatan termahal dan terbaik di kota kami.
Teman-temanku asyik bermain air, sedangkan aku sibuk untuk menyembunyikan identitasku dari Tante Neila. Aku tidak ingin ketika ia melihatku suasana akan berubah menjadi canggung. Aku berhasil menyembunyikan diri dari Tante Neila di pantai tetapi sialnya kami memilih hotel yang sama.
Kamarku dan Tante Neila hanya berjarak beberapa pintu, tentu saja aku tidak akan menebak apa yang tengah mereka lakukan di dalam sana. Aku berusaha mengurung diri di kamar untuk berjaga-jaga agar Tante Neila tak melihatku. Di malam yang sama, aku menghubungi Georgia dan dia mengatakan kalau ibunya sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis.
"Benar! Bisnis personal" pikirku. Semalam suntuk Georgia meneleponku dan bercerita tentang teman-temannya yang membosankan sampai pria yang ia taksir di sekolah. Seperti wanita pada umumnya, Georgia meminta saran padaku agar ia bisa 'terlihat' di mata pria itu. Malamku berakhir dengan cerita Georgia yang kesal karena pesannya tak dibalas.
Melihat kebahagiaan sepupuku itu, aku jadi semakin merasa kasihan padanya. Tengah malam aku mendengar suara langkah dua orang di dalam lorong dan ketika mereka melewati kamarku dengan cepat aku mengenali suara Tante Neila. "Aku minta $1000 atau aku akan memberitahukannya pada suami dan anakmu" ucap lelaki itu.
Dari balik pintu aku hanya mendengar langkah Tante Neila yang dipercepat, sepertinya ia kesal dengan ancaman si pria. Lalu langkah mereka berdua hilang ketika mereka berbelok di ujung lorong. Dahiku berkerut dan berpikir keras di mana Tante Neila menemukan pria seperti itu? Jika itu memang kekasihnya, bukankah seharusnya dia bersikap jauh lebih lembut?
Tetapi malam itu kuputuskan untuk tidak terlalu memikirkannya karena kepergian Tante Neila berarti kebebasan untukku menikmati liburan. Tepatnya satu minggu setelah liburan itu, Georgia kembali menghubungiku dengan nada kesal. Ia bercerita kalau ibunya menghilangkan tas koleksi desainer seharga $1000 dolar saat 'perjalanan bisnis' kemarin.
Mendengar celoteh kesal Georgia di seberang telepon, aku hanya tersenyum tipis. "Pria itu berhasil mengancam Tante" batinku. Aku mendengarkan cerita Georgia sambil sesekali menjauhkan ponsel dari telinga ketika dia berteriak kesal. Saat itulah aku kembali terkekeh dengan tingkah lucunya sekaligus merasa kasihan karena ia hidup dalam sandiwara kedua orang tuanya.
Tiga bulan berlalu, aku kembali menemukan kebenaran secara tidak sengaja ketika aku sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Dari dalam kafe, aku melihat Sarah dan pria yang bersama dengan Tante Neila sedang bergandeng tangan mesra sambil membawa beberapa tas belanja. "Mereka ditipu" pikirku sambil kembali menyesap kopi panas yang baru saja disajikan barista.
Rahasia itu tak pernah kuungkap pada siapa pun hingga hari ini. Aku membiarkan Georgia hidup dalam lingkaran sandiwara keluarga tetapi setidaknya dengan seperti itulah dia merasa bahagia. Tak ingin aku melihatnya tersiksa hanya karena kebenaran yang kuungkapkan, kubiarkan waktu yang menunjukkan semuanya. Aku harap Georgia akan siap ketika waktu itu tiba.
