Pengangguran, Suami Malah Ada Main dengan Teman Kecilnya

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Kalau ada laki-laki yang bilang akan memperjuangkan dan bekerja giat setelah menikah, sepertinya aku tidak akan menerima cintanya. Benar kata orang, hidup di rumah tangga tidak melulu soal cinta, literan beras yang akan berbicara. Semua itu aku alami ketika masih polos menerima cinta seorang laki-laki.
Aku mengenalnya dari sebuah aplikasi cari jodoh yang saat itu memang sedang tren. Sebenarnya, aku hanya iseng-iseng untuk ‘cuci mata’ dan sekadar mengobrol untuk menemaniku mengerjakan skripsi. Ada banyak laki-laki yang mulai mengajak kenalan dan bertukar cerita.
Kebetulan aku sangat senang mendengar cerita orang lain yang nantinya akan aku tulis di dalam blog-ku. Eh ternyata aku malah kejadian pahit itu kualami sendiri. Namanya Bian, ia tinggal di kota yang berbeda denganku tetapi masih bisa ditemput satu hingga dua jam naik sepeda motor. Terbilang cukup dekat memang, awalnya aku bertukar cerita tidak hanya bersama dia, tetapi dengan banyak pria.
Dia yang bersikukuh ingin bertemu denganku hingga mencari tahu banyak hal tentang aku di sosial media. Sedikit terganggu memang dengan sikapnya dan aku berusaha untuk mulai memberi dia pengertian kalau memang aku tidak ingin menjalin asmara dengan siapa pun. Aku mengikuti aplikasi tersebut murni untuk menghibur di kala aku pusing menghadapi skripsi.
Berbagai penjelasan sudah aku sampaikan tetapi dia tetap ingin bertemu denganku. Aku sempat mendiamkan pesannya di aplikasi tersebut cukup lama karena mulai terganggu dengan keinginannya yang mendesakku untuk segera bertemu. Ditambah aku sedang sibuk menyiapkan skripsi dan sidang kelulusan.
Di saat pesannya kuabaikan, aku tetap bertukar cerita dengan banyak laki-laki. Mereka mengerti kalau aku hanya ingin berteman dan mendengar cerita mereka, semacam teman curhat virtual saja. Ketika aku sedang di tahap sangat sibuk, aplikasi itu aku abaikan. Aku fokus pada sidang kelulusanku dan setelahnya mencari pekerjaan.
Aku tinggal seorang diri kakak perempuanku sudah menikah dan tinggal tidak jauh dari kota tempatku tinggal. Sering kali aku datang ke rumahnya untuk main dengan keponakanku. Dua bulan setelah lulus, aku diterima bekerja di kota yang sama dan memutuskan untuk memperpanjang masa sewa kos-kosanku.
Kebetulan aku diterima bekerja di sebuah pabrik besar tetapi ditempatkan di dalam kantornya. Aku sering datang lebih pagi dan terkadang pulang cukup larut karena pekerjaanku yang menggunung. Aku biasa pulang bersama dua orang seniorku yang ternyata searah dengan kos-kosanku.
Ketika sedang disibukkan oleh pekerjaan, tiba-tiba ada yang mengirim pesan ke salah satu media sosialku. “Akhirnya aku lihat kamu” katanya, dia adalah seorang laki-laki yang dulu mendesakku untuk bertemu. Tidak aku sangka dia masih terobsesi untuk melihatku, kuabaikan pesan tersebut dan kembali bekerja.
Setelah lulus, aplikasi itu sudah kuhapus dan tidak ada yang pernah kuberikan nomor pribadi karena memang aku hanya bermain-main saja dengan aplikasi itu, tidak ingin terbawa ke dunia nyata. Hanya dia yang sangat berusaha mengejarku sampai menemukan semua akun sosial mediaku.
Pesan itu kuabaikan, lalu dia mengirim pesan yang lain hampir setiap hari. Aku pun tidak tahu dia melihatku di mana dan kapan. Aku tidak ingin menanyakan hal itu karena kutahu dia akan semakin bersikukuh bertemu denganku. Satu bulan kemudian, sudah banyak pesan yang tidak kubaca dan tidak juga kubalas kemudian ada seseorang yang menaruh bunga atau cokelat di mejaku hampir setiap hari.
Aku bingung karena banyak teman yang sudah meledekku karena memunyai penggemar rahasia. Suatu ketika, salah satu pekerja memberitahuku siapa yang menaruh banyak barang di mejaku. Dia adalah seorang pegawai pabrik yang memang satu lingkungan kerja denganku karena rasa penasaranku tinggi aku memutuskan untuk tidak langsung pulang. Kata temanku, dia menaruh semua itu ketika aku sudah pulang mungkin karena dia tahu kalau aku sering datang pagi-pagi sekali.
Aku bersembuyi di pantri dan mengintip dari jendela kecil di pintunya. Kebetulan ruanganku dan pantri berhadapan, jadi lebih jelas melihat siapa yang menaruh bunga dan cokelat di mejaku. Sebenarnya aku sudah curiga kalau laki-laki itu yang melakukannya tetapi kubuang jauh-jauh pikiran tersebut karena tidak mungkin. Dia berada di kota yang berbeda meski dalam hati aku tahu kalau pabrik tempatku bekerja adalah keahliannya.
Ternyata dugaanku benar, aku menyocokkan wajah orang yang menaruh bunga di mejaku dengan foto di sosial medianya, sama! Aku tidak habis pikir kalau hidup menggiringku untuk bertemu dengannya secepat ini. Aku pulang dengan perasaan cemas karena merasa hidupku sangat terganggu olehnya.
Terpaksa aku mengirimkan pesan melalui sosial medianya untuk menyampaikan kalau aku tidak nyaman kalau dia seperti itu. Bersyukur dia meminta maaf dan keesokkan harinya tidak ada lagi bunga atau cokelat di atas meja kerjaku. Namun, dua hari kemudian ia menghampiriku setelah pulang kerja dan mengajakku berkenalan secara langsung.
Ia meminta maaf karena sudah membuatku tidak nyaman dan mau berkenalan ulang untuk memperbaiki semuanya. Aku memaafkannya dan berusaha untuk terlihat ramah kembali, kata ibuku “tidak boleh terlalu galak sama laki-laki kalau sakit hati mereka bisa berbuat apa saja untuk balas dendam” dan itu yang selalu kutanamkan dalam diriku.
Akhirnya, kami berteman kembali dan tak hanya dengannya, aku juga berkenalan dengan pegawai pabrik yang lain. Mereka ternyata sangat asyik dan seru. Banyak pengalaman yang mereka ceritakan padaku, sedih, senang, sampai putus cinta dan melakukan hal-hal bodoh.
Aku memang tidak pernah memilih-milih saat berteman, buatku mereka sama selagi mereka menyenangkan dan tidak membahayakanku. Kami sering pergi bersama, aku dikenalkan dengan pasangan bahkan keluarga mereka. Aku sangat senang karena memiliki banyak teman baru yang sebelumnya karakter seperti mereka belum pernah kutemui.
Tiga tahun bekerja di sana, kami semakin dekat begitupun hubunganku dengan laki-laki itu. Aku mulai mengetahui sisi lain dirinya dan dikenalkan pula dengan keluarganya. Aku nyaman dan mulai berkomunikasi sering dengannya, mungkin bisa dikatakan kami sepasang kekasih.
Kami saling mencintai saat itu, setidaknya itu yang kurasakan, dan menjalani hari-hari dengan penuh canda tawa. Meski tak jarang kami bertengkar karena dia terlalu posesif dan banyak melarangku melakukan sesuatu, termasuk ketika aku berkunjung ke rumah kakakku. Dia melarang aku terlalu lama berada di sana dengan alasan dia rindu padaku.
Keluargaku tahu kalau aku memiliki kekasih dengan karakter seperti itu dan meminta dia datang ke rumah. Setelah menemui keluargaku, dia diminta untuk menikahiku segera mungkin untuk menghindarkan kami dari ‘kecelakaan’ yang membuat malu keluarga. Kami sempat berjarak waktu itu karena mungkin dia memang tidak siap melakukannya.
Dua bulan setelah bertemu dengan orang tuaku dia terkena PHK. Pabrik sedang melakukan pemecatan besar-besaran saat itu karena memang ada banyak permasalahan terutama di harga bahan baku. Berulang kali aku harus ekstra sabar mendengarkan semua keluhannya karena dikeluarkan begitu saja setelah bekerja lama di sana.
Tugasku kini bertambah, semula aku hanya mengerjakan pekerjaan kantor saja tetapi sekarang harus membantunya mencari pekerjaan. Setiap hari aku membuka situs pencarian kerja dan melamarkan pekerjaan itu untuknya dengan harapan dia akan bekerja dan berhenti mengeluh.
Hampir satu tahun aku mencarikannya pekerjaan, akhirnya harapanku terkabul. Ia keterima bekerja di sebuah pabrik besar di kota yang berbeda, tiga bulan kemudian dia meminta pada keluarganya untuk menikahkanku. Keluarganya dengan senang hati melamar dan menanggung semua biaya pernikahan kami.
Pernikahan kami diadakan cukup mewah dan kuprediksi memakan banyak biaya, sedangkan keluargaku tidak dimintai uang sepeser pun untuk membantu. Keluargaku sangat senang karena berharap dia akan bisa membahagiakan dan menghidupiku dengan baik.
Tiga bulan pernikahan dia keluar dari pabrik itu tanpa memberitahuku. Aku baru mengetahuinya ketika dia sampai di rumah dan memaki orang-orang di perusahaan itu. Ketika kutanya alasannya keluar, ia hanya menjawab karena ia dikucilkan dan dibedakan oleh karyawan di sana.
Mungkin karena memang dia masuk ke pabrik tersebut berdasarkan rekomendasi salah satu petinggi di sana. Dia mendapatkan rekomendasi itu dari omku yang bekerja di perusahaan yang sama tetapi beda kota. Seketika aku merasa malu pada keluarga omku karena sebenarnya perusahaan itu tidak sedang membuka lowongan pekerjaan.
Hanya dia yang diterima karena memandang calon suamiku saat itu. Omku hanya ingin dia bekerja dan menghidupiku dengan baik, tetapi ternyata semudah itu dia keluar hanya karena lingkungan di sana tidak seenak pabrik sebelumnya. Kini aku yang bekerja untuk menghidupi keluarga kami, aku menolak memiliki anak sampai dia benar-benar mendapat pekerjaan tetap.
Bersyukur kami tidak perlu mengontrak karena tinggal bersama ibu mertua. Makan sehari-hari kami bergotong royong karena memang salah satu kakak perempuannya tinggal tidak jauh dari sana. Tetapi tetap saja pengeluaran kebutuhan pokok dan harian lebih besar dari kelihatannya, gajiku habis ke sana belum lagi kalau dia minta uang untuk pergi main bersama temannya.
Di kantor, aku tetap mencarikan dia pekerjaan dan berharap ada perusahaan yang mau menerimanya. Aku sudah lelah melihatnya di rumah hanya bermain game di ponsel atau keluar dan ‘nongkrong’ bersama teman-temannya, sedangkan aku harus bekerja hampir setiap hari agar dapur tetap berasap.
Dua minggu aku mencarikannya pekerjaan tiba-tiba ada perusahaan yang ingin mewawancarainya. Aku pulang dengan penuh harap, ia pun terlihat semangat untuk datang ke kantor itu. Aku menyiapkan baju dan dokumen dasar untuk dia datang ke perusahaan itu.
Satu bulan lebih ia datang ke banyak perusahaan berbeda untuk diwawancarai dan itu berlansung selama dua minggu penuh. Ia keluar rumah untuk wawancara bahkan suatu waktu ia datang ke dua perusahaan berbeda dalam satu hari. Berbulan-bulan setelah wawancara di banyak perusahaan itu, dia masih tidak mendapat kabar apa pun.
Dia mulai putus asa dan setiap malam mengeluh kepadaku. Jika aku menasihati dan mengingatkannya, ia akan marah dan memilih untuk meninggalkan kamar untuk main bersama temannya. Aku hanya bisa menghela napas karena sejujurnya sudah lelah, bukan hanya lelah bekerja tetapi juga menghadapi sikapnya yang kekanak-kanakkan.
Dua tahun pernikahan kami, semua masih sama dan dia belum juga bekerja. Sehari-hari ia hanya bangun siang, makan, main game, dan keluar bersama teman-temannya saat malam hari. Ada tiga laki-laki yang sebenarnya sedang mendekatiku di kantor tetapi mereka tidak berani mengirimkanku pesan.
Mereka tahu betul karakter suamiku karena memang dua di antaranya adalah teman dekatnya. Suamiku tidak akan segan-segan memaki atau bahkan menghampiri laki-laki yang mencoba mendekatiku. Begitu juga dengan aku, ia pasti akan marah bahkan tidak mau berbicara denganku berminggu-minggu meski demikian ia tetap akan meminta aku melayaninya.
Aku berusaha untuk setia meski sudah lelah dan terus berharap dia akan mendapat pekerjaan. Namun, sepertinya suamiku keluar hampir setiap malam bukan hanya menemui temannya, tetapi juga seorang wanita. Ketika keluar malam, ia selalu berdandan rapi bahkan terkadang ia sering pergi di siang hari saat aku bekerja di kantor.
Ibu mertuaku yang melaporkan kelakuannya padaku. Aku mulai menyadap ponselnya ketika dia tertidur dan berharap ia cukup tahu diri kalau hidupnya sudah bergantung denganku. Namun ternyata tidak, esok paginya ketika aku sudah di kantor ada seorang wanita yang mengirim pesan romantis bahkan minta diantar-jemput oleh suamiku.
Rasanya sudah geram ingin memukul suamiku. Aku melihat percakapan mereka dan merasa sangat sakit hati, suamiku ternyata memiliki uang untuk membelikan wanita itu makanan bahkan baju bermerek. Ia selalu bilang padaku kalau tidak punya uang ketika diminta untuk membeli beras atau kebutuhan lain. Belakangan ini, baru kutahu kalau wanita itu adalah teman satu organisasi di lingkungannya dan merupakan teman kecilnya.
Ketika kembali ke rumah, aku mengamuk pada suamiku dan menunjukkan hasil percakapannya dengan wanita itu. Ia cukup pintar memang, ketika waktunya aku pulang dia akan menghapus percakapan itu dan memilih untuk menemui wanitanya di luar.
Ibu mertuaku terkejut karena baru kali ini aku marah besar. Dia berjanji untuk tidak mengulanginya dan mengubah kata sandi ponselnya, tetapi aku tidak sebodoh itu. Malam itu ketika aku menyadap ponselnya, aku sudah mendaftarkan sidik jariku di ponselnya. Aku tidak khawatir dia mengubah kata sandi dan menghentikan aksiku menyadap ponselnya.
Dia semakin erat memegangi ponselnya, tetapi ketika sedang tertidur ia tetap saja tidak sadar kalau itu sudah berpindah ke tanganku. Aku kembali menyadap ponselnya dan berusaha untuk bermain ‘cantik,’ tidak seperti sebelumnya. Meski aku tahu dia menyelingkuhiku, aku tetap tidak merespons laki-laki yang mencoba mendekatiku. Aku tetap menghormatinya sebagai suamiku dan tidak ingin kalau nantinya aku akan kembali dikhianati.
Sebulan aku memantau percakapan di antara kedua pasangan sejoli itu dan selama itulah aku berusaha menjauh darinya. Aku mulai membiarkan dia mengurus dirinya sendiri dan berpura-pura sibuk jika dia meminta bantuanku. Ibu mertuaku tidak tahu apa yang anaknya lakukan di belakangku, ia menganggap kalau hubungan kami baik-baik saja.
Aku mulai tidak tahan dengan sikapnya dan memutuskan untuk membongkar perselingkuhannya ketika keluarga besar suamiku sedang berkumpul di rumah. Keluarga besarnya terkejut setelah melihat beberapa foto dia bersama wanita itu dan juga percakapan mereka. Ia meminta maaf padaku dan bersungguh-sungguh akan berubah, tetapi aku sudah tidak bisa menerimanya.
Permintaan maaf yang sebesar-besarnya kusampaikan pada keluarganya dan meminta mereka mengembalikan aku kepada keluargaku. “Aku sudah menggugat cerai Mas dan foto-foto ini akan menjadi bukti perselingkuhannya. Aku sudah mengemasi pakaianku dan ingin pamit karena aku akan pulang malam ini juga” kataku.
Dia terdiam, keluarganya pun sama. Selama satu bulan melihatnya berselingkuh, aku tetap berusaha mencarikannya pekerjaan agar ketika dia pisah denganku ia sudah memiliki penghasilan. Setidaknya ia bisa menafkahi dirinya dan juga ibunya.
Selama dia berselingkuh aku pernah bolos kerja untuk mengikutinya pergi bersama wanita itu. Ternyata tak hanya membelikan makanan dan barang mewah, mereka sering kali pergi ke hotel kemudian kembali ketika aku akan pulang. Semua itu aku jadikan bukti dan kutunjukkan pada keluarganya.
Malam itu, setelah semuanya kusampaikan. Aku meminta tolong pada kakak laki-lakinya untuk mengantarku pulang dan dengan berat hati ia menyetujui permintaanku. Entah apa yang terjadi setelah kepulanganku dari kabar yang kudengar ia tetap menjalin asmara dengan wanita itu tetapi tidak bertahan lama.
Dua tahun kemudian, aku sudah menikah dengan teman SD-ku dan tiba-tiba ia kembali mengirimkan pesan padaku. “Gue engga apa-apa deh kalau jadi selingkuhan lo, gue bakal nunggu lo sampai lo pisah sama dia” katanya. Melihat pesan itu aku menyampaikan pada suamiku, kemudian suamiku meneleponnya menggunakan nomorku.
Ia mengangakat telepon itu dan terkejut ketika suamiku yang berbicara. Sejak saat itu dia hanya menghubungiku satu kali untuk memberitahukan kalau mantan ibu mertuaku sudah meninggal. Aku turut berduka untuknya tetapi tidak datang ke pemakaman itu. Aku menganggap kehidupan bersamanya sudah selesai dan tidak akan pernah terjalin kembali.
