Perjalanan Bunga Mawar Dianggap Simbol Cinta dalam Masyarakat Modern

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bunga Mawar sebagai sebuah lambang percintaan memang menjadi hal yang amat sangat kuat. Stereotip ini telah ada selama berabad-abad dari era klasik sampai era yang modern seperti saat ini. Nah, di era modern sendiri, Bunga Mawar dianggap sebagai simbol cinta bukanlah hal yang datang begitu saja.
Ada berbagai kisah yang mengiringinya hingga akhirnya stereotip ini tetap kuat selama bertahun-tahun. Di era modern, semua dimulai di abad pertengahan yang memperkuat kesan Bunga Mawar sebagai lambang percintaan.
Di abad pertengahan, itu muncul dalam puisi Prancis "Romance of the Rose," di mana mawar digunakan untuk melambangkan seksualitas wanita sambil berfungsi sebagai metafora yang lebih luas terkait percintaan.
Puisi itu disusun di Prancis pada abad ke-13 oleh Guillaume de Lorris dan kemudian berubah menjadi manuskrip yang maknanya dipelajari di abad ke-15. Bagian pertama dari puisi itu menceritakan pencarian sang Kekasih akan “Mawar”, sebuah simbol untuk cinta wanitanya.
Penggunaan mawar sebagai metafora untuk cinta dan romansa berlanjut hingga era Renaisans, terutama berkat adanya karya Shakespeare. Penulis ini kerap kali menggunakan Mawar dalam tulisannya dengan mengaitkan Bunga Mawar dengan sebuah romansa.
Penyair Skotlandia Robert Burns mengabadikan mawar sebagai simbol romansa dalam puisi abad ke-18 "Red, Red Rose," yang membandingkan kekasihnya dengan Mawar Merah. Semua berlanjut pada era 1800-an.
Orang-orang Victoria membangun hubungan abadi antara romansa dan Mawar Merah mirip seperti kita memperlakukannya hari ini. Orang-orang Victoria terobsesi dengan bahasa bunga, atau floriografi, sehingga sering mempelajari bahwa warna bunga memiliki maksudnya masing-masing.
Tradisi inilah yang menegaskan kembali soal Mawar Merah sebagai simbol romantisme. Mengakui perasaan di depan umum dianggap tidak dapat diterima pada saat itu, jadi bahasa bunga dan pemberian Mawar Merah menjadi.
cara halus untuk mengekspresikan kasih sayang di era yang lebih terbatas ini. Di era Victoria, individu secara teratur menghadiahkan bunga, terutama mawar berwarna berbeda, sebagai simbol simpati, persahabatan abadi, dan banyak lagi.
Pentingnya mawar sebagai simbol romansa, dan penggunaannya sebagai sistem pesan dalam hubungan percintaan telah bertahan lama di abad ke-19. Sepanjang abad ke-20, mengirim Mawar menjadi cara lumrah mengungkapkan cintakepada orang lain.
Bahkan beberapa sumber mengatakan, hingga saat ini tidak ada cara yang lebih sederhana untuk menyampaikan romansa selain memberikan Bunga Mawar. Sebuah tradisi yang berasal dari zaman kuno ini masih bertahan dan digunakan di era modern.
