Puluhan Tahun Menunggunya Menjadi Istriku, Dia Malah Selingkuh dengan Pria Kaya

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Mencintai seseorang sepertinya memiliki tanggung jawab yang besar. Sudah 10 tahun aku menunggu seorang wanita melihat ke arahku dan berbalik mencintaiku. Wanita itu adalah teman saat aku berada di tingkat sekolah dasar, kami terbiasa bermain bersama bahkan rumah kami pun berdekatan.
Pada akhirnya, momen ketika dia melihat ke arahku datang. Itu semua berkat teman-teman satu sekolah kami yang berusaha menyampaikan perasaanku padanya. Mereka berusaha mendekatkan aku dan juga mencari celah agar kami bisa berdekatan.
Rasanya sangat bahagia ketika cinta yang sudah ditunggu sekian lama akhirnya datang di hadapanku. Selama ini aku hanya bisa melihatnya dari dekat tanpa bisa memilikinya. Beberapa tahun aku mendengarnya bergonta-ganti pasangan dan berakhir dia yang tersakiti, aku selalu ada di sampingnya hanya sebagai teman. Berusaha melindungi dan menghiburnya sebisaku sampai ia tersenyum kembali.
Ketika menjalin kasih, orang tua kami sangat bahagia dan menantikan kelanjutan dari hubungan kami. Selama menjalin kasih, dia adalah wanita yang sangat manja, sudah lama aku memerhatikan dan mempelajari sikapnya agar suatu saat aku dengan mudah bisa memahami sekaligus memperlakukannya dengan baik.
Ternyata usahaku itu tidak sia-sia. Aku berhasil membuatnya terkagum karena bisa menghadapi perubahan suasana hatinya dengan baik. Aku bisa menjaga dan memperlakukannya seperti yang ia inginkan, kami jarang bertengkar. Kalaupun memang iya, itu hanyalah hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.
Tiga tahun menjalin hubungan, akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Aku bisa mewujudkan pernikahan impian dan rumah idamannya. Selama menunggu, aku menabung hampir semua gajiku untuk bisa membahagiakannya dan semua itu bisa terwujud. Aku melihat senyum bahagia di wajahnya saat kami mengadakan pesta dan menempati rumah impiannya.
Tetapi sepertinya apa yang aku lakukan untuk membahagiakan dia tidak akan membuat dia merasa puas. Pernikahan kami baru terjalin dua tahun, tetapi dia mulai bermain api di belakangku. Mulanya ia hanya diantar oleh teman kantornya pulang ke rumah kemudian bertemu denganku dan kami berbincang sebentar.
Namun, seiring berjalannya waktu hubungan mereka semakin dekat. Diam-diam aku menyadap akun Whatsapp-nya dan melihat percakapan mereka. Ternyata mereka sering membuat janji temu di luar kantor untuk pergi ke suatu tempat, sepertinya ada yang disembunyikan sehingga tidak ingin hubungan mereka diketahui orang-orang kantornya.
Istriku bekerja di sebuah perusahaan layanan jasa, ia sering bertemu dengan banyak orang dan banyak pula yang mengatakan kalau dia itu sangat cantik. Aku tahu kalau banyak lelaki yang ingin mendekatinya, terbukti tidak hanya sekali atau dua kali dia berganti kekasih saat belum bersamaku.
Kali ini pria itu adalah seorang akuntan kaya yang bekerja sama dengan perusahaannya. Ia memang memiliki mobil mewah dan rumah di kawasan elite, berulang kali aku menanyakan hal itu pada istriku tetapi dia menjawab hal yang sama. Tak jarang kami bertengkar karena hal ini tetapi rasa curigaku semakin besar kepadanya.
Ada perasaan kalau semua yang kulakukan untuknya mulai sia-sia. Apa yang kualami kuceritakan pada sahabatku, mereka menyuruhku untuk membombardirnya dengan kasih sayang dan perhatian penuh agar dia tidak berpaling dariku. Semula aku membiarkannya berangkat ke kantor seorang diri, tetapi aku mulai mengantar bahkan menjemputnya.
Pekerjaanku sebagai supervisor di leasing membuatku harus kejar-kejaran dengan waktu agar aku bisa menjemputnya. Aku mulai tidak membiarkan hubungan mereka semakin dekat karena bertemu setiap hari. Meski sudah begitu, istriku tetap saja meminta agar aku tidak melakukan hal ini.
Pernah suatu kali dia meninggalkanku yang baru saja tiba di depan kantornya. Aku hanya telat lima menit sebelum akhirnya ia pergi dengan laki-laki itu, sesampainya di rumah aku marah karena perlakuannya terhadapku. Tetapi dia kembali marah padaku “aku sudah bilang kalo aku engga mau dijemput sama kamu, kamu yang maksa mau antar-jemput aku. Ya itu risiko kamu!”
Ada rasa sakit hati ketika dia menjawabku dengan kalimat seperti itu. Aku merasa kalau posisiku tetap saja salah di matanya meski sudah kuusahakan sekuat tenaga. Hampir setahun kedekatan mereka dan aku mulai menyerah, semakin hari mereka semakin dekat bahkan aku pernah menemui mereka sedang berjalan di sebuah mal.
Ketika aku hampiri dia malah berbalik marah padaku. Satu bulan dari pertemuan itu dengan mereka, aku sudah mulai menyerah. Dia terlihat semakin bahagia bersama pria itu, mungkin aku telah gagal membahagiakannya. Mendapatkannya sejauh ini sudah membuatku bahagia karena dia memberiku kesempatan untuk bersamanya walau hanya sebentar.
Suatu hari dia mengajakku duduk bersama di kasur. “Aku mau cerai dari kamu, selama ini aku coba buat cinta sama kamu tapi kayanya engga bisa. Aku cuma bisa anggap kamu sebagai sahabat kecil aku. Aku tau mungkin ini jahat buat kamu, tapi aku engga bisa bohong kalo aku jatuh hati sama pria itu” ucapnya.
Aku menghela napas dalam-dalam, aku ingin balas memaki dan menanyakan alasan dia mau menikahiku. Pernikahan ini buatku bukan sebuah permainan, aku sudah bahagia ketika berhasil mendapatkan hatinya tetapi sepertinya aku hanya kegeeran. Dia tidak pernah memiliki perasaan yang sama seperti aku.
“Yauda kalo itu mau kamu” jawabku. Aku melihat matanya berbinar seolah dia mendapatkan sesuatu yang berharga untuknya. Aku senang ketika dia bertingkah seperti itu, ia terlihat sangat bahagia meskipun aku merasa sakit hati dan terlalu dipermainkan. Setelah menjawab permintaannya, aku keluar rumah dengan lemas dan pergi ke rumah sahabatku.
Aku menangis dan membeli banyak minuman keras. Aku tidak merelakan dia menjadi milik orang lain untuk kesekian kalinya. Semua teman-temanku berusaha menghiburku tetapi itu tidak berpengaruh apa pun. Aku tidak kembali ke rumah itu, entah apa yang dia lakukan di sana seorang diri.
Beberapa kali dia menghubungiku tetapi tidak pernah kurespons, “buat apa lagi? Dia tidak peduli padaku” ceracauku saat mabuk. Kuhabiskan selama seminggu penuh untuk meminum-minuman alkohol sepulang kerja dan pulang kembali ke rumah orang tuaku. Mereka bertanya keberadaan mantan istriku, tetapi tidak kujawab dan membiarkan mereka tahu dari mulutnya.
Semua keluargaku membencinya saat dia datang ke rumah dan mengutarakan apa yang ia inginkan. Keluarganya terlihat sangat malu dan berulang kali meminta maaf pada keluargaku. Kali ini aku benar-benar merasa tidak berguna karena tidak bisa mempertahankan pernikahan kami.
Beruntung kami tidak memiliki anak, kalau iya aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hatiku setiap kali harus bertemu dengannya saat menghampiri anak kami. Beberapa bulan kemudian, surat resmi perceraian kami keluar dan dia datang ke rumah untuk memberikannya. Ia menemuiku dan menangis meminta maaf, dia bercerita karena keputusannya ia jadi dikucilkan oleh keluarganya.
Aku tidak tega melihatnya menangis, tetapi aku tidak bisa berkata apa pun dan hanya bisa memeluknya. Kemudian mengambil surat itu dan kembali masuk ke rumah. Meninggalkannya sendiri di luar rumahku, sebenarnya aku masih sayang dan bersimpatik terhadapnya tetapi sepertinya hatiku lebih berbicara.
