Ratu Isabella, Kebrutalan, Cinta, dan Pengkhianatan Atas Suaminya yang Fenomenal

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jangan bermain-main dengan wanita jika tidak ingin mendapatkan hal buruk! Ya, sepertinya kiasan ini ada benarnya. Di masa lalu, ada sebuah hal mengerikan yang dilakukan seorang ratu yang mengkhianati rajanya karena sakit hati.
Menikah dengan Raja Edward II dari Inggris pada usia dua belas tahun, malam pernikahan Ratu Isabella adalah bencana. Pada pesta perayaan setelah upacara, Edward II menghabiskan seluruh waktunya bersama kekasihnya yang merupakan seorang pria.
Dia menjalin hubungan dengan Piers Gaveston yang arogan dan kejam. Karena Isabella hanya seorang anak kecil, dia tentu merasa heran akan hal ini. Tak lama, Gaveston dibunuh oleh musuh politik pada tahun 1312. Untuk sementara waktu, Isabella dan Edward tampak biasa saja.
Dia melahirkan beberapa anak sampai akhirnya Edward melakukan perselingkuhan lagi. Edward memperoleh kekasih baru, Hugh le Despenser, pria lain dengan reputasi kebrutalan, yang dengan cepat mengambil alih sebagian besar pemerintahannya.
Isabella yang sudah tidak tahan mulai melakukan agresi. Pada 1325, Isabella meyakinkan suaminya untuk mengizinkannya pulang ke Prancis untuk misi diplomatik. Di sana, dia memulai perselingkuhan yang intens dan penuh skandal dengan musuh bebuyutan Edward, Roger Mortimer. Keduanya mengangkat pasukan dan menuju ke Inggris, Isabella secara simbolis mengenakan statusnya sebagai janda.
Pemberontakan itu sukses. Pada 24 Januari 1327, Edward II dipaksa turun tahta dan langsung terbunuh dalam agresi itu. Putra kecil Isabella, Edward III, menjadi Raja, dan Isabella dan Mortimer memerintah sebagai walinya.
Sayangnya, Mortimer ternyata sama brutalnya dengan Gaveston dan le Despenser, dan Edward III menggulingkan ibu dan kekasihnya pada tahun 1339. Mortimer dieksekusi. Isabella diasingkan untuk sementara waktu, dan kemudian perlahan-lahan diperkenalkan kembali ke dalam keluarga kerajaan.
Yang menarik dan brutal adalah hati suaminya yang terbunuh dilaporkan ditempatkan di peti matinya atas permintaannya sendiri.
