Suami Mencuri Mobilku untuk Diberikan pada Selingkuhannya

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Tahun itu adalah ulang tahunku. Bisa kalian bayangkan betapa bahagianya aku ketika membuka mata dan melihat keluar jendela ada sebuah mobil terparkir di depan rumah lengkap dengan namaku sebagai hiasan. Tanpa basa-basi aku pun berlari ke arah June dan memeluknya dengan erat. "Makasih" ucapku diiringi dengan kecupan mesra tepat di bibirnya. June hanya tersenyum "selamat ulang tahun Sayang" balasnya.
Aku melepaskan pelukanku dan menjajal mobil itu di jalan komplek rumah kami. Semua tetangga menatap iri meski diiringi dengan ucapan selamat ulang tahun untukku. Hari itu June memperlakukanku bak seorang ratu. Ia memasak makan malam dan mengambil alih tugasku membersihkan rumah, sedangkan aku hanya bersantai di salon menikmati setiap pijatan yang diberikan pegawai sana.
Momen itu akan selalu terkenang karena sangat jarang June bersikap seromantis ini padaku. "Mungkin dia begini karena kami sudah berencana akan memiliki anak tahun ini" pikirku. Namun kebahagiaan itu tampaknya hanya berpihak padaku satu hari dalam setahun penuh karena dua hari kemudian June sudah tidak dipekerjakan lagi di perusahaan sebelumnya.
Aku berpikir akan menjual mobil itu tetapi June melarang karena ternyata dia membeli dengan cara menyicil ke sebuah bank atas namanya. "Aku tidak ingin kreditku jelek kalau langsung mengembalikan mobil ini" rajuknya padaku. Terpaksa aku yang harus menanggung semua tagihan termasuk cicilan mobil yang diambil oleh June sebagai hadiah ulang tahunku.
Sebenarnya aku hendak marah padanya tetapi tak tega karena June sudah berusaha membuatku bahagia hari itu. June bukan tipikal pria romantis, "jadi memikirkan ide sederhana seperti itu pasti sangat menguras otaknya" batinku menenangkan. Aku sangat menghargai semua yang ia lakukan untukku sekecil apa pun itu karena menurutku begitulah cara mempertahankan sebuah hubungan.
Aku mengambil kerja sampingan karena harus membayar semua tagihan kami, sementara June sibuk mencari pekerjaan lain di depan laptopnya. "Dia pasti kaget karena pemecatan yang sangat dadakan ini" pikirku, meski sudah sibuk bekerja tetapi aku tetap melakukan pekerjaan rumah dan memasak untuknya. June sama sekali tidak mau membantuku, selain hari itu tentunya, dan semua pekerjaan itu membuatku merasa kelelahan.
Tiga tahun berlalu dan aku menyemangati diriku sendiri karena sebentar lagi mobil itu akan kulunasi. Namun suatu hari June pulang dengan wajah murung dengan sekantung penuh makanan, "kamu kenapa?" Tanyaku, "maafkan aku Cindy" jawabnya, "ada apa? Kamu terluka?" Tanyaku kembali tetapi June hanya menggeleng lemah. "Mobilmu hilang saat aku keluar dari supermarket" sahutnya menjelaskan, rasanya saat itu tubuhku meleleh dan berhamburan ke lantai. Lemas dan putus asa, itu yang terjadi padaku.
"Aku sudah memberitahu polisi, mereka pasti akan segera menemukannya" jelas June, "aku membawakanmu banyak makanan agar perasaanmu sedikit membaik" tambahnya. Aku merampas kantung belanja itu dari tangan June dan meninggalkannya begitu saja "BODOH! KUMINTA KE SUPERMARKET SAJA HARUS MENGHILANGKAN MOBIL!" Batinku terus memaki June sambil mengunyah satu per satu bungkusan camilan yang ia belikan untukku. Aku mencoba mengalihkan pikiranku pada pekerjaan sambil diam-diam terus berharap polisi akan menemukan mobil itu secepatnya.
Satu bulan berlalu, sayangnya tak satu pun telepon dari polisi yang menyatakan kalau mereka menemukan mobilku. Aku mulai mengikhlaskannya "mungkin mobil itu hilang demi kebaikan kami, setidaknya June tidak terluka" pikirku. Namun satu minggu kemudian aku sedang berada di sebuah toko untuk mencari barang yang dibutuhkan oleh kantorku. Memang tak biasanya aku pergi ke daerah yang cukup jauh dari rumah, jika tidak terpaksa mungkin aku tidak akan pernah pergi ke sana.
Aku cukup nyaman dengan lingkungan sekitar rumah yang kuanggap lengkap karena menyediakan kebutuhanku. Dari dalam toko aku melihat sesuatu yang terparkir rapi di depan sebuah restoran. Jenis, tipe, warna, hingga plat nomornya sama dengan yang kumiliki dan hilang di pelataran parkir supermarket. Aku hampir saja menghubungi polisi dan melaporkannya sampai seorang wanita berambut pirang keluar dari restoran lalu masuk ke dalam mobil itu dengan anggun.
Tak lama seorang pria yang kukenal menyusul wanita pirang itu dan masuk ke dalam mobil yang sama. "June?" hatiku terus bertanya-tanya, selama ini mobil itu tidak hilang namun ia berikan pada wanita berambut pirang itu. "Ia sengaja membodohiku!" Hatiku sangat geram tapi tak ada yang bisa kulakukan karena mereka sudah menghilang entah ke mana. Setelah semua pekerjaanku selesai, aku kembali ke rumah dan mengemas semua barang June.
Lalu aku menghubungi bank untuk menanyakan status kepemilikan mobil yang selama ini kubayarkan. Ternyata mobil itu masih atas nama June dan dengan senang hati aku melepaskan June bersama hutang mobilnya. Aku tak mau lagi membayarkan mobil itu dan mengusir June dari rumah. Ia sempat terkejut melihat semua barangnya berada di halaman, tetapi ia tak bisa membantahku saat kuceritakan apa yang kulihat tadi siang.
Hari itu aku kehilangan hadiah beserta suamiku tapi justru aku merasa sangat bahagia. Bahagia karena semua beban yang kutanggung selama ini akan jauh berkurang dan aku tak perlu lagi menguras tenaga mengerjakan pekerjaan sampingan. Dua hari kemudian aku menghubungi pengacaraku dan mengajukan perceraian ke pengadilan. Singkatnya, pengadilan memenangkan kasusku dan memberikan aku setengah dari harta June.
Sekarang lima bulan telah berlalu dan aku dapat kabar kalau wanita berambut pirang itu meninggalkan June begitu saja karena hartanya tak lagi sebanyak dulu. Mungkin saat ini dia sudah mencari pria kaya lain untuk ia nikmati, sedangkan June harus mati-matian bekerja agar mobil itu cepat terlunasi.
