Suami Mengkhianati Aku dengan Menantuku

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Aku seorang ibu dengan dua anak laki-laki. Dari dulu aku merasa hidupku sudah sangat lengkap, memiliki suami yang mencintai aku, dua anak yang sehat, dan toko roti yang menjadi impianku selama ini. Andreas tidak pernah melarangku untuk menyalurkan hobi membuat kue, justru sebaliknya, ia sangat mendukungku. Sempurna rasanya hidup yang kumiliki.
Aku tidak perlu bertengkar hanya untuk mendapatkan keinginanku karena sebenarnya menikah, buatku, tidak mengharuskan mimpi yang sudah ada harus pupus begitu saja. Aku senang Andreas memahamiku dan sebaliknya, aku juga membiarkan dia mengoleksi mobil. Bagiku itu tidak masalah, meski sebenarnya ada saja keluarga atau teman yang mengkritik tindakanku, selama kebutuhan rumah dan anak-anak dapat ia penuhi seperti biasanya.
Toko roti impianku baru bisa di buka saat anak-anak mulai beranjak dewasa. Ketika Rossi, anak sulungku, melanjutkan studi di universitas sedangkan adiknya, William, sudah berada di sekolah tingkat akhir. Saat itu mereka sudah bisa mengurus dirinya sendiri, meskipun tidak kupungkiri bahwa terkadang mereka masih saja meneriakkan namaku untuk hal-hal sepele. "Maklum namanya juga anak laki-laki, mereka tidak terbiasa mengurus semuanya" begitu kata orang-orang.
Aku sendiri tidak masalah, sekalipun kedua anakku perempuan. Bagiku panggilan itu membuktikan mereka masih menjadi bayi kecilku, dan akan tetap selalu begitu. Toko roti itu terletak di dekat rumah, tepatnya di ruko depan komplek rumah kami. Tempatnya sangat strategis, di pinggir jalan besar dan sering kali dikunjungi banyak orang. "Praktis!" Pikirku.
Aku dan Andreas adalah tim, ia membantuku di setiap sudut dan detail dari toko roti impianku. Pertengkaran kecil sering terjadi di antara aku dan Andreas, terutama masalah dekorasi. Aku merasa pilihannya terlalu norak dan ia menganggap pilihanku sangat 'tidak berkelas' sehingga Rossi harus turun tangan untuk mendamaikan kami. Hal-hal seperti itu rasanya sangat lucu jika diingat kembali dan menjadi sebuah harmoni dalam pernikahan kami.
Sejak kami mulai sering bertengkar, Rossi ikut dalam membangun toko itu dan merancang semua dengan sangat baik dan rapi. Toko itu membutuhkan renovasi sekaligus dekorasi selama dua bulan dan baru bisa beroperasi tanpa kendala satu bulan setelahnya. Aku membuat semua roti dan kue karena ingin semua orang merasakan kualitas yang sama dari awal hingga akhir. Dan yang terpenting adalah aku bisa menyalurkan hobiku dengan baik.
Hanya butuh waktu enam bulan untuk toko rotiku menjadi ramai pengunjung, baik penghuni komplek ataupun mereka yang hanya melintas di jalan besar. Rasanya sangat bahagia tiap kali melihat wajah-wajah itu tersenyum karena mencium aroma butter bercampur cokelat dari toko rotiku. Belum lagi kalau wajah itu terlihat antusias saat memilih kue yang cocok untuk hari spesial mereka. Aku merasa menjadi malaikat penolong yang melengkapi hari-hari orang lain.
Keluargaku sangat mendukung apa yang kulakukan bahkan terkadang memberi aku pesanan dalam jumlah banyak. Ya! Andreas, Rossi, dan William membantu memasarkan kue dan roti bikinanku pada teman-teman mereka. Jujur saja itu yang membuat aku sangat kewalahan karena harus membuat roti sekaligus kue menjadi dua kali lipat lebih banyak. Aku harus menambah orang untuk membantuku di dapur, anak-anak seusia William yang memiliki passion yang sama denganku.
Aku tak hanya menjadi pemilik atau atasan bagi mereka, tetapi juga seorang ibu. Sering kali mereka menceritakan masalah pribadinya padaku dan karena tidak memiliki anak perempuan, kehadiran mereka membuat aku merasa jauh lebih bahagia. Aku menjadi lebih bersyukur dan menikmati hari-hariku dengan semangat seperti anak muda. Lima tahun berlalu dan setiap bisnis pasti mengalami naik-turun dalam penjualan, begitu pula denganku. Saat penjualan menurun, aku tidak bersedih tetapi bersyukur karena bisa mendengar cerita mereka lebih banyak lagi.
Di saat yang bersamaan, Rossi mulai mengenalkan pasangannya pada aku dan Andreas. Sakura, namanya. Nama yang sangat cantik untuk wanita yang kulihat sangat feminim dan anggun. Cocok untuk Rossi yang sangat aktif dan senang berkomunikasi. "Mereka tampak serasi" pikirku, semakin mengenal Sakura aku merasa semakin bahagia. Betapa bahagianya aku melihat bayi mungilku sudah tumbuh dewasa dan akan memiliki istri yang sangat cantik.
Sakura memiliki rambut pirang, tinggi, putih, mata besarnya sangat cocok dipadukan dengan alis tebal serta hidung mungilnya. Melihat Rossi bermesraan dengan Sakura membuat pikiranku melayang dan membayangkan seperti apa wajah cucuku nanti, jika orang tua mereka saja sudah sangat sempurna, untukku. Bulan demi bulan berganti dan aku tak lagi hanya mengenal Sakura, tetapi juga keluarganya. Mereka begitu ramah dan hangat, "pantas saja Sakura tumbuh menjadi wanita yang penuh dengan cinta" pikirku.
Aku sangat senang mengobrol dengan mamanya Sakura, seolah kami sudah berkawan cukup lama. Dua tahun setelah mengenal lebih dalam keluarga mereka, akhirnya Rossi memutuskan untuk menikahi Sakura dan itu menjadi momen paling mengharukan sepanjang hidupku. Aku sampai tak berhenti meneteskan air mata melihat mereka bergandeng tangan sambil mengenakan pakaian pernikahan itu. "Sudah, jangan menangis terus. Kamu bisa membuat Rossi berpikir kalau kamu tidak mau melepasnya" bisik Andreas saat tahu aku tengah menangis diam-diam.
Pernikahan itu berjalan dengan sempurna dan bahagia, tetapi aku tidak mengizinkan Rossi untuk tinggal di rumah yang ia sewa. "Sayang uangnya Rossi kalau uang itu kamu tabung, kamu akan bisa membeli sebuah rumah" ucapku. Hampir dua bulan ia berpikir dan berdiskusi dengan Sakura tentang pendapatku hingga akhirnya mereka pindah ke dalam rumahku. Hari-hari berjalan seperti biasanya, Rossi pergi bekerja dan Sakura mulai membantuku di toko roti. Anakku tidak mengizinkannya bekerja di perusahaan "banyak 'polusi'" katanya yang ia maksud bukan polusi udara melainkan godaan para pria yang bisa mengancam pernikahan mereka.
Rossi lebih senang jika Sakura membantuku di toko roti dan entah bagaimana ia menuruti permintaan suaminya itu. Aku dan Sakura menjadi lebih dekat, ia bahkan belajar dengan cepat bagaimana cara membuat kue lalu mengurus berbagai keperluan di toko. Tiga tahun setelah pernikahan mereka, pandemi mulai berdampak pada toko kami, sama seperti yang lainnya. Aku terpaksa harus menutup toko dan beralih ke penjualan daring karena perputaran uang yang tidak mencukupi.
Rossi, Sakura, William, dan kekasihnya yang belum dikenalkan padaku, membantu mempromosikan kue yang kubuat. Penjualan daring tidak memungkinkan aku membuat banyak roti, jadi sebagai gantinya aku menjual beragam varian kue yang dihias semenarik mungkin. Aku membuatnya dari rumah, dibantu oleh Sakura dan beberapa pegawai yang tetap kupertahankan tetapi tinggal di rumahku. Kami menjadi sangat dekat setiap harinya karena jumlah pesanan yang semakin meningkat.
Aku membuat kue dan menghias, Sakura membuat kemasan terlihat lebih cantik, dan beberapa pegawai hanya membantu sebisanya. Aku sangat bahagia karena mereka semakin terampil untuk membuat toko kueku tetap berjalan meski penjualan hanya dari rumah. Produksi kue membuat rumahku tercium seperti cokelat dan rum, siapa pun yang mencium wangi itu pasti akan menginginkan satu potong untuk dinikmati. Setiap hari kami melakukan produksi hingga rasanya sangat melelahkan. Aku tetap harus memerhatikan Andreas meski tidak sebanyak sebelumnya.
Usiaku sudah lagi tidak muda dan menjadi penjual kue dengan permintaan yang cukup banyak sangat membuat aku kelelahan. Aku pikir semuanya sangat baik-baik saja di antara aku dan Andreas, hingga Rossi dan William selalu mengatakan ingin menjadi pasangan seperti kami. Andreas tetap berprilaku manis padaku, ia tetap memelukku dari belakang saat aku sedang mengaduk adonan kue. Sesekali ia bahkan mencicipi adonan kue cokelat seperti anak kecil.
Aku merasa dicintai oleh anak dan suamiku saat itu. Namun entah mengapa ketika aku sedang beristirahat di kamar, Andreas meminta aku untuk keluar rumah. Aku menuruti kemauannya karena kupikir ia ingin menunjukkan sesuatu seperti sebelumnya, "kejutan" kalau anak-anak bilang. Aku berusaha bangkit dari kasur dan berjalan ke luar rumah, menahan semua kelelahanku demi menyenangkan suamiku. Sesampainya aku di luar rumah, Andreas benar-benar memberiku sebuah kejutan yang takkan kulupakan.
"Mulai sekarang, kamu tidak lagi tinggal di sini Rosemary. Ini rumah aku dan kamu tidak punya hak untuk meminta apa pun dariku" ucap Andreas. Aku yang baru saja terbangun merasakan ada sesuatu yang aneh di kepala, aku terhuyung tetapi tetap berusaha mendengar apa yang Andreas katakan. "Kamu bisa mengambil semua barangmu, baju atau alat memasakmu tetapi kamu tidak bisa minta hak atas rumah. Ini rumahku!" Tegasnya. Sesaat aku tersadar kalau suami yang terlihat mencintaiku justru sudah merencanakan semuanya.
Ia sudah merencanakan untuk mengusir aku dari rumah itu, jauh dari anak-anak dan kehidupan yang kudambakan selama ini. "Ttt..ttt..tapi kenapa Andreas? Kita baik-baik saja selama ini" sahutku, "kamu tidak mengerti Rosemary, kamu sudah tidak bisa melayaniku, kamu terlalu sibuk dengan hobimu dan melupakan aku" jawabnya. "Kita bisa bicara tentang hal ini, semuanya bisa kita bicarakan" balasku, "tidak Rosemary, semua sudah jelas dan aku sudah menemukan wanita lain yang aku cintai" jawabnya.
Aku mengernyitkan dahi dan menatapnya dengan tajam, "siapa?" Tanyaku. Selama ini Andreas tidak pergi ke mana pun, ia selalu di rumah bahkan untuk bekerja sekalipun. Pandemi membatasi semua yang kami lakukan dan Andreas tidak pernah pergi ke mana pun. Rossi dan William selalu melaran kami pergi keluar rumah karena usia, mereka takut kami terjangkit sesuatu yang membahayakan. "Sakura" jawabnya. Mataku terbelaklak "KAMU SUDAH GILA ANDREAS! DIA ISTRI DARI ANAKMU!" Teriakku, "kamu tidak akan mengerti Rosemary, dia juga mencintai aku" jawabnya.
Kepalaku terus menggeleng tak percaya, aku menangis dan tidak lagi memperdulikan berapa pasang mata yang melihat ke arah kami. "Kamu sudah gila Andreas!" ucapku sambil terisak, tidak bisa kubayangkan betapa sakitnya anakku menanggung semua ini. Melihat istri tercintanya berpaling demi ayahnya sendiri. "Apa Rossie tahu soal ini?" Tanyaku, "Sakura akan mengurusnya dan aku sudah mengurus bagianku, menyingkirkan kamu" jawabnya. Isak tangisku sudah tak lagi bisa terbendung, sakit hati karena dikhianati dan sakit karena harus melihat anakku terluka.
Dadaku terasa sesak dan kepalaku rasanya sangat berat. Aku tidak tahu mana yang harus kupikirkan, hatiku atau hati anakku? Bagaimana aku bisa menenangkannya kalau aku sendiri tidak baik-baik saja? Pernikahan yang sudah kubangun selama puluhan tahun harus rusak karena wanita yang menjadi istri dari anakku sendiri. Ini sudah gila! Pikiran Andreas tidak jernih hingga dia tega menelan anaknya sendiri. Aku panik dan sakit hati, rasanya aku sudah kehilangan akal saat itu. Kucari ponsel di saku bajuku tetapi tidak ada, aku menerobos masuk meski Andreas menghalangi pintu.
Aku menghubungi William, "De cepat pulang sekarang!" ucapku sambil terisak. Di seberang sana aku bisa mendengar nada suaranya yang panik dan mencemaskanku tetapi aku tidak mempedulikannya. Aku memutus sambungan telepon itu dan mulai mengemasi semua pakaianku. "Juwita, tolong kemasi semua perlengkapan baking. Kita pergi dari sini" ucapku pada salah satu pegawaiku. Mereka tidak bertanya meski melihat kekacauan yang terjadi, aku tidak banyak bicara dan mengemasi semua pakaianku.
Berselang lima belas menit, mobil William memasuki pelataran rumah. Ia membuka pintu lalu membantingnya begitu saja, dari kamar aku bisa mendengar langkah kakinya yang berlari sambil meneriakkan namaku. "Mamaaa..Maaaa" teriaknya hingga berada di depan pintu kamar kami, "William tolong bawa semua koper ini ke dalam mobilmu" ucapku. "Ada apa Ma? Apa yang terjadi?" Tanyanya, "sudah lakukan saja, Mama minta tolong ya William" jawabku sambil berusaha tersenyum. "Tidak, sebelum Mama bilang apa yang terjadi! Di mana Papa?" Tanyanya dengan nada tinggi, "apa yang sudah Papa lakukan sama Mama? Mama tidak bisa pergi seperti ini! Rossi pasti akan marah Ma" tambahnya.
Mendengar ia menyebut Rossi membuat hatiku semakin teriris. Aku menangis "nanti Mama yang akan bilang pada Rossi, kamu tolong angkat semua koper ya. Di dapur juga ada, perlengkapan baking Mama" sahutku. Wajah William terlihat sangat bingung, ia mulai menangis dan berlutut di depanku. Siapa pun pasti akan merasa bingung saat dihadapkan dengan posisi seperti ini, ketika kembali melihat ibu mereka sudah mengemasi semua barang dengan mata yang sembab.
Hampir sepuluh menit kami terdiam di dalam kamar, William tak juga mengangkat semua koper itu hingga aku meminta tolong pada supir dan tukang kebun kami. Tak lama Rossi berlari ke dalam kamar dan memelukku sambil menangis, aku menangis di pelukan Rossi dan membalas pelukannya. "Kamu tidak apa-apa?" Tanyaku, Rossi tetap menangis, aku membelai kepalanya dengan lembut dan berusaha menghentikan tangisku. "Heii..tidak apa-apa, semua pasti berlalu" tambahku, Rossi melepaskan pelukannya dan mencium keningku.
"Mama tidak apa-apa? Maafkan aku, aku salah memilih wanita. Dia tidak pantas melakukan ini pada Mama setelah apa yang Mama beri padanya" sahut Rossi yang tidak juga menghentikan tangisnya, aku membelai wajah anakku itu dengan sangat lembut "Mama tidak apa-apa, kamu bagaimana? Mama memikirkan kamu, kamu sangat mencintai Sakura" balasku. "Jangan sebut namanya Ma, dia membuat aku membencinya seumur hidupku! Aku tidak masalah kehilangan wanita jalan seperti dia, tapi Mama? Papa juga terlalu brengsek setelah puluhan tahun hidup di samping Mama, di mana dia sekarang?" Tanya Rossi yang sudah tidak bisa memendam emosinya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Mama sama Rossi disakiti?" Tanya William yang sedari tadi hanya diam dan memerhatikan kami. "Ke sini Will" ucapku, Will pun mendekat sambil menatapku dan Rossi secara bergantian. "Papa dan Sakura, mereka..." aku tak bisa melanjutkan ucapanku, "Papa mengusir Mama dan mengambil Sakura dariku" sahut Rossi dengan cepat. Wajahnya memerah dan napasnya sangat berat, "APA? DIA SUDAH GILA YA! MEREBUT ISTRI DARI ANAKNYA SENDIRI? CARI MATI! DI MANA DIA SEKARANG? PANTAS AKU TIDAK MENEMUKANNYA SEDARI TADI" balas Will.
William terkenal lebih tempramental di bandingkan Rossi, jadi dia pergi secepat kilat sebelum aku sempat menahannya. Sementara Rossi hanya menatapku yang sudah kembali menangis, Pak Adam, salah satu supir kami masuk untuk mengambil koper terakhir "Mama mau ke mana?" Tanya Rossi, "Mama punya rumah Rossi dan Mama akan ke sana, kamu mau ikut?" Jawabku, Rossi mengangguk sebagai jawaban. "Ya sudah, cepat kemasi semua barang. Kita akan pergi sebentar lagi" sahutku. Aku mengambil ponsel dan menghubungi William, aku takut dia akan kecelakaan karena menyetir dalam keadaan emosi.
William tidak mengangkat teleponku, tetapi aku sudah menyuruh salah satu pembantu untuk mengemasi barang-barang William. "Dia akan ikut denganku" pikirku, aku tahu William tidak bisa jauh dariku jadi tanpa perlu bertanya aku akan menyiapkan semua perlengkapan miliknya. Dua jam berlalu, semua sudah masuk ke dalam dua mobil milikku dan Rossi "tinggal menunggu William" ucapku pada si sulung. Tak lama, William datang dengan emosi yang sangat meledak-ledak dan wajahnya sudah memerah padam. "Aku tidak menemukan si brengsek itu! Dia harus tahu akibatnya menyakiti Mamaku!" Ucap Will menggebu-gebu, "sudahlah kita harus berangkat Will, Mama sudah kemasi semua barang dan sekarang tinggal dimasukkan ke dalam mobilmu" sahutku dengan lembut.
Malam itu kami meninggalkan rumah, termasuk para pegawai toko yang tinggal di rumah Andreas. Beberapa pembantu dan supir ikut denganku tanpa diminta, rumah itu sepi dan kosong seketika. Kami pergi beramai-ramai dan membangun kehidupan baru di rumah lamaku. Andreas tidak pernah tahu keberadaan rumah yang kubeli beberapa tahun sebelumnya. Tadinya kupikir ini akan menjadi rumah Rossi atau William, tetapi sekarang kami tinggal di sini. Membangun kehidupan baru dan menyembuhkan luka kami tanpa gangguan.
Toko rotiku, atau bisa kusebut toko kue, tetap berjalan seperti biasa hanya saja berpindah lokasi. Semua akses Andreas atau Sakura untuk menghubungi kami sudah ditutup bahkan semua keputusan aku dan Rossi serahkan pada pengadilan. Apa pun keputusannya, kami akan tetap melanjutkan hidup meski terasa sangat berat. Rossi dan William berganti pekerjaan, sedangkan aku membatasi orang yang melihat toko daringku. Semua orang kami minta tutup mulut jika Andreas atau Sakura menanyakan keberadaan kami. Hidup yang terasa sempurna bisa hancur seketika dan berjalan seperti di film-film romansa. Bedanya, kali ini sangat nyata dan melibatkan dua perasaan ibu dan anak.
