Konten dari Pengguna

Suami Pesta Seks di Saat Aku Melahirkan di Rumah Sakit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pixabay.com

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Enam bulan lalu aku membawa anak pertamaku lahir ke dunia. Aku dan Regan sudah empat tahun menanti dengan bahagia kelahirannya di tengah keluarga kecil kami. Saat itu aku masih tinggal bersama Regan, ia sangat cekatan ketika merawatku.

Hari kebahagiaan itu tiba, anak perempuanku lahir dengan selamat dan sehat. Namun kondisiku tidak memungkinkan untuk langsung kembali ke rumah. Beberapa hari pertama Regan selalu datang ke rumah sakit dan merawatku tetapi belakangan ia tidak lagi muncul.

Regan hanya menghubungiku via telpon sambil aku memperlihatkan wajah anak kami. Regan menyaksikan saat putri kami membuat suara pertamanya, aku merasa sangat bahagia melihat tingkah suamiku. Hari demi hari kami lewati hanya melalui telepon, Regan mengatakan kalau dirinya tengah sibuk dengan beberapa urusan pekerjaan.

Aku merasa hidupku saat itu sudah sempurna dan tidak ingin berpisah terlalu lama dengan Regan. Jadi aku meminta secara paksa untuk pulang dari rumah sakit bersama bayiku. "Regan akan mendapatkan kejutan terbaik di hidupnya" pikirku. Aku sengaja tidak ingin memberitahu Regan dan ingin menjadikan itu sebagai kejutan tetapi sayangnya justru akulah yang terkejut dibuatnya.

Ketika aku masuk ke dalam rumah, aku mendengar suara musik yang sangat kencang, botol kosong berserakan, dan beberapa wanita yang hampir telanjang. Aku akan mengerti jika dia merayakan kegembiraan atas kelahiran anak pertamanya bersama teman-teman. Namun aku tak menemukan satu pun temannya ada di dalam rumah kami.

Sejauh mataku memandang, aku hanya melihat banyak sampah dan wanita hampir tanpa busana melenggang dengan nyamannya ke sana ke mari. Regan tidak berpikir kalau aku akan kembali secepat itu, aku mencarinya di setiap ruangan di dalam rumah. Aku menemukannya tengah bersama satu wanita tanpa busana, ia dengan fokus mencumbui wanita itu.

Mata wanita itu bertemu dengan mataku dan ia memberi sinyal pada Regan untuk menghentikan aktivitasnya. Regan sempat marah pada wanita itu lalu menoleh ke arahku yang datang sambil mendekap seorang bayi yang baru saja lahir. Dengan cepat Regan mengusir wanita itu dan menyuruhnya membawa pergi semua temannya.

"Tolong maafkan aku" ucapnya dengan wajah bersalah, "aku ingin menggendong anakku" tambahnya. "Jangan sentuh anakku! Kamu tidak pantas mendapatkannya" jawabku. Kemudian aku berpaling dari Regan dan masuk ke dalam kamar bayi sambil membawa beberapa barang dari rumah sakit.

Sepersekian detik aku berpikir akan memaafkannya dan memulai kehidupan baru yang telah kami dambakan selama ini. "Oke dia adalah pria, dia pantas bersenang-senang. Aku akan menurunkan sedikit harga diriku dan memaafkannya" perintahku dalam hati. Namun semua pemikiran itu berubah ketika aku menemukan bra di atas keranjang tidur bayiku.

Entah mengapa semua pikiran tentang memaafkannya dan memulai hidup baru kami hilang begitu saja. Di hari yang sama, aku pergi meninggalkan Regan sendirian dengan kekacauan yang ia ciptakan. Aku pergi ke rumah temanku dan keesokan paginya mengunjungi orang tuaku yang tinggal di kota berbeda.

Ketika aku menceritakan apa yang kualami kepada beberapa teman, mereka membela Regan. "Itu terjadi pada setiap pria, mereka melakukan hal bodoh lalu meminta maaf dan merasa menderita. Kenapa kamu menghancurkan keluargamu hanya karena masalah ini?" setidaknya itulah yang mereka katakan padaku. Tetapi yang bisa kuingat hanyalah bra di dalam keranjang tidur anakku, aku tidak menyesali keputusanku meski itu harus menentang pendapat mereka.