Konten dari Pengguna

Suamiku Selingkuh Buat Mertua Berubah Menjadi Baik dan Menganggap Anak-anakku

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pixabay.com

Disclaimer: Cerita ini adalah karangan semata. Bila ada kesamaan nama, waktu, tempat, profesi, dan kejadian itu bukan merupakan kesengajaan.

Namaku Mikaila, aku menikah dengan pacarku karena hamil di luar nikah. Saat itu usiaku masih 20 tahun dan pacarku 22 tahun, kami menikah saat usia kandungan sudah jalan tiga bulan. Semua keluargaku histeris saat mendengarnya, ayahku terpuruk dan menjadi pendiam.

Aku berasal dari keluarga kurang mampu, kedua orang tua ingin aku bekerja dulu untuk membantu memperbaiki perekonomian keluarga. Aku memiliki empat saudara, dua pasang, dan yang sudah menikah hanya dua kakakku. Kakak pertama laki-laki, kehidupan pernikahannya tidak berjalan mulus dan kini ia menjadi buronan, sedangkan kakak kedua tidak jauh berbeda-- tetapi ia tidak buron melainkan kerja di salah satu rumah makan.

Harapan mereka adalah aku, tetapi sayang semuanya kacau. Singkat cerita, pernikahan itu terjadi dan aku hanya dibawakan mas kawin seadanya. Kehidupan percintaan kami, aku rasa menyenangkan karena sudah menikah dan hidup bersama, seperti cita-cita kami dulu. Aku mengandung buah cinta kami, kami bahagia-- tapi tidak dengan mertuaku.

Di saat orang tuaku berusaha untuk menerima, mertuaku justru ingin melupakan segalanya. Aku diberi tempat tinggal di kota yang sama dengan orang tuaku meski sedikit agak jauh. Tempat itu terpencil, namun bersyukur aku dan keluargaku tidak kehujanan di jalan.

Anak pertamaku lahir, semua keluargaku datang untuk memberi dukungan dan melihat malaikat kecil kami. Mertuaku datang, tapi dia tidak melihatku. Ia hanya melihat cucunya dari jauh, memberikan bingkisan, kemudian pulang.

Aku merasa sakit hati sekali, meski cara kami menikah salah-- tapi anak kami tidak ada hubungannya dengan itu semua. Biarlah aku yang dibenci, jangan anakku. Sepulangnya dari rumah sakit, dan membawa serta malaikat kami, aku kembali mengurus rumah seperti biasa.

Saat itu suamiku tidak bekerja dan aku hanya menjual tas secara online yang aku ambil dari toko tempat aku bekerja dulu. Semua pemasukan kami dari sana, aku yang membiayai semua kebutuhan rumah dan anakku.

Suamiku hanya mengantar ke rumah orang tuaku untuk menitipkan anakku atau pergi mengambil barang dan membawanya ke rumah, setelah itu kembali ke ekspedisi untuk mengirimkan barang.

Ya, hanya itu tugasnya. Toko online-ku sudah cukup terkenal dan memiliki banyak pelanggan setia, aku bersyukur semua kebutuhan si kecil dan rumah terpenuhi dengan baik walau tidak seberapa. Aku sangat bersyukur meski tidak kerja kantoran layaknya suami-suami lain setidaknya ia tidak malas dan berselingkuh.

Beberapa kali lebaran aku pergi ke kampung halaman suami untuk bersilaturahmi dengan mertuaku. Aku bersusah payah menabung untuk pergi ke sana berempat, selama menjadi menantunya tidak pernah mereka menghubungi untuk menanyakan anakku. Seolah anakku adalah cucu yang paling tidak diinginkan.

Tiba waktunya untuk anak pertamaku memulai sekolah, aku dan suami sudah pusing bagaimana bisa menjalani semuanya ditambah uangnya sudah habis karena pulang kampung beberapa waktu lalu. Namun, ternyata rezeki anak memang selalu ada, aku bisa menyekolahkannya meski dengan barang dari pemberian orang lain.

Semua berjalan baik-baik saja meski selalu ada kerikil di dalam rumah tangga kami. Saat anak pertamaku akan masuk SD, aku mengetahui kalau aku sedang hamil anak kedua. Betapa bahagianya kami dan itu berarti pekerjaan selanjutnya menanti, menabung untuk biaya lahiran.

Aku dengan giat menjajakan dagangan secara online, dia pun masih sering membantu namun kali ini adikku meminjamkan laptop untuk ia menjual desainnya. Keahlian yang ia miliki memang mendesain dan ia terhalang fasilitas untuk menyalurkannya.

Kami berdua akhirnya saling bekerja keras, ia selalu mendapat pesanan desain sambil membantuku mengambil dan mengantarkan barang. Bersyukur anak keduaku bisa lahir dengan normal tanpa kekurangan biaya apa pun. Aku merasa kami telah menjadi orang tua yang kompak untuk anak-anak kami.

Kami saling membantu demi terpenuhinya kebutuhan anak-anak. Hingga suatu hari aku memiliki firasat tidak enak karena memang belakangan ini aku sering menghampiri ibuku yang sudah pindah kota. Aku meninggalkannya sendiri di rumah, sementara aku dan anak-anak bersama ibuku.

Tanteku pernah mengatakan “j\Jangan sering-sering ninggalin suami di rumah nanti dia ada main sama wanita lain,” tetapi aku tidak mengindahkannya. Aku cukup percaya dengan suamiku, “Ia bukan tipe yang mudah jatuh cinta,” pikirku.

Sebulan berlalu, firasat itu semakin memburuk. Saat berada di rumah dan dia sedang tidur, kucoba membuka ponselnya tetapi semua kata sandi diganti. Semakin menguat kecurigaanku, aku membuka dengan sidik jarinya dan melihat ada satu aplikasi yang asing bagiku.

Aku coba membuka aplikasi itu tetapi memakai kata sandi. Perlahan aku menggerakkan kembali jemarinya agar aplikasi itu bisa terbuka. Ketika aplikasi itu terbuka muncullah pesan-pesan dari banyak wanita dan ada satu yang selalu mengirimi dia pesan dengan nada mesra.

Aku meng-capture percakapan mereka dan mengirimkannya ke Whatsapp-ku, lalu pesan itu aku hapus dari profilnya. Darahku sudah mendidih, ternyata benar apa yang selama ini dikatakan oleh tanteku. Aku berusaha tenang karena hari itu sudah malam, aku tidak ingin membangunkan anak-anak yang baru saja terlelap.

Keesokkan harinya, setelah dia mengantar anak pertamaku sekolah dan adiknya sedang berada di rumah saudaraku, aku kirimkan kembali beberapa foto dari percakapan mereka ke Whatsapp-nya. Jarak antara kami tidak jauh, jadi jelas sekali terlihat bagaimana raut wajahnya. Dia terlihat terkejut dan langsung menghampiriku.

Saat itu di rumah hanya ada kami berdua, aku mengamuk sejadi-jadinya. Aku hubungi orang tuanya dan mengatakan bagaimana kelakuannya. Mertuaku nangis dan mendengarkan semua pertengkaran di antara kami. Aku merasa berjuang sendirian, aku yang berusaha menghidupi keluarga kami, membesarkan seorang diri anak-anak kami-- tapi ternyata dia tega mengkhianatiku.

Aku memutuskan untuk bercerai saat itu juga. Semalam tanpa sepengetahuannya, aku sudah mengemasi pakaianku dan anak-anakku. Akan aku bawa semua anakku dan tidak sudi untuk tinggal dengannya. Ketika anak pertamaku pulang, aku langsung mengajaknya pergi ke rumah orang tuaku tetapi sebelumnya menjemput anak keduaku terlebih dulu.

Suamiku memohon-mohon untuk tidak bercerai, berkali-kali telepon dari mertuaku tidak aku angkat. Keputusanku sudah bulat, aku bisa menghidupi anak-anakku seorang diri. Selama ini aku yang menafkahi mereka, suamiku menjual desainnya tidak lebih lama dariku.

Aku pergi ke rumah orang tuaku. Sampai di sana, aku menyuruh keponakanku untuk mengajak anak-anakku bermain dan pecahlah tangisku di dalam pelukkan ibuku. Aku menceritakan semuanya, orang tuaku tidak percaya sampai aku tunjukkan bukti percakapan mereka.

Mertuaku masih terus menghubungiku tetapi aku abaikan. Suamiku berusaha datang ke tempat orang tuaku tetapi dilarang oleh adikku. Orang tuaku memintaku untuk berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk bercerai, memikirkan kondisi anak-anak dan sebagainya.

Saat itu aku tetap pada pendirianku, tidak peduli apa kata orang lain. Aku berusaha menerima apa pun kondisinya tetapi sejahat ini ia membalasku? Aku tidak menoleransi perselingkuhan, apa pun bentuknya. Aku masih sanggup untuk membesarkan kedua anakku seorang diri.

Beberapa hari aku di rumah orang tuaku, tiba-tiba mertua dan suamiku datang menjemputku. Mereka meminta aku untuk tidak bercerai dengan alasan anak-anakku. Suamiku berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi, aku pun menyuruhnya untuk menulis pernyataan di atas materai “Kalau kamu mengulangi perselingkuhan dalam bentuk apa pun, kita akan bercerai dan anak-anak akan tinggal sama aku,” pintaku.

Ia menyetujui dan menulis surat pernyataan dengan isi seperti yang aku minta. Ia menulis kalimat itu dengan tangannya sendiri, “Lebih otentik jika diperkarakan di pengadilan,” pikirku. Aku memfoto saat dia menuliskannya, hal itu disaksikan oleh keluargaku dan keluarganya.

Setelah menulis pernyataan tersebut, aku menyetujui untuk tidak bercerai karena melihat anakku yang kecil tidak mau lepas dari ayahnya. Beberapa hari kemudian aku membawa kembali semua baju dan pulang ke rumah, aku dan kakak perempuanku memutuskan untuk membuka kedai minuman di dekat rumahku.

Lagi-lagi dia yang membantu mempersiapkan semuanya, sekarang dia enggan mendengar kalau aku sudah membicarakan tentang perselingkuhan siapa pun. Entah itu sesama orang tua murid atau selebriti. Mertuaku pun berubah menjadi lebih baik dengan aku dan anak-anakku.

Mereka bisa menghubungiku tiga kali sehari hanya untuk menanyakan anak-anakku bahkan ketika lebaran mereka mengirimi kami uang untuk pergi ke sana. Sampai di sana anak-anakku sudah disediakan baju dan uang sebagai THR.

Perselingkuhan ini memang membawa hikmah untuk keluargaku, namun bukan berarti aku menoleransi. Jika ia mengulangi hal yang sama, aku tetap akan menceraikannya.