Tak Hanya Lelaki, Istriku Selingkuh Juga dengan Wanita

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi.
Waktu datang ke Jakarta dulu, aku tidak berpikir kalau kehidupan di sini lebih berat dari yang aku bayangkan. Sampai aku bertemu dengan seorang wanita yang kini menjadi istriku. Ia cukup menawan dan tubuhnya mungil.
Sebelum menikah denganku, ia tinggal di kos-kosan kecil dekat dengan tempat kerjanya. Sebenarnya ia hanya pekerja paruh waktu di kafe tersebut dan sisanya mengajar di salah satu tempat ternama. Saat itu aku baru datang ke Jakarta karena ada urusan bisnis dan kemungkinan besar akan menetap. Aku menjalankan perusahaan tekstil yang permintaannya terus meningkat sehingga membuatku cukup disibukkan oleh rapat dengan beberapa mitra kerja.
Aku menjalin hubungan selama dua tahun dengan pelayan kafe itu dan kemudian memutuskan untuk menikah. Kehidupan rumah tangga kami bisa terbilang baik-baik saja meski tak jarang kami berbeda pendapat tentang suatu hal. Tiga tahun menikah, kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang cukup tampan. Aku merasa sangat senang sekali karena akhirnya memiliki keturunan di usia yang terbilang cukup mapan.
Setelah menikah, istriku memang tidak kuperbolehkan untuk bekerja. Aku hanya ingin ia berada di rumah dan mengurus keluarga tetapi aku tidak pernah membatasinya untuk keluar bersama teman-temannya. Kelahiran anak pertama membuatnya sangat sibuk menyesuaikan diri, terlebih ia tidak mau dibantu dalam hal mengurus anak.
Aku hanya bisa mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantunya mengurus rumah. Dia cukup terbantu dengan itu, semakin hari ia semakin lihai mengurus buah hati kami. Aku mengakui kalau dia cukup telaten dalam mengurus anak.
Ketika usia anakku tiga tahun, ia mulai mengajaknya bertemu dengan teman-temannya. “Sekalian playdate dengan anak-anak lain,” katanya, aku hanya membolehkan selama itu tidak membahayakan keduanya. Dua minggu sekali ia keluar bahkan sesekali teman-temannya yang datang ke rumah kami.
Usia anakku semakin lama semakin besar, tetapi ia tidak ingin menambah anak lagi. “Satu sudah cukup,” katanya, apa boleh buat? Aku hanya menuruti kemauannya saja selama kebutuhanku tetap terpenuhi. Seiring berjalannya waktu, usia pernikahan kami bertambah namun keinginannya untuk berada di ranjang juga semakin bertambah.
Jujur saja, usia pernikahan kami baru menginjak enam tahun dan hampir setiap minggu kami melakukannya tetapi ternyata ia tidak pernah puas. Terkadang ia sering mengatakan kalau ia rindu dengan temannya di kafe, “Kalau kamu pengin ketemu kenapa engga kamu temui aja?” Tanyaku. Mendengar hal itu dia terlihat sangat antusias “Bolehkah?” Tanyanya, “Boleh kok,” jawabku.
Rupanya kata “temu” itu berbeda dengan apa yang kumaksudkan. Selama ia bekerja di kafe itu, aku tidak pernah tahu apa saja yang ia kerjakan karena kupikir sama saja dengan pelayan di restoran lain. Belakangan ini aku baru menemukan arti kata “temu” untuknya, yaitu kegiatan yang seharusnya tidak ia lakukan dengan orang lain.
Setelah aku mengizinkan dia menemui temannya sewaktu bekerja di kafe, keesokkan harinya ia pun pergi ke sana. Aku sempat bingung karena ia pergi pada malam hari ketika anak kami sudah tertidur, “Kamu mau ke mana?” Tanyaku “Ketemu temen di kafe,” jawabnya “mereka baru selesai bekerja sebentar lagi,” tambahnya. Aku mengiyakan dan ia pun pergi menggunakan mobilnya.
Aku memutuskan untuk tidur lebih awal karena besoknya harus pergi pagi-pagi sekali ke lokasi pabrik. Entah di jam berapa aku setengah terbangun dan melihat istriku memasuki kamar masih menggunakan pakaian sebelumnya. “Kamu baru pulang? Jam berapa ini?” Tanyaku, “Jam dua,” jawabnya, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian.
Ia naik tidur di sebelahku dan meminta untuk ditemani, setelah itu kami pun tertidur pulas. Esok paginya aku berangkat ke pabrik dan meninggalkan istriku yang masih tertidur. Sepanjang perjalanan menuju pabrik, aku mendengarkan rekan kerjaku yang terus membicarakan wanita-wanita di klub malam. Aku pernah ke sana, tetapi hanya untuk minum bukan mencari wanita.
Aku terus mendengarkan mereka bercerita sambil sesekali melontarkan guyon. Tak lama, kami sampai di lokasi pabrik dan baru melakukan perjalanan pulang di sore hari. Salah satu teman mengajakku untuk mampir ke sebuah klub, aku pikir tidak ada salahnya karena sudah lama sekali aku tidak ke sana. Jadi saat itu, aku menyetujui ajakannya.
Baru mau masuk ke dalam mobil, tiba-tiba istriku telepon meminta izin untuk pergi bersama dengan teman-temannya. Aku menanyakan bagaimana dengan anakku, “Aku titip sama Mama,” jawabnya. Mama adalah sebutan untuk mertuaku, sedangkan ibu untuk orang tuaku.
Aku membolehkan karena memang sepertinya aku akan pulang larut malam. Banyak yang mengatakan kalau aku terlalu membebaskan istriku pergi dengan teman-temannya, tetapi aku kira itu adalah hal biasa. Sebelum anak-anakku besar dan membutuhkan perhatian lebih dari segi pendidikan, aku kira itu hal wajar. Terlebih jika urusan anakku tidak terlantar.
Ketika aku sampai di klub, aku memesan minuman dan mulai melontarkan guyonan. Ada beberapa temanku yang ‘hinggap’ ke wanita lain, sedangkan aku hanya duduk di sofa sambil sesekali melihat kelakuan temanku. Ia sedang asyik menari dan aku sangat menikmati minumanku.
Tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan istriku. Aku berpikir kalau itu hanyalah halusinasiku saja, tetapi semakin aku perhatikan aku semakin yakin kalau itu adalah dirinya. Aku melihat dia sedang berjoget bersama teman wanitanya “Syukurlah,” batinku, tetapi lama-lama wajah mereka mulai berdekatan hingga tidak ada jarak. Aku terkejut tetapi berusaha untuk melihatnya dari jauh.
Aku hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya ia lakukan jika berkumpul dengan teman-temannya. Tak lama ada seorang laki-laki yang memeluk pinggang istriku dari belakang. Aku semakin kaget dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Aku lihat mereka kembali ke bergabung bersama teman-temannya yang lain. Tak lama, istriku pergi membawa tas bersama dengan wanita yang baru saja menciumnya. Aku bergegas mengikuti ke mana mereka pergi, tetapi karena aku baru saja meminum alkohol akhirnya aku memanggil taksi. Aku meminta taksi itu mengikuti ke mana mobil yang membawa istriku pergi.
Mereka memasuki sebuah hotel berbintang, aku berhenti di depan hotel itu dan melihat istriku dari kejauhan. Setengah berlari aku mengikutinya, aku melihat istriku tidak datang ke meja resepsionis dan itu berarti kamar yang dipesan bukan atas nama dirinya. Aku berlari mengejarnya tetapi hanya melihat punggungnya memasuki lift.
Aku menebak di angka berapa ia turun dari layar yang tertera di atas pintu lift. Bersyukur lift itu hanya mengarah pada satu lantai, aku segera masuk ke dalam lift satunya dan memencet tombol 15. Saat aku tiba, aku mencari istriku di kedua koridor hotel, aku melihat ia masih berjalan di salah satu sisinya bersama wanita itu. Mereka mengarah ke salah satu kamar, aku mengikutinya perlahan dan melihat mereka masuk ke dalam.
Dari luar pintu aku mendengar banyak suara, tak hanya perempuan tetapi juga laki-laki. Aku menelepon istriku dan menanyakan keberadaannya, ia jujur kalau sedang berada di hotel berbintang tetapi tidak menjelaskan bersama siapa.
Setengah jam aku menunggu di depan kamar itu, kemudian memberanikan diri mengetuk pintunya. Wanita itu yang membukakan pintu dan sangat terkejut ketika mendapati aku sudah berdiri di depan pintu kamar mereka. Aku melihat apa yang seharusnya tidak terjadi saat itu.
Aku menerobos masuk dan menyaksikan hal yang tidak pernah aku bayangkan. Kemudian istriku melihatku. Ia sangat terkejut dan menghentikan aktivitasnya, aku menariknya ke kamar mandi untuk segera berpakaian. Lalu menyeretnya keluar dari kamar hotel itu tanpa sepatah kata pun.
Aku merebut tasnya dan mencari kunci mobil. Aku menyuruhnya masuk dan kami segera pergi ke rumah, sepanjang jalan ia mencoba menjelaskan “DIAM!” Teriakku. Aku masih menalarkan semuanya, apa yang selama ini ia inginkan, ia pikirkan sampai melakukan hal seperti itu.
Ketika sampai di rumah, aku menyeretnya ke dalam kamar. Aku tidak terbiasa mengumbar aib keluargaku dan terdengar oleh banyak orang, terlebih di dalam rumah ada asisten rumah tangga dan sopir. Aku tidak ingin mereka malah bergosip tentang keluargaku.
Aku menyeretnya masuk ke dalam kamar dan kuberi dia waktu untuk menjelaskan semuanya. Ia bercerita “Aku sudah terbiasa melakukan hal itu, apalagi kalau ada permintaan. Aku tidak bisa menolak. Selama ini aku juga sering main dengan sesama temanku.” “Kamu sendiri yang membolehkan aku bertemu dengan teman-temanku di kafe, temu itu berarti melakukan hal itu,” tambahnya. Ia terisak hingga saat berbicara pun kalimatnya terputus-putus.
Ia menjelaskan kalau setelah menikah denganku ia merasa seperti terpenjara karena hanya bisa menikmatiku. Sedangkan ia terlalu takut untuk meminta izin agar ia bisa menikmati teman wanitanya. Semua penjelasan itu kudengar sampai tuntas tanpa kupotong sedikit pun.
Ia meminta maaf padaku karena selama ini memang ia memiliki penyimpangan secara seksual dan tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Melihat dia berselingkuh dengan laki-laki saja sudah membuatku sangat marah, apalagi jika ditambah kenyataan kalau ia juga senang dengan wanita.
Aku sudah tidak bisa berkata-kata dan meninggalkannya di kamar, tetapi kali ini, kamar itu aku kunci agar ia tidak bisa ke mana pun. Aku kembali ke klub dan tidak menemui teman-temanku, aku terus berpikir bagaimana cara mengatasi semuanya. Bukan salahnya jika ia memiliki penyimpangan seperti itu, tetapi bagaimana cara mengobatinya?
Aku menelepon salah satu teman dan memintanya untuk datang menemuiku. Dia adalah sahabatku dan aku mulai menceritakan semuanya. Usia pernikahanku masih terbilang muda, jika bercerai aku memikirkan nasib anakku. Aku tidak ingin dia tinggal dengan kondisi ibu dan ayahnya tidak berada di dalam satu rumah yang sama.
Temanku tidak terkejut saat mendengar ceritaku “Itu mah hal biasa,” katanya. “Gue heran sama lu yang mau nikahin wanita itu di kafe, dari gerak tubuhnya aja sudah ketahuan kalau ada yang tidak beres,” lanjutnya. “Gue harus gimana?” Tanyaku, “Bawa ke dokter, dia bisa kok disembuhin kalo memang dia mau sembuh,” jawabnya.
Aku diberi rekomendasi dokter yang bisa mengobati kelainan seksual istriku. Esok pagi aku baru kembali dan menemuinya, sedangkan anakku tetap berada di rumah mama. “Kamu mau sembuh atau masih tetap seperti ini?” Tanyaku ketika menemuinya di dalam kamar. Sepertinya ia menangis semalaman dan tidak tertidur.
“Aku mau sama kamu dan anak kita” jawabnya, “mulai minggu depan kamu ikut terapi dengan dokter, akan aku jadwalkan dan kamu tidak boleh keluar dengan teman-temanmu sampai dinyatakan normal,” lanjutku. Kemudian aku meninggalkannya ke kamar mandi lalu beristirahat.
Hari itu cukup berat bagiku, aku mematikan telepon karena tidak mau diganggu urusan pekerjaan. Istriku tertidur di sebelahku, ia tidak berani memeluk atau menyentuhku. Melihatnya seperti itu membuatku sedih, tetapi aku masih marah karena dia telah berani selingkuh dariku.
“Kamu jadi jijik ya sama aku?” Tanyanya ketika aku hendak keluar kamar. Pertanyaan itu yang menonjok hatiku, aku berbalik kemudian memeluknya. Ia menangis dalam pelukkanku dan tidak mengatakan apa pun. Sebenarnya aku tidak jijik, hanya marah pada kenyataan yang seperti ini.
Keesokkan harinya aku mulai menjadwalkan istriku dan ia mulai rutin terapi setiap dua minggu sekali. Cukup lama bagiku untuk benar-benar sembuh dan ia masih menjalani terapi itu hingga sekarang. Ia menuruti kata-kataku untuk tidak pergi bersama teman-temannya, bahkan dia sendiri yang mematikan ponsel dan menjauh.
