Konten dari Pengguna

Tidak Hanya Satu, Kini Aku Menjadi Sugar Baby untuk 2 Laki-laki Sekaligus

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pixabay.com/Tumisu
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pixabay.com/Tumisu

Disclaimer: Cerita ini adalah karangan semata. Bila ada kesamaan nama, waktu, tempat, profesi, dan kejadian itu bukan merupakan kesengajaan.

Usia 20-an memang menjadi hal menyenangkan bagiku, aku seorang wanita. Menurut beberapa temanku, aku cukup cantik dan menarik, hidungku mungil, tubuh proporsional, tinggi, putih, dan berbulu. Kata orang kalau berbulu itu memiliki hasrat seksualitas yang tinggi.

Aku pikir mereka benar karena menjalin cinta dengan satu sugar daddy saja tidak cukup buatku. Pertama adalah Hendrik, dia seorang pengusaha batu bara di kota seberang tetapi sering ke kotaku untuk urusan bisnis, katanya. Kami bertemu di sebuah bar, saat itu aku sedang bersama teman-temanku dan sudah hal lumrah kalau ada ‘kode’ dari lelaki lain.

Penasaran, aku hampiri dia. Dia memiliki garis wajah yang keras, berkulit gelap, tinggi, dan berbadan besar. Saat aku tanya kenapa dia melihat ke arahku, ia menjawab ingin mengenalku lebih jauh. Kami pun bertukar cerita, sejak itu ia jujur kalau ia memiliki keluarga di tempat asalnya.

Hubungan dengan istrinya tidak baik karena istrinya hanya menginginkan uang, bukan dirinya. Aku mendengarkan setiap cerita detailnya, apa usahanya, di mana ia tinggal, bahkan ia menunjukkan foto istrinya. Ia sudah memiliki anak, tetapi masih sangat kecil sehingga tidak bisa diajak bertukar pikiran.

“Mungkin saat ini ia hanya membutuhkan teman cerita” pikirku. Singkatnya kami berpisah dengan bertukar nomor kontak, aku harus pergi ke sebuah tempat untuk mengunjungi temanku. Dua hari kemudian ia menghubungiku, meminta aku untuk datang ke tempatnya.

Aku bertanya di mana alamatnya dan ternyata cukup dekat dari tempat aku nongkrong bersama teman-teman. Setengah jam kemudian, aku pamit kepada teman-temanku dan mendatangi apartemennya. Di sana ia sudah meminum-minuman keras dan tampak kacau sekali.

“Kenapa?” tanyaku, ia menyuruhku duduk dan bercerita kalau temannya melihat istrinya bersama pria lain. Ia bahkan dikirimi foto saat istrinya bersama pria itu, ia meneguk habis minuman yang ada di tangannya. Aku mengambil gelas itu dan menyuruhnya untuk mandi.

Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, aku hanya ingin melihatnya kembali percaya diri dan nyaman. Tidak kacau seperti saat ini. Ia menuruti kemauanku, setelahnya aku menghampiri dan melakukan servis untuknya. Ia menyambutku dengan sangat baik.

“Kenapa kamu melakukan ini?” Tanyanya setelah semua itu selesai “aku tidak suka melihat seorang lelaki tampan sepertimu tidak percaya diri” jawabku. “Aku sudah punya istri, lalu sekarang bagaimana? Apa kamu masih mau menjadi kekasihku?” Tanyanya, “aku tidak ada masalah dengan istrimu selagi dia menyakitimu untuk apa dipikirkan” jawabku.

Ia tersenyum manis menatapku “tapi aku tidak suka komitmen” tambahku. Dia menatapku heran “kenapa?” Tanyanya, “kamu sudah beristri dan suatu saat nanti kamu pasti akan kembali padanya, aku tidak mau terluka karena itu” jawabku tegas. Ia menyetujuinya, sejak saat itu kami menjalin hubungan terbuka.

Layaknya seorang kekasih, ia memperlakukanku bak ratu. Ia menyuruhku untuk tinggal bersama di apartemennya dan membelikan apa pun yang aku mau. Begitupun dengan aku, aku merawatnya seperti seorang istri.

Berbulan-bulan aku menyembunyikan kehadirannya di antara teman-temanku. Mereka mulai curiga dengan apa yang aku lakukan, tetapi aku tidak memberitahu mereka. Mereka tahu kalau aku tidak suka jika urusanku dicampuri oleh orang lain.

Mereka hanya mengamati lalu mengunci mulut rapat-rapat. Beberapa kali Hendrik menjemputku saat bersama teman-teman atau mereka melihatku jalan dengan Hendrik di sebuah mal. Mereka tahu tetapi tetap diam.

Kebetulan mayoritas temanku adalah laki-laki, tidak sulit untuk meminta mereka menyimpan rahasia. Saat bersamaku, Hendrik tidak mengangkat atau membalas pesan istrinya. Ketika aku tertidur, barulah ia membalas semua pesan istrinya. Kelihatannya mereka tidak ada masalah jika membalas pesan dalam jeda waktu yang lama.

Aku mengetahui hal itu karena sempat memergoki beberapa kali ia menelepon istrinya. Ketika melihat aku bangun, ia buru-buru untuk menutup telepon itu. Sudah kubilang aku tidak apa-apa, tetapi sepertinya ia sangat menghargai kedekatan kami.

Tiga tahun hubungan kami berjalan meski tanpa komitmen apa pun, sesekali Hendrik kembali ke kota asalnya dan meninggalkanku sendiri di apartemennya. Saat Hendrik tidak ada, aku puas bermain dengan teman-temanku dan terkadang tidak kembali ke apartemennya.

Ketika itu Hendrik sedang kembali pada istrinya untuk jangka waktu yang cukup lama. Aku diajak oleh seorang teman untuk makan di sebuah lounge bersama teman-temannya, aku menyetujui hal itu “apa salahnya menambah teman?” Pikirku.

Aku dijemput oleh salah seorang teman dan langsung menuju tempat yang dituju. Sesampainya di sana aku melihat banyak sekali orang yang tidak aku kenal “ini ada acara apa?” Tanyaku “cuma farewell party” jawabnya. Aku mengernyitkan dahi “farewell party tapi mengajak orang yang tidak sama sekali mereka kenal bagaimana bisa?” Pikirku.

Aku tidak pernah bekerja, hidupku hanya untuk pria dan teman-teman. Ke mana-mana mereka membayariku bergantian bahkan ketika ke luar kota atau liburan, aku tidak mengeluarkan uang sedikit pun, mereka menanggung semua kebutuhanku.

Dulu kondisi ekonomi keluargaku cukup dikatakan berada, tetapi sekarang sudah bangkrut. Mereka berpisah dan sekarang sudah memiliki kehidupan masing-masing. Awalnya aku ditentang oleh mereka karena kehidupanku "sudah kelewat bebas", katanya. Aku tidak menghiraukan peringatan mereka dan seiring berjalannya waktu, mereka menerimaku apa adanya.

Mereka selalu tahu di mana aku berada, tetapi tidak pernah menanyakan dengan siapa dan di mana aku tinggal, seperti orang tua pada umumnya. Mulanya aku sedih, tetapi sekarang aku menikmati karena dengan begitu aku benar-benar bebas menyetir hidupku sendiri.

Saat berada di lounge itu, aku dikenalkan oleh beberapa orang. Salah satunya George, seorang bule asal Australia yang benar-benar menawan. Temanku bilang kalau ia yang akan keluar dari kantornya. Aku mendekatinya dan bertanya banyak hal, layaknya seorang teman yang sudah lama bertemu.

Ia menyambut pertanyaanku dengan baik. Ia bilang kalau setelah ini akan kembali ke Australia dan menjalankan project lain di sana. “Apa kamu akan kembali ke sini?” Tanyaku, ia tersenyum dan menjelaskan kalau perusahaan yang akan ditempati di Australia masih berhubungan dengan Indonesia. Jadi, dia akan sering berpindah negara, Australia-Indonesia, untuk menjalankan perusahaan itu.

Malam itu aku habiskan banyak berbincang dengannya sambil sesekali mengikuti acara yang memang sudah diatur. Ia meminta kontakku dan aku memberikannya. Sepertinya orang-orang di sana sangat paham kalau kami sedang ada 'sesuatu' dan mereka tidak berani mendekati kami.

Kami bercerita banyak hal dan dia memintaku untuk ikut dengannya ke tempat yang lebih sepi. Sambil membawa gelas minuman aku mengikutinya, ia membawaku ke puncak gedung. Kami menikmati minuman dan pemandangan gedung-gedung tinggi.

Di sana, kami berbincang banyak hal. Mengetahui latar belakang masing-masing dan apa yang selama ini kami kerjakan. Tentu aku tidak membocorkan kalau aku sedang dekat dengan seorang pria, itu akan membuat suasana tidak enak.

Hampir satu jam kami di puncak gedung, aku mengajaknya untuk turun. Benar saja, temanku sudah panik mencariku. Ia mengembalikanku ke temanku dan kami segera pulang. Saat perjalanan pulang, ia mengirimiku pesan “senang berkenalan denganmu.” Aku tersenyum dan mulai saling berbalas pesan.

Sepertinya temanku sudah paham, ia hanya menggodaku saat aku tersenyum membaca sebuah pesan. Temanku mengatakan kalau George akan menikah setelah kembali ke Australia, aku menatapnya terkejut. Aku tidak ingin merebut seseorang yang tidak bermasalah dengan kekasihnya, tetapi aku sudah mulai tertarik dengannya.

Aku mulai mengabaikan pesannya, tetapi ia terus menghubungiku. Ketika aku sudah berada di apartemen Hendrik, ia meneleponku dan aku menyampaikan alasanku tidak membalas pesannya, “aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan kamu, kamu akan menikah” ucapku. Sepertinya ia terkejut kalau rahasianya sudah terbongkar olehku.

Ia meminta aku untuk menemuinya di sebuah restoran esok malam, ia berjanji akan sebagai seorang teman. Aku menyetujuinya, esok malam aku datang menemuinya. Kami makan malam dan dia menceritakan tentang kehidupan asmaranya.

Mendengarnya aku sangat bahagia, ia ingin aku menghabiskan waktu bersamanya karena dua minggu lagi ia akan pergi meninggalkan Indonesia. Sejenak aku berpikir dan mengirimkan pesan ke Hendrik, bertanya kapan ia akan kembali. Hendrik bilang kalau ia akan lama untuk kembali karena anaknya sedang sakit.

Aku menyetujui permintaanya. Singkat cerita, selama seminggu aku menemaninya berkeliling ke tempat-tempat bagus sampai suatu ketika ia mengajakku untuk pergi ke luar kota. Ia sudah menyediakan penginapan dan aku hanya perlu membawa baju.

Tempat itu sangat ingin aku kunjungi, aku menyetujui dengan cepat. Dua hari berlalu, tiba saatnya kami berangkat menuju tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Kami menggunakan transportasi laut agar perjalanan itu terasa lebih berkesan, ternyata ia hanya menyewa satu kabin kapal untuk tempat kami beristirahat.

Aku sempat marah dan menanyakan alasannya, ia bilang kalau kabin ini sangat mahal dan dia tidak sanggup untuk menyewa dua sekaligus. Ia harus berhemat untuk kepulangannya ke Australia, aku terpaksa tidur dengannya karena tidak mungkin aku tidur di dak kapal, itu pasti akan sangat berangin.

Saat selesai mandi dan sedang mengamati laut dari jendela kabin, tiba-tiba ia berdiri di sebelahku. Menikmati pemandangan laut yang tidak berujung pada malam hari, aku tidak pernah merasa mabuk laut tetapi malam itu rasanya aku lelah sekali.

Kami pindah ke tempat tidur dan banyak bercerita di sana, mungkin karena terbawa suasana akhirnya kami berciuman dan melakukan hubungan intim ditemani oleh suara ombak. Paginya kami sudah berubah layaknya sepasang kekasih, ia sering memeluk dan menciumku.

Sesampainya kami di tempat tujuan, ternyata ia memang hanya memesan satu penginapan. “Kamu sudah merencanakan untuk menjebakku ya?” Tanyaku “sekali ini saja, besok aku sudah harus kembali ke Australia” jawabnya. Tanpa sadar ternyata kepulangannya ke Australia tinggal menghitung hari, aku ingin membuatnya tidak melupakanku.

Liburan kami sangat menyenangkan hingga beberapa hari kemudian kami harus kembali. Hendrik sudah mengirimiku pesan kalau ia akan segera pulang dan ia sangat rindu kepadaku. Sepulang dari liburan ini, George pun harus segera pergi ke bandara.

Betapa alam mengatur rapi semuanya. Setelah kepergian George kembali ke Australia, aku menyambut kepulangan Hendrik dengan bahagia. Aku menyukai keduanya tetapi tidak bisa memilih di antaranya, mereka akan meninggalkanku dan kembali pada pasangan masing-masing.

Beberapa minggu kemudian, aku mendengar kabar pernikahan George. Ada sedikit rasa cemburu dan kesal kenapa ia tidak memilihku sebelum pernikahannya. Akan tetapi kalau itu terjadi, aku tidak bisa memiliki Hendrik karena pasti ia akan menetap di Indonesia.

Ketika Hendrik berada bersama istrinya, selalu bertepatan dengan kedatangan George ke Indonesia. Mereka memiliki apartemen masing-masing dan ketika aku harus bersama salah satu dari mereka, aku yang akan datang ke tempatnya.

Pernah sekali waktu mereka ada di kota yang sama dan ingin bertemu denganku. Aku harus merencanakan banyak hal agar kedua hubungan ini tetap berjalan. Mereka berdua memperlakukanku layaknya seorang istri dan berusaha memberikanku yang terbaik. Meski aku kesulitan jika mereka ada di kota yang sama, tetapi aku menikmatinya.

Aku meminta George untuk pindah ke kota lain yang dekat dengan kantornya. George pindah ke kota yang sama denganku hanya untuk memudahkanku mendatangi tempat tinggalnya. Setelah aku meyakinkannya beberapa kali, George akhirnya memutuskan untuk pindah ke kota yang lebih dekat dengan kantornya.

Sekarang, semua kembali berjalan normal. Aku tidak perlu khawatir mereka akan melihatku bersama dengan salah satu dari mereka karena sekarang sudah berbeda kota. Entah sampai kapan ini akan berakhir, aku menikmati masa-masa ini dan sepertinya aku mulai terbawa perasaan kepada keduanya. Sebelum semua ini berakhir, aku akan menikmatinya sebaik mungkin.