Konten dari Pengguna

Williams Syndrom, Penyakit yang Bikin Seseorang Mudah Mencintai Semua Orang

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Williams Syndrom akan membuat orang yang menderitanya akan mudah mencintai semua orang secara merata. Foto. dok: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Williams Syndrom akan membuat orang yang menderitanya akan mudah mencintai semua orang secara merata. Foto. dok: Pixabay

Pernahkah kalian mendengar sebuah sindrom atau penyakit yang membuat seseorang akan mudah mencintai orang lain? Jika belum, ternyata, ada yang namanya Williams Syndrom di mana sindrom ini membuat seseorang akan mudah mencintai orang lain, tidak takut dengan orang asing, dan dia mencintai semua orang secara setara.

Williams Syndrom dikenal sebagai sebuah kondisi genetic yang langka sehingga menghadapi orang dengan Williams Syndrom sama menantangnya seperti menghadapi seseorang yang mengalami autism. Meski mencintai orang lain dengan mudah, mereka nyatanya sulit menjalin persahabatan.

Seorang penulis bernama Jennifer Latson membahas mengenai Williams Syndrom. Dia menulis buku berjudul The Boy Who Loved Too Much: A True Story of Pathological Friendliness. Terbukti, dalam buku itu, orang tua yang anaknya mengalami Williams Syndrom benar-benar harus telaten untuk mengurusi anaknya.

Menurut keterangan di National Geographic, sindrom ini membuat penderitanya memiliki kelebihan hormone oksitosin yang merupakan hormone cinta atau kebahagiaan. Di dunia, satu dari 10 ribu orang mengalami Williams Syndrom.

Pertama kali diindentifikasi penyakit ini di tahun 1960 oleh John Williams. Foto. dok: Pixabay

Latson menjelaskan, seseorang dengan Williams Syndrom cenderung mencintai dan mempercayai semua orang, jadi mereka bisa langsung berlari ke orang yang mereka tidak kenal dan memeluk mereka. Hal ini membuat penderita Williams Syndrom sebagai orang yang rentan.

Lantas, sejak kapan penyakit ini berhasil diidentifikasi? Williams Syndrom diidentifikasi pada tahun 1960-an di Selandia Baru oleh John Williams, seorang ahli jantung yang memperhatikan banyak pasiennya memiliki kondisi jantung sinosis aorta supervalvular.

Hal ini jarang terjadi karena hanya penderita Williams Syndrom yang jantungnya mengalami seperti itu. Williams juga memperhatikan bahwa beberapa pasien memiliki kepribadian yang sama. Dari ciri fisik, mereka memiliki dagu sempit, telinga menonjol, tulang pipi tinggi, dan hidung yang rada turun ke bawah.

Ada beberapa ciri dari orang yang mengalami Williams Syndrom. Foto. dok: Pixabay

Selain itu, penderita Williams Syndrom cukup berbahaya, Mereka bisa cacat ntelektual, kelainan jantung, serta masalah lainnya. Rata-rata IQ-nya juga sekitar 50. Di dalam buku Latson, diceritakan bahwa salah satu hal paling krusial adalah ketika penderita Williams Syndrom beranjak dewasa.

Mereka tidak paham soal seks education sehingga mungkin melakukan hal-hal cukup ekstrem. Kira-kira itulah Williams Syndrom di mana seseorang bisa mencintai dengan mudah seseorang, bahkan yang tidak kenal sekalipun.