“Lupa Termotivasi”: Mekanisme Pertahanan Diri atas Ancaman Identitas Sosial

Guru Sejarah di SMA Negeri 52 Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Cipta S Sajati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peran sejarah dalam masyarakat tidak hanya sekadar cerita masa lalu, melainkan aspek penting pembentuk identitas sosial. Sejarah yang melekat pada suatu kelompok menjadi pembeda dan penanda identitas dari kelompok masyarakat lain. Oleh karena itu, upaya mempertahankan identitas sosial yang telah terbentuk salah satunya diwujudkan dengan mempertahankan versi sejarah yang paling sesuai bagi kelompok tersebut. Apabila terdapat kelompok lain yang berusaha menggugat atau mengancam narasi sejarah versi mereka, mekanisme pertahanan psikologis akan muncul, yang salah satunya dikenal sebagai "Lupa Termotivasi" (Motivated Forgetting).
Mempertahankan identitas sosial adalah kebutuhan dan hak setiap kelompok sosial. Berdasarkan Teori Identitas Sosial oleh Henri Tajfel, setiap individu mendefinisikan diri mereka (self-concept) melalui keanggotaan kelompok, seperti kebangsaan, agama, atau kelas sosial. Dalam prosesnya, individu berupaya meningkatkan harga diri dengan mengidentifikasi secara positif kelompok dalam (in-group) dan membedakan diri dari kelompok luar (out-group). Oleh sebab itu, identitas sosial merupakan hal yang esensial dan layak untuk dipertahankan oleh setiap individu dalam kelompok masyarakat.
Karena pentingnya identitas sosial ini, setiap kelompok kerap berusaha keras mempertahankannya dengan berbagai cara, termasuk dengan terus memegang teguh posisi atau cara pandang mereka terhadap suatu sejarah. Apabila sejarah suatu kelompok diakui sebagai pembentuk identitas sosial, maka kelompok tersebut secara mekanis akan berusaha keras mempertahankan narasi tersebut dan menutup pandangan dari kelompok luar mengenai masa lalu yang melibatkan mereka.
Sebagai contoh, ketika seorang individu sebagai bagian dari in-group menemukan fakta bahwa kelompoknya pernah melakukan kesalahan di masa lalu, namun karena motivasi untuk mempertahankan identitas sosial yang sudah telanjur terbentuk akibat narasi sejarah tersebut, ia akan tetap memihak pada versi sejarah yang paling menguntungkan bagi in-group. Sebaliknya, jika suatu narasi sejarah dianggap merugikan bagi kelompok luar (out-group), individu tersebut akan dengan senang hati menerima dan mengamini versi sejarah tersebut.
Mempertahankan Narasi Sejarah dengan Lupa
Dalam upaya mempertahankan narasi sejarah yang menguntungkan, meskipun mereka tahu narasi tersebut tidak sepenuhnya benar, tetapi karena ancaman terhadap identitas sosial in-group, maka muncullah motivasi untuk melupakan atau berpura-pura lupa terhadap pandangan sejarah yang mengancam tersebut.
Fenomena inilah yang diuraikan oleh Katie N. Rotella dan Jennifer A. Richeson (2013) dalam penelitian mereka yang berjudul Motivated to ‘‘Forget’’: The Effects of In-Group Wrongdoing on Memory and Collective Guilt. Dalam studi tersebut, istilah "Lupa Termotivasi" (Motivated Forgetting) digunakan sebagai mekanisme pertahanan psikologis kolektif. Secara umum, mekanisme ini didefinisikan sebagai proses di mana seseorang berusaha menghindari atau melupakan informasi yang berpotensi memalukan, menyakitkan, atau mengancam. Dalam konteks kelompok, fenomena ini diwujudkan sebagai penolakan kolektif untuk mengakui atau mengingat kembali informasi yang mengancam citra kelompok.
Hasil eksperimen mereka menunjukkan bahwa ancaman terhadap identitas moral kelompok memicu mekanisme pertahanan psikologis yang membuat individu "melupakan" tindakan kekerasan yang dilakukan kelompoknya sendiri, sekaligus mengurangi rasa bersalah kolektif. Wawasan ini vital untuk memahami mengapa konflik dan ketegangan antar kelompok sering berlanjut, terutama karena adanya kegagalan kolektif untuk mengakui atau menghadapi sejarah negatif kelompok sendiri. Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa kecenderungan psikologis individu untuk menghindari atau "melupakan" kesalahan yang dilakukan oleh kelompoknya sendiri (in-group) adalah alasan mengapa sejarah yang diajarkan dan disebarkan sering kali menghilangkan catatan mengenai kekejaman yang dilakukan oleh kelompok tersebut.
Dengan demikian, "Lupa Termotivasi" adalah mekanisme pertahanan kolektif yang didorong oleh ancaman terhadap identitas sosial. Mekanisme ini dimanifestasikan melalui pengaburan, penolakan, atau penghilangan kolektif atas informasi sejarah valid, terutama mengenai kesalahan atau kejahatan yang dilakukan oleh tokoh yang diangkat sebagai simbol kebanggaan kelompok, demi melindungi citra moral in-group sebagai kelompok yang baik, bermoral, dan pantas.
Sebagai sebuah mekanisme bertahan, tidak ada yang keliru dengan mekanisme "lupa termotivasi" selama ia hanya beroperasi sebagai mekanisme pertahanan internal bagi in-group dan tidak dipaksakan menjadi kebenaran mutlak yang harus diyakini oleh out-group. Yang menjadi berbahaya adalah ketika mekanisme ini diupayakan menjadi narasi kolektif yang harus dipercayai oleh publik luas, termasuk kelompok di luar mereka.
Bahaya ini meningkat drastis jika "lupa termotivasi" dilembagakan ke dalam sistem resmi, seperti melalui pelajaran sejarah di sekolah yang terintegrasi dalam kurikulum atau buku ajar. Institusionalisasi ini merupakan upaya pemaksaan kepercayaan yang awalnya hanya diyakini oleh in-group, kini harus dimiliki dan diyakini oleh out-group juga. Versi sejarah yang dibangun melalui narasi pemaksaan ini akan menciptakan beban berat bagi para pendidik, khususnya guru sejarah, terutama saat mereka dihadapkan pada tugas mendidik masyarakat yang dituntut untuk memiliki nalar kritis.
Dampak pada Disonansi Kognitif
Dengan adanya narasi sejarah yang dibangun semata-mata untuk mempertahankan identitas sosial sebagian kelompok, penolakan pasti akan terjadi, terutama dari kelompok luar yang narasi tersebut tidak sesuai dengan pandangan mereka. Dampak ini menjadi kian besar ketika narasi sejarah yang dipertahankan oleh in-group tidak hanya disebarkan untuk anggota mereka, tetapi bahkan dilembagakan dan diklaim sebagai kebenaran tunggal. Salah satu konsekuensi psikologis yang muncul adalah disonansi kognitif pada beberapa individu yang terlibat langsung dalam penyampaian narasi sejarah, khususnya guru sejarah.
Disonansi kognitif, yang awalnya dikembangkan oleh Leon Festinger, adalah keadaan psikologis berupa "pergolakan batin" yang terjadi ketika individu memiliki dua kognisi yang saling bertentangan. Sebagai ilustrasi, ketika muncul konflik batin seperti, "Saya tahu bahwa tokoh pahlawan kita ini pernah terlibat dalam tindakan yang salah atau merugikan sekelompok orang di masa lalu, tapi saya harus mengajarkan dan mempertahankan citra bahwa dia adalah tokoh yang patut dicontoh dan berjasa besar." maka secara alamiah individu akan mencari solusi untuk memulihkan disonansi tersebut dan "menentramkan" sisi hatinya.
Menurut Festingfer, pemulihan ini dilakukan untuk mencapai konsonansi dengan cara menambahkan kognisi baru atau pembenaran Untuk kasus di atas, kognisi tambahan yang mungkin muncul adalah, "Kesalahan masa lalunya hanyalah noda kecil, setiap manusia pasti membuat kesalahan, dan hal itu tidak mengurangi jasa besarnya secara keseluruhan."
Mekanisme ini sesungguhnya wajar dalam ranah psikologi individu. Namun, bagaimana jika diterapkan dalam konteks pengajaran sejarah, yang seharusnya berpegangan teguh pada fakta? Kognisi dalam disonansi kognitif terkadang tidak harus sesuai fakta, yang terpenting ia dapat menjadi "dalih" pembenaran atas keresahan yang dialami. Di sinilah letak kerawanan bagi guru sejarah untuk mengalami disonansi kognitif yang mendalam. Situasi ini semakin berbahaya dilakukan di era informasi terbuka dewasa ini, di mana siswa dapat membantah kognisi yang dibangun guru dengan argumen yang berdasar pada sumber yang lebih valid dan beragam. Alih-alih menjadi fasilitator, guru berisiko dianggap sebagai "mesin usang" karena materi yang disampaikan tidak lagi relevan bagi siswa.
Kontradiksi dengan Pembelajaran Era Modern
Persoalan ini kian kompleks jika lingkungan pendidikan masih diliputi oleh budaya feodalisme yang kuat. Saat muncul bantahan dari siswa atas kognisi yang dikeluarkan guru sebagai 'penentraman hati', sikap feodal dapat menganggap bantahan tersebut sebagai tindakan melawan, tidak sopan, atau kurang ajar. Padahal, dalam konteks akademik, terutama sejarah, diskursus adalah suatu keharusan yang melibatkan tarik-menarik fakta. Bayangkan ironinya: fakta yang disajikan guru hanya bertujuan menentramkan konflik batinnya, sementara fakta yang ditemukan siswa berasal dari sumber yang jauh lebih valid. Siswa menjadi kritis, tetapi guru hanya menjadi perpanjangan tangan kelompok yang sedang berupaya mempertahankan identitas sosial.
Kontradiksi ini semakin tajam ketika disandingkan dengan tuntutan pendekatan pembelajaran modern. Saat ini sedang digaungkan sebuah pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), yang di dalamnya mengusung elemen penting seperti meaningful learning (pembelajaran bermakna), mindful learning (pembelajaran sadar dan aktif), dan joyful learning (pembelajaran menyenangkan). Kontradiksi yang muncul adalah bagaimana tujuan meaningful learning dapat tercapai jika proses penyampaian sejarah oleh guru hanya menjadi ajang pembenaran atas narasi yang dibuat demi peneguhan identitas sosial kelompok tertentu?.
Padahal, jelas bahwa pembelajaran bermakna menuntut materi yang relevan dan dekat dengan kehidupan siswa, serta memungkinkan mereka menarik kesimpulan yang reflektif. Namun, jika guru sejarah hanya mampu menyampaikan fakta yang digeneralisasi sebagai produk narasi pemaksaan dari kelompok tertentu, apakah hal itu akan bermakna bagi siswa? Tampaknya tidak. Yang terjadi hanyalah proses indoktrinasi dan penyampaian fakta yang dipaksakan. Alih-alih menghasilkan individu yang kritis dan tercerahkan, sejarah hanya akan berfungsi sebagai alat pembentuk dan penyeragam identitas sosial.
Sejarah yang Selalu Menemukan Jalan
"Lupa Termotivasi" adalah mekanisme pertahanan diri yang fundamental, namun memiliki dampak yang jauh lebih signifikan ketika dipaksakan sebagai keyakinan mutlak bagi kelompok di luar identitas sosial yang berbeda. Narasi sejarah, yang seharusnya menjadi bahan refleksi, acuan norma, dan dasar bagi rekonsiliasi antar kelompok, justru berbalik menjadi peruncing konfrontasi sosial.
Apabila narasi sejarah hasil "lupa termotivasi" ini terus diupayakan untuk diamini oleh publik dan dilembagakan melalui institusi formal, dampaknya akan merambah ke dunia pendidikan. Alih-alih menghasilkan masyarakat yang bernalar kritis, praktik ini perlahan akan membuat masyarakat kehilangan arah dalam mencapai perubahan yang progresif. Jika mekanisme "lupa termotivasi" ini terus dipertahankan, maka ia akan menjadi instrumen pembentuk masa depan, sesuai dengan kutipan terkenal dari George Orwell: “Who controls the past, controls the future.”.
Akan tetapi sekuat apapun lupa yang termotivasi ini dilakukan bahkan dilembagakan, percayalah sejarah selalu akan menemukan kebenarannya sendiri, ia akan tetap menemukan cahayanya. Tepat rasanya seperti yang diungkapkan oleh grup musik Pearl Jam: “he who forgets will be destined to remember.”
