news-card-video
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna

Ramadan: Momentum Spiritual dan Penggerak Ekonomi

Ciptaning Yodya DP
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi D.I.Yogyakarta
14 Februari 2025 14:23 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ciptaning Yodya DP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Ramadan adalah waktu yang sangat penting bagi umat Muslim di Indonesia. Bulan suci ini bukan hanya menjadi momen untuk beribadah dan merenungkan spiritualitas, tetapi juga memiliki dampak yang besar terhadap perekonomian negara. Setiap tahunnya, kita menyaksikan peningkatan konsumsi masyarakat, aktivitas di sektor perdagangan, serta penyesuaian kebijakan ekonomi yang dilakukan untuk menyeimbangkan permintaan dan pasokan di pasar.
ADVERTISEMENT
Bagaimana Ramadan 2024 akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan apa yang bisa kita harapkan untuk Ramadan 2025, mari kita telusuri lebih dalam.
Ilustrasi buka puasa. Sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buka puasa. Sumber: freepik.com
Ramadan 2024: Lonjakan Konsumsi dan Tantangan Ekonomi
Tidak bisa dipungkiri, Ramadan adalah salah satu periode puncak konsumsi di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi. Pada triwulan pertama 2024, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,91% dibandingkan tahun sebelumnya, mengindikasikan bahwa Ramadan tetap menjadi pendorong utama aktivitas ekonomi.
Sektor yang paling diuntungkan dari peningkatan konsumsi ini adalah makanan dan minuman, di mana permintaan untuk bahan makanan, menu berbuka puasa, serta produk halal meningkat drastis. Selain itu, sektor fashion dan ritel juga mengalami lonjakan, mengingat pembelian pakaian untuk persiapan Idul Fitri masih menjadi tradisi yang terus berlangsung. Sektor transportasi dan pariwisata juga merasakan dampak positif, di mana mobilitas masyarakat, terutama saat mudik Lebaran, mendorong pertumbuhan sektor transportasi dan pariwisata domestik. E-commerce sebagai platform belanja daring pun mencatat lonjakan transaksi, terutama karena berbagai promo dan diskon besar-besaran.
ADVERTISEMENT
Namun, meskipun konsumsi meningkat, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, yaitu inflasi musiman. Peningkatan permintaan dapat menyebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas, yang memberikan tekanan pada daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah. Selain itu, ketimpangan upah dan biaya hidup juga menjadi perhatian. Pada tahun 2024, pemerintah menetapkan rata-rata Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar Rp3,1 juta. Namun, di beberapa daerah seperti Semarang, upah minimum mencapai Rp3,24 juta, sementara di Banjarnegara hanya Rp2,03 juta. Perbedaan daya beli ini menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat dapat menikmati manfaat ekonomi Ramadan secara merata.
Ramadan 2025: Antisipasi dan Peluang
Menatap ke depan, Ramadan 2025 diprediksi akan menjadi periode yang lebih dinamis. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%, dengan harapan daya beli masyarakat dapat meningkat. Beberapa kebijakan yang dapat mendukung stabilitas ekonomi selama Ramadan 2025 antara lain subsidi pangan dan stabilisasi harga. Pemerintah diperkirakan akan memperkuat kebijakan stok pangan guna mengendalikan inflasi dan mencegah lonjakan harga kebutuhan pokok. Selain itu, pemerintah telah mengumumkan kenaikan rata-rata UMP sebesar 6,5%, yang diharapkan mampu mengimbangi peningkatan harga barang dan jasa. Kebijakan moneter yang akomodatif juga diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja, di mana Bank Indonesia baru-baru ini menurunkan suku bunga sebagai acuan untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
Namun, ada beberapa tantangan yang masih harus diwaspadai antara lain:
1. Inflasi Ramadan: Jika pemerintah tidak mengelola pasokan dengan baik, lonjakan harga kebutuhan pokok bisa lebih tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
2. Ketidakpastian Ekonomi Global: Perlambatan ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah dapat memengaruhi daya beli masyarakat serta stabilitas harga barang impor.
3. Perubahan Perilaku Konsumen: Dengan meningkatnya kesadaran finansial, masyarakat cenderung lebih selektif dalam berbelanja. Hal ini bisa berdampak pada sektor bisnis yang mengandalkan konsumsi impulsif.
Ramadan: Momentum Ekonomi yang Harus Dimanfaatkan
Ramadan bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga momentum yang dapat menggerakkan roda ekonomi secara signifikan. Konsumsi masyarakat yang meningkat perlu diimbangi dengan kebijakan ekonomi yang berpihak pada kesejahteraan. Kenaikan upah harus sejalan dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
ADVERTISEMENT
Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat harus bekerja sama agar Ramadan 2025 tidak hanya membawa berkah spiritual, tetapi juga kesejahteraan ekonomi bagi semua lapisan masyarakat. Langkah-langkah strategis seperti menjaga stabilitas harga, meningkatkan akses keuangan bagi UMKM, serta menciptakan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif akan menjadi kunci kesuksesan dalam menghadapi Ramadan tahun depan.
Sebagai individu, kita juga dapat berperan dalam menjaga stabilitas keuangan selama Ramadan dengan mengelola pengeluaran secara bijak. Tidak hanya mengikuti tren konsumsi impulsif, tetapi juga memanfaatkan momen ini untuk merencanakan keuangan jangka panjang.
Ramadan 2025 sudah di depan mata. Apakah kita siap untuk menyambutnya dengan strategi yang lebih matang?
Sumber:
- Berita Resmi Statistik No. 35/05/Th. XXVII, 6 Mei 2024, Badan Pusat Statistik
ADVERTISEMENT
- https://satudata.kemnaker.go.id/infografik/57
- Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 16 Tahun 2024 Tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2025
Ciptaning Yodya Dian Pratiwi