Kisah Perempuan asal Cirebon Membangun 'Istana' Berkat Limbah Kerang

Ciremaitoday.com, Cirebon - Di tangan Nurhandiah J Taguba, limbah kerang bisa menghasilkan produk yang diminati hingga pasar luar negeri. Limbah kerang menjadikan Nurhandiah sebagai salah seorang eksportir asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Nurhandiah, bersama suaminya Jaime Taguba jatuh bangun membangun 'Istana Kerajinan Kerang', nama rumah produksi kerajinan kerang keluarga tersebut. Lokasinya berada di Desa Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.
Truk-truk kontainer selalu sibuk lalu-lalang di rumah Istana Kerajinan Kerang milik Nur. Setiap bulan, Nur harus mempersiapkan ribuan produk untuk dikirim ke sejumlah negara di Asia dan Eropa. "Sekarang sih kirim ke Jepang dan Spanyol. Sebelumnya kita pernah kirim ke Prancis, Kuwait dan lainnya," kata Nur membuka perbincang dengan Ciremaitoday/Kumparan di Istana Kerajinan Kerang, Senin (18/11/2019).
Nur kemudian mengajak Ciremaitoday berkeliling. Istana Kerajinan Kerang milik Nur itu dibagi menjadi beberapa ruangan. Ada ruang display, isinya tentang produk-produk kerajinan, seperti lampu hias, hiasan dinding, kaligrafi, jam, furnitur, dan lainnya.
Ruang display menjadi salah satu ruangan yang mampu menyihir pengunjung. Tak sedikit pengunjung yang terpesona dengan keindahan bentuk, warna, dan keunikan kerajinan kerang yang diproduksi Nur.
Selain ruang display, ada juga ruang produksi, ruang pengemasan dan lainnya. Nur mulai merintis istana kerangnya setelah keluarganya diterpa krisis moneter 1997/1998. Jaime Taguba, suaminya yang bekerja sebagai kontraktor sepi proyek.
"Bagaimana caranya finansial keluarga harus hidup. Akhirnya saya punya ide tentang pemanfaatan limbah kerang, dua tahun setelah krisis moneter sekitar tahun 2000," kata Nur.
Nur menceritakan awalnya kerajinan limbah kerang buatannya tak dilirik oleh pasar lokal. Nur sempat keliling mengikuti pameran di sejumlah mal dan pasar rakyat. Namun, hal itu tak menuaikan hasil. "Tapi, sambutan yang luar biasa itu datang dari pasa luar negeri. Tahun-tahun berikutnya kita mulai kirim ke luar negeri," ungkap Nur.
Negara-negara Asia dan Eropa melirik produk kerajinan kulit kerangnya. Hingga kini, Nurhandiah masih rutin ekspor ke luar negeri. Tahun 2008 hingg 2010 merupakan tahun kejayaannya, dalam dua tahun itu Nur kebanjiran order. "Waktu itu sebulan kita bisa kirim 11 kontainer. Menjelang 2015, pesanan mulai merosot. Hingga sekarang, sebulan hanya dua sampai tiga kontainer," jelas Nur.
Selain mengandalkan ekspor, Nur menerima pesanan kecil-kecilan seperti untuk suvenir pernikahan dan sebagainya. Selain itu, 'Istana Kerang' juga kerap menjadi salah satu destinasi wisata. "Ada kunjungan rombongan juga, yang personal datang ke sini juga ada. Ya membeli di sini. Memang prosentasenya tidak sebanyak yang kita ekspor," papar Nur.
Nur memanfaatkan berbagai limbah kerang, seperti kerang ijoan, dara, dan lainnya. Limbah kerang itu didapatkan Nur dari beberapa pasar dan nelayan. Pemanfaatan limbah kerang tersebut, lanjut Nur, merupakan salah satu cara memberdayakan nelayan.
"Ada juga bahan penunjangnya, seperti lem, resin, plat, besi, kayu, kuningan dan lainnya. Proses pembuatannya tergantung bentuk produknya. Kalau untuk ke luar negeri biasanya dikerjakan selama 45 hari, setelah itu langsung kirim," katanya.
Nur membandrol kerajinan kerangnya dari mulai harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Istana kerangnya selalu ramai dikunjungi wisatawan saat akhir pekan. Tak sedikit wisatawan yang membeli produk Nur sebagai oleh-oleh.
