Langkah Cepat Bupati Cirebon Saat Tahu Atap SMPN 2 Greged Ambruk dan Ada Korban

Konten Media Partner
12 Januari 2024 20:57 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ronianto, saat menerima panggilan video dari Bupati Cirebon, Imron, saat meninjau atap bangunan SMPN 2 Greged yang ambruk. Foto: Tarjoni/Ciremaitoday
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ronianto, saat menerima panggilan video dari Bupati Cirebon, Imron, saat meninjau atap bangunan SMPN 2 Greged yang ambruk. Foto: Tarjoni/Ciremaitoday
ADVERTISEMENT
Ciremaitoday.com, Cirebon-Bupati Cirebon, Imron, telah mengambil langkah cepat terkait kejadian ambruknya atap bangunan kelas dan ruang guru di SMPN 2 Greged, Jumat (12/1) pagi). Saat mendapat kabar kejadian tersebut, ia mengaku langsung memerintahkan kepala dinas pendidikan (kadisdk) untuk segera meninjau ke lokasi.
ADVERTISEMENT
Karena jadwal kegiatan yang padat, bupati pun menyempatkan diri untuk memantau kondisi di lokasi kejadian melalui panggilan video dengan Kadisdik, Ronianto.
"Ada informasi itu ada yang runtuh (ambruk) dua kelas. Tadi saya ngobrol video call dengan kepala dinas. Memang benar tadi di SMPN 2 Greged itu ada runtuh satu kelas dan satu ruang guru," ujar Imron kepada wartawan saat ditemui di Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (12/1).
Atas kejadian tersebut, ia pun langsung memberikan instruksi kepada dinas pendidikan untuk melihat dan memastikan para siswa dan siswi yang menjadi korban baik-baik saja.
Kemudian setelah itu, ia juga meminta agar disdik mengevaluasi dan mendata sekolah-sekolah yang menggunakan kombinasi atap baja ringan dan genteng tanah.
ADVERTISEMENT
Hal itu kata Imron, untuk memastikan agar ke depan tidak ada lagi atap bangunan sekolah yang menggunakan kombinasi tersebut. Sebab, dugaan kuat penyebab atap SMPN 2 Greged ambruk adalah konstruksi atap baja ringan dengan genteng tanah.
"Karena di sana (menggunakan) baja ringan tapi gentengnya genteng tanah. Saya menginstruksikan bahwa sekolah-sekolah yang pakai baja ringan itu harus pakai genteng ringan (metal)," ucapnya.
Meski demikian, ia pun tak menampik bahwa ada faktor lainnya yang menjadi penyebab ambruk. Misalnya faktor alam, dalam hal ini hujan. Karena, informasi yang ia dapat saat malamnya di wilayah tersebut telah turun hujan.
Namun, tegas Imron, kemungkinan faktor alam itu sangat kecil untuk membuat sebuah atap bangunan yang baru berumur sekitar satu tahun ambruk.
ADVERTISEMENT
"Ya memang kalau ini sekolah ya mungkin karena tidak sesuai peruntukannya. Karena kalau baja ringan ya harus pakai genteng yang ringan, ini pakai yang berat," katanya
"Di samping itu juga ya mungkin (faktor) alam, karena hujan, gitu. Tapi kalau memang sesuai walau pun hujan ya tidak akan ambruk," sambungnya..
Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ronianto, mengaku akan mengevaluasi terkait ambruknya atap baja ringan pada bangunan ruang kelas, guru, dan WC di SMPN 2 Greged, Jumat (12/1) pagi. Sebab, ruangan tersebut baru saja di rehab pada tahun 2022.
Dugaan sementara penyebab atap tersebut ambruk, yakni karena konstruksi atap baja ringan yang menggunakan genteng berbahan dasar tanah liat. Harusnya, kata dia, pemasangan genteng tanah liat terlalu berat untuk rangka baja ringan, sehingga tidak kuat menopang genteng tersebut.
ADVERTISEMENT
"Dugaan penyebab kami itu mungkin, karena konstruksinya menggunakan baja ringan tetapi gentengnya itu menggunakan genteng (tanah liat). Sehingga itu bebannya mungkin tidak sebanding. Apalagi tadi malam hujan besar," ujar Roni kepada wartawan saat melakukan peninjauan ke lokasi ambruknya atap bangunan ruang kelas, guru, dan WC di SMPN 2 Greged, Jumat (12/1). (*)