Liburan ke Kuningan, Jangan Lupa Mampir ke Roemah Puyuh Amih Ine

Ciremaitoday.com, Kuningan - Tak jauh dari lokasi wisata Aqua Resort Sangkan Park, terdapat rumah makan sederhana dengan sajian khas olahan burung puyuh. Sesuai sajian olahan burung puyuh, pemilik memberi nama warung tersebut dengan sebutan Roemah Puyuh Amih Ine.
Berlokasi tak jauh dari lampu merah di Desa Bandorasawetan, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Roemah Puyuh menyajikan hidangan ungkep dan pedesan daging puyuh. Dengan racikan bumbu sederhana warisan mertua, Ine menyajikan hidangan puyuh goreng dengan 'cocolan' sambal tumis pedas berikut lalapan segar.
Tekstur daging puyuh yang lembut dan dengan rasa gurih, menjadikan kuliner ini cukup banyak diminati konsumen. Tak sedikit pelanggan yang sengaja datang menikmati daging puyuh goreng ala Amih Ine, sebagai menu makan siang ataupun malam. Bahkan adapula yang sengaja membungkus untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.
“Bisa digoreng disini atau juga ungkepnya. Karena untuk menikmati daging puyuh goreng enaknya selagi masih panas saat baru diangkat dari penggorengan,” kata Ine Rahayu, Senin (30/12).
Mengenai harga, Ine memastikan, bisa dijangkau oleh semua kalangan yaitu paket puyuh goreng hanya Rp17.000 lengkap dengan nasi, tempe, lalapan dan sambal. Termasuk pula untuk menu pedesan puyuh dengan harga senilai Rp17.000/porsi. “Jika tidak dengan nasi, harganya hanya Rp12 ribu saja. Kalau sudah mencoba sekali, pasti ketagihan,” ujarnya.
Ine mengaku, menjalani usaha burung puyuh ini sejak dua tahun lalu. Sebab penjual olahan burung puyuh masih terbilang jarang, sehingga peluang itu tak disia-siakan. “Anak saya di rumah pun sangat suka daging puyuh ini. Apalagi katanya kandungan gizinya sangat bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak,” katanya.
Stok daging burung puyuh sendiri, Ia mengambil dari daerah Indramayu karena cukup sulit mencari di Kabupaten Kuningan. Bahkan untuk membeli dari peternak langsung juga kesulitan, karena harus menunggu masa apkir burung puyuh petelur yang mempunyai masa produktif hingga setahun lebih.
“Yang saya beli adalah burung puyuh petelur yang sudah apkir atau tidak produktif. Sebenarnya ada puyuh pedaging yang biasa disebut puyuh londo, tapi harganya lebih mahal hingga dua kali lipat dari puyuh petelur yang biasanya jadi menu spesial di restoran besar,” imbuhnya.
Dalam sehari, Ine dapat menjual daging puyuh goreng kreasinya tersebut antara 20 hingga 30 ekor. Cukup lumayan untuk mengawali bisnis kecil-kecilan sebagai tambahan uang dapur dan jajan dua anaknya.
Untuk memperluas jangkauan pemasaran, Ia berpromosi dengan memanfaatkan media sosial facebook dan instagram. Cara ini ternyata cukup efektif, sehingga banyak pecinta kuliner puyuh dari luar daerah yang memesan puyuh olahan tersebut.
“Berkat media sosial, burung puyuh saya sudah terbang ke luar Pulau Jawa seperti Bali dan Sumatera. Alhamdulillah para konsumen tidak ada yang komplen, sekalipun perjalanannya ada yang sampai 3 hari, tapi tidak basi dan konsumen mengaku puas burung puyuhnya enak,” pungkasnya.
