News
·
8 Februari 2021 9:16

Misteri Batu Bundar dan Batu Sunan Kalijaga yang Hilang di Kuningan

Konten ini diproduksi oleh ciremaitoday
Misteri Batu Bundar dan Batu Sunan Kalijaga yang Hilang di Kuningan (4210)
Miniatur Gunung Ciremai tersebut terukir rapi pada batu bundar yang berukuran diameter dua meter dan tinggi satu meter di Desa Sadamantra, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. (Tomi Indra)
Ciremaitoday.com, Kuningan, - Gunung Ciremai menyimpan sejumlah cerita dan misteri. Gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat yang menyimpan sejuta keindahan alam yang sangat luar biasa, ternyata ditemukan miniaturnya di atas tanah milik warga Desa Sadamantra, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Miniatur Gunung Ciremai tersebut terukir rapi pada batu bundar yang berukuran diameter dua meter dan tinggi satu meter. Miniatur ini menggambarkan bagian-bagian kawah yang mirip dengan kondisi asli Gunung Ciremai. Hal ini, menjadi keunikan sekaligus daya tarik tersendiri untuk diteliti oleh pihak yang berkompeten.
Apalagi, di bawah batu bundar minatur Gunung Ciremai tersebut, terdapat pula batu agak besar yang mirip Gunung Puteri atau gunung yang lebih kecil. Ditambah, beberapa batu lainnya yang mengelilingi batu induk seperti mengandung pesan dari nenek moyang yang sebelumnya sempat menyelusuri tiap titik daerah tersebut.
Kepala Desa Sadamantra, H. Rasmad mengaku baru mengetahui keberadaan aset budaya yang berada di Dusun Pahing, sekitar tiga tahun lalu. Para sesepuh dan tokoh desa setempat, tidak ada yang memberi tahu keberadaan sekaligus kisah yang melatarbelakangi batu bundar miniatur Gunung Ciremai tersebut.
ADVERTISEMENT
"Apakah sengaja pahat dan diukir oleh orang-orang jaman dahulu sebagai bentuk informasi bagi generasi selanjutnya atau terbentuk secara alamiah karena faktor alam, kami juga belum tahu secara pasti," kata dia.
Sampai saat ini, misteri keberadaan batu bundar miniatur Gunung Ciremai yang mungkin saja peninggalan jaman pra sejarah, belum terkuak dan terpecahkan oleh masyarakat setempat.
“Saya baru tahu beberapa tahun lalu karena para sesepuh tidak pernah menceritakan kisah terbentuknya batu bundar miniatur Gunung Ciremai sehingga sampai sekarang belum terkuak. Namun bagi warga, keberadaan batu bundar yang usianya diperkirakan sangat tua dijadikan sebagai bahan renungan lahiriah dan batiniah saja,” ujar Kepala Desa Sadamantra, H. Rasmad, Minggu (31/1/2021).
Ia menerangkan, beberapa meter dari batu bundar miniatur Gunung Ciremai, terdapat dua batu panjang sejenis menhir dengan ketinggian sekitar tiga meter dan lebar mencapai dua setengah meter yang berdiri kokoh seperti gapura atau pintu masuk. Karena ada jarak di antara kedua batu bersangkutan sekitar 50 cm.
ADVERTISEMENT
Di belakang salah satu batu yang dikenal dengan Situs Batu Jangkung (panjang), terdapat batu penyangga berukuran panjang sekitar satu setengah meter dan tingginya satu meter. Ditambah lagi, bagian depannya, dikelilingi sejumlah batu yang ukurannya cukup besar seperti menunjukan sebuah peta peradaban jaman dahulu.
“Di Blok Pahing, ada tujuh situs. Dan enam diantaranya berkaitan dengan sejarah berdirinya Desa Sadamantra. Tapi khusus Situs Batu Jangkung yang disampingnya terdapat batu miniatur Gunung Ciremai. Saya maupun warga lainnya, benar-benar tidak tahu kisah yang melatarbelakanginya. Hanya saja dipercaya sebagai kunci Gunung Ciremai,” tandasnya.

Batu Sunan Kalijaga

Misteri Batu Bundar dan Batu Sunan Kalijaga yang Hilang di Kuningan (4211)
Batu berbentuk persegi panjang dengan berat sekitar 30 kilogram yang sebelumnya tersimpan di lokasi petilasan Sunan Kalijaga, situs Buyut Salam Desa Sangkanerang, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, diketahui hilang. (Tomi Indra)
Sementara itu, di kaki Gunung Ciremai, batu berbentuk persegi panjang dengan berat sekitar 30 kilogram yang sebelumnya tersimpan di lokasi petilasan Sunan Kalijaga, situs Buyut Salam Desa Sangkanerang, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, diketahui hilang.
ADVERTISEMENT
Juru Pelihara atau Kuncen Situs Buyut Salam Desa Sangkanerang, Ki Suryana (70 tahun) menyebutkan, kejadian hilangnya batu unik yang diberi nama batu Sunan Kalijaga di petilasan yang biasa digunakan untuk musyawarah oleh para wali ini, sudah dua kali terjadi.
Pada kejadian pertama, hilangnya batu tersebut cukup aneh. Karena selang setahun kemudian, muncul lagi di tempat yang sama dalam posisi seperti semula. Namun, saat kejadian kedua, sekitar dua tahun lalu, justru sampai sekarang, tidak muncul lagi.
Ia sendiri selaku juru pelihara merasa heran. Apalagi, hilangnya batu tersebut terjadi secara gaib karena pada kejadian pertama muncul lagi tanpa diketahui bagaimana kembalinya.
“Sampai sekarang, batu Sunan Kalijaga yang cukup unik tersebut hilang dan belum ditemukan kembali,” ujarnya, Minggu (07/02/2021).
ADVERTISEMENT
Kepala Bidang Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdukbud) Kabupaten Kuningan, Muplihudin mengatakan bahwa pemeliharaan terhadap benda-benda pada Situs Buyut Salam bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah saja tetapi pemerintah desa setempat dan juga masyarakat.
Sehingga sudah seharusnya, semua pihak saling menjaga dan memelihara keaslian lokasi yang di dalamnya mengandung nilai-nilai sejarah yang cukup tinggi. Karena hal tersebut bisa menjadi bahan renungan dan ilmu pengetahuan untuk lebih arif sekaligus bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat.
"Tidak menutup kemungkinan, benda bersejarah tersebut diambil oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga dihimbau agar dikembalikan lagi sebagaimana mestinya," kata dia.
Kepala Desa Sangkanerang, Sarman melalui Kepala Dusun III, Mulyana berharap agar ke depannya, kuncen Situs Buyut Salam lebih berhati-hati dan teliti lagi karena setiap malam Jumat Kliwon, tempat tersebut banyak didatangi warga-warga luar daerah yang melakukan ziarah sehingga minimal, ketika berada di lokasi, mereka menyerahkan identitas diri berupa kartu tanda penduduk (KTP).
ADVERTISEMENT
“Justru saya berfikirnya, hilangnya batu sunan kalijaga, mungkin saja akibat dua hal yakni, secara gaib dan tangan jahil oleh oknum tidak bertanggung jawab," kata dia. ***