Rumah Adat Panjalin: Jejak Penyebaran Islam di Majalengka Berusia 500 Tahun

Ciremaitoday.com, Majalengka - Menyusuri jejak penyebaran Islam di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, akan bermuara pada sebuah bangunan panggung terbuat dari kayu yang diyakini berusia lebih dari 500 tahun atau setengah abad.
Bangunan tersebut diberi nama rumah adat Panjalin berbahan dasar kayu jati dengan ukuran 72 meter persegi. Bangunan bersejarah ini diperkirakan didirikan sekira akhir abad ke-14, tapi hingga kini masih berdiri kokoh.
Rumah adat Panjalin ditopang oleh 16 tiang penyangga di bagian bawah. Di dalamnya, ada sejumlah perabot seperti meja, ukiran dan lain sebagainya.
Bangunam tua rumah adat Panjalin terletak di Blok Dukuh Tengah, Desa Panjalin Kidul, Kecamatan Sumberjaya, Majalengka.
Bangunan ini merupakan bukti masifnya penyebaran agama Islam pada masa Syekh Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.
"Rumah adat ini dibangun pada zaman Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Ini (Rumah Adat Panjalin) jadi saksi bisu penyebaran Islam di Majalengka," kata Iyang Saeful Ikhsan juru bicara Rumah Adat Panjalin saat ditemui Ciremaitoday, belum lama ini.
Bukan tanpa alasan, berdirinya rumah adat Panjalin berawal saat Sunan Gunung Jati yang memerintahkan Syekh Syahroni atau dikenal dengan Pangeran Atas Angin untuk menyebarkan Islam di wilayah barat pulau Jawa. Misi pertama Pangeran Atas Angin kala itu adalah mengajak penguasa Rajagaluh untuk memeluk agama Islam.
Dalam perjalannannya kata Saeful, Pangeran Atas Angin kemudian bertemu dengan utusan Kerajaan Mataram yakni Nyi Larasati. "Keduanya pun menikah dan memilih tinggal di sebuah hutan yang penuh dengan pohon rotan hingga keduanya kemudian dikaruniai seorang putri bernama Seruni," katanya.
Singkat cerita sambung dia, setelah Seruni dewasa bertemu dengan Raden Sanata, seorang santri dari Pesantren Pagar Gunung yang juga masih keturunan darah biru dari kerajaan Talaga.
Raden Sanata yang terpikat dengan kecantikan Seruni kemudian berusaha untuk meminangnya. Namun Pangeran Atas Angin meminta raden Sanata untuk membabad habis hutan rotan yang begitu luas sebagai syarat untuk dapat meminang putrinya itu.
"Raden Sanata akhirnya bisa memenuhi syarat itu, kemudian dibangunlah sebuah rumah panggung. Rumah panggung itulah yang saat ini menjadi rumah adat Panjalin," tutur Saeful.
Dalam perkembangannya, rumah adat Panjalin bukan hanya menjadi perjalanan Islamisasi di wilayah Majalengka namun juga saksi bisu dari perlawanan melawan penjajah Belanda.
"Saat perang Kedongdong antara pasukan Ki Bagus Rangin dan kolonial Belanda sekitar tahun 1812 hingga 1816 rumah ini ikut andil," ucapnya.
Saeful menceritakan saat perang Kedongdong terjadi, rumah adat Panjalin dijadikan tempat berlindung pasukan saat pasukan Ki Bagus Rangin dikejar pasukan Belanda.
"Keanehan saat pasukan Ki Bagus Rangin di rumah ini pasukan Belanda tidak dapat melihatnya seperti dilindungi tabir penghalang," ujarnya.
"Kemudian saat gerombolan kolonial tertidur, pasukan Ki Bagus Rangin mengerjainya dengan mencoret-coret wajah dari gerombolan kolonial. Saat terbangun mereka pun kaget dan menganggap ada kehidupan tak kasat mata di lokasi itu," kata Saeful menceritakan.
Sejak saat itulah gerombolan kolonial itu meninggalkan lokasi tersebut dan berjanji tidak akan mengganggu warga Panjalin. Hingga kini, bangunan ini masih dirawat dan dijaga warga setempat.
Rumah adat Panjalin juga sesekali dijadikan tempat peringatan budaya yang rutin digelar tiap tahunnya. Selain menjadi tempat wisata heritage.
"Sekarang cuma dipakai acara tahunan saja, misalnya hari jadi Panjalin, saat guar bumi atau musim tanam, baru rumah ini ramai oleh warga kumpul di sini buat menggelar syukuran," tukas Saeful.
