Konten dari Pengguna

Ekologi Konflik: Membaca Peta Sosial dan Resonansi Resolusi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Herry Mendrofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ekologi Konflik, Peta Sosial, dan Resonansi Resolusi/ Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ekologi Konflik, Peta Sosial, dan Resonansi Resolusi/ Pixabay

Konflik tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Konflik bisa tumbuh, berakar, dan berbuah dalam ekologi sosial yang kompleks. Ekologi konflik adalah cara membaca bagaimana ketegangan, aspirasi, dan resistensi masyarakat berinteraksi dengan struktur kekuasaan, kebijakan publik, serta dinamika komunikasi politik. Dalam konteks Indonesia, ekologi konflik dapat dipahami sebagai jaringan relasi antara negara, masyarakat sipil, media, dan ruang digital yang saling memantulkan resonansi.

Di Indonesia saja sejak tahun 2025 hingga pertengahan 2026, kita menyaksikan bagaimana kebijakan pemerintah yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat memicu gelombang demonstrasi. Adapun fenomena demonstrasi yang dilakukan di Gedung DPR RI pada Senin 25 Agustus 2025 yang lalu tak hanya diikuti oleh mahasiswa. Sejumlah elemen masyarakat turut terlibat, termasuk pelajar SMA atau SMK, bahkan SMP yang berakhir dengan kericuhan.

Selain itu pro kontra atas kebijakan kenaikan harga BBM harusnya dipahami bukan sekadar soal ekonomimelainkan simbol ketidakadilan distribusi beban. Demonstrasi yang terjadi di berbagai kota memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya menolak angka kenaikan, tetapi juga menolak cara negara berkomunikasi. Publik merasa tidak diajak bicara, hanya diberi keputusan. Di sinilah ekologi konflik bekerja dengan ketegangan muncul bukan hanya dari substansi kebijakan, tetapi dari cara kebijakan itu dipresentasikan.

Sementara media sosial memperkuat resonansi konflik. Agitasi kebijakan pemerintah di Twitter, TikTok, dan Instagram menjadi semacam ruang gema di mana keluhan seperti satire dan kritik berlipat ganda. Fenomena ini menunjukkan bahwa ekologi konflik di era digital tidak lagi linear. Ia bersifat spiral yakni satu isu kecil dapat membesar, satu narasi dapat bertransformasi menjadi gerakan, dan satu kebijakan dapat menjadi simbol perlawanan.

Peta Sosial: Kartografi Ketidakpuasan

Membaca ekologi konflik berarti menggambar peta sosial. Peta ini bukan sekadar diagram, melainkan representasi hidup dari bagaimana kelompok masyarakat merespons kebijakan. Demonstrasi kenaikan harga BBM memperlihatkan bahwa peta sosial Indonesia terbagi dalam lapisan seperti mahasiswa, buruh, komunitas urban, hingga masyarakat desa yang terdampak langsung oleh inflasi. Setiap lapisan memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan ketidakpuasan, tetapi semuanya terhubung oleh benang merah yakni rasa tidak didengar.

Bagi beberapa kalangan komunikasi publik rezim saat ini juga dianggap kurang tepat justru memperburuk peta sosial ini. Alih-alih meredakan, bahasa yang digunakan pemerintah sering kali memperkeras jarak. Ketika pejabat menyebut kenaikan harga sebagai konsekuensi global yang tak terhindarkan, publik merasa direduksi menjadi objek pasif. Padahal, masyarakat menginginkan pengakuan atas penderitaan mereka. Dengan demikian peta sosial konflik adalah cermin dari kegagalan komunikasi politik yang bukan hanya isi kebijakan yang dipersoalkan, tetapi juga cara negara berbicara kepada rakyatnya.

Di media sosial, peta sosial ini semakin jelas. Hashtag yang viral, meme yang menyindir, hingga video pendek yang menampilkan satire politik menjadi semacam penanda geografis dari ketidakpuasan. Jika demonstrasi di jalan adalah peta fisik, maka media sosial adalah peta virtual yang memperluas cakupan konflik. Keduanya saling melengkapi, membentuk ekologi konflik yang multidimensi.

Resonansi Resolusi: Dari Retorika ke Praktik

Pertanyaan pentingnya yakni bagaimana resonansi resolusi dapat diupayakan? Resonansi resolusi berarti kemampuan untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya teknis, tetapi juga emosional dan simbolik. Resolusi konflik bukan sekadar menurunkan harga atau mengubah kebijakan, melainkan membangun kembali kepercayaan publik.

Pertama, komunikasi publik harus direformasi. Negara perlu berbicara dengan bahasa yang humanis, bukan teknokratis. Ketika masyarakat merasa didengar, resonansi resolusi mulai terbentuk. Misalnya, dalam kasus kenaikan harga BBM, pemerintah bisa mengajak masyarakat berdialog, menjelaskan pilihan-pilihan kebijakan, dan mengakui penderitaan yang muncul. Pengakuan adalah langkah awal menuju resolusi.

Kedua, peta sosial harus dijadikan acuan kebijakan. Pemerintah tidak bisa lagi melihat masyarakat sebagai massa homogen. Setiap lapisan memiliki kebutuhan dan aspirasi berbeda. Dengan adanya upaya untuk membaca peta sosial setidaknya negara dapat merancang kebijakan yang lebih adaptif. Contohnya, subsidi yang diarahkan khusus untuk kelompok rentan, atau program kompensasi yang disesuaikan dengan konteks lokal.

Ketiga, media sosial harus diperlakukan sebagai arena legitimasi. Alih-alih memusuhi agitasi digital, pemerintah bisa memanfaatkannya sebagai kanal partisipasi. Menghadirkan ruang diskusi daring, melibatkan influencer yang kredibel, atau membuka kanal resmi untuk kritik publik dapat mengubah resonansi konflik menjadi resonansi resolusi.

Ekologi Konflik sebagai Jalan Demokrasi Baru

Ekologi konflik bukanlah ancaman semata. Ia adalah peluang untuk membangun demokrasi yang lebih matang. Dengan membaca peta sosial, kita dapat memahami bahwa konflik adalah energi sosial yang jika dikelola dengan bijak dapat menjadi sumber inovasi kebijakan. Resonansi resolusi pada akhirnya adalah tentang bagaimana negara dan masyarakat menemukan harmoni baru di tengah ketegangan.

Fenomena demonstrasi dari tahun 2025 hingga tahun 2026 memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia semakin kritis, semakin berani, dan semakin kreatif dalam menyuarakan aspirasi. Hal ini adalah tanda bahwa demokrasi hidup. Tantangannya adalah bagaimana negara merespons, apakah dengan represi, atau dengan resonansi resolusi. Jika negara memilih jalan kedua, maka ekologi konflik dapat menjadi fondasi bagi demokrasi yang lebih partisipatif, transparan, dan berkeadilan.

Sementara untuk visi ke depan adalah membangun ekologi konflik yang sehat dengan konflik yang diakui sebagai bagian dari dinamika sosial. Peta sosial dijadikan kompas kebijakan, dan resonansi resolusi menjadi tujuan bersama. Sehingga Indonesia tidak hanya bertahan di tengah krisis, tetapi juga tumbuh sebagai bangsa yang mampu menjadikan konflik sebagai energi demokrasi.