Konten dari Pengguna

Manifesto Politik Gen Z: Menantang Kemiskinan

Citra Aldilla

Citra Aldilla

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Citra Aldilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://media.istockphoto.com/id/1219697113/id/foto/tembakan-udara-anak-laki-laki-membersihkan-jalan-tanah-antara-rumah-rumah-kumuh-bata-dan-timah.jpg?s=1024x1024&w=is&k=20&c=Ees6PkOmRmcgAGfpA7xeDyxjYUYeTdWSs3K6qtv_B7I=
zoom-in-whitePerbesar
https://media.istockphoto.com/id/1219697113/id/foto/tembakan-udara-anak-laki-laki-membersihkan-jalan-tanah-antara-rumah-rumah-kumuh-bata-dan-timah.jpg?s=1024x1024&w=is&k=20&c=Ees6PkOmRmcgAGfpA7xeDyxjYUYeTdWSs3K6qtv_B7I=

Generasi Z lahir di era yang penuh peluang, tapi juga dikelilingi ketidakadilan. Di layar gawai, dunia tampak modern dan maju, namun di jalanan dan pelosok negeri, wajah kemiskinan masih nyata. Kami menolak untuk menutup mata. Manifesto ini adalah pernyataan sikap: kemiskinan bukan takdir, dan kami tidak mau mewarisinya sebagai beban abadi.

  • Kemiskinan Bukan Cermin Kemalasan

Generasi Z menolak mitos bahwa kemiskinan muncul karena kurang usaha. Fakta yang kami lihat banyak orang bekerja keras seharian, namun tetap tidak bisa keluar dari garis kemiskinan. Masalah ini lahir dari sistem yang timpang akses pendidikan yang tidak merata, harga kebutuhan pokok yang terus naik, dan kebijakan ekonomi yang lebih sering menguntungkan segelintir elite dibanding rakyat kebanyakan.

  • Menuntut Politik Anggaran yang Adil

Setiap tahun, anggaran negara diumumkan dengan megah, tetapi realita di lapangan masih memperlihatkan anak-anak putus sekolah dan keluarga yang kesulitan makan. Generasi Z menuntut transparansi dalam setiap rupiah yang dikeluarkan. Dana publik harus diprioritaskan untuk pangan, kesehatan, pendidikan, dan penciptaan lapangan kerja, bukan untuk proyek pencitraan atau kepentingan politik jangka pendek.

  • Teknologi sebagai Alat, Bukan Jurang Baru

Kami tumbuh bersama internet, tetapi kami juga sadar bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk mengaksesnya. Teknologi seharusnya menjadi jembatan keluar dari kemiskinan, bukan jurang yang memperlebar kesenjangan. Pemerataan akses internet, literasi digital, serta dukungan bagi ekonomi kreatif berbasis teknologi adalah syarat mutlak untuk membuka peluang baru bagi masyarakat kecil.

  • Hak Atas Kerja Layak

Generasi Z percaya bahwa melawan kemiskinan berarti memperjuangkan hak atas kerja yang layak. Tidak boleh ada pekerja yang digaji di bawah kebutuhan hidup minimum, tidak boleh ada tenaga muda yang dikuras tenaganya tanpa perlindungan. Setiap keringat harus dihargai, setiap tenaga harus mendapat imbalan yang adil.

  • Solidaritas di Atas Individualisme

Kami tidak percaya pada narasi bahwa hanya yang kuat yang boleh bertahan. Generasi Z memilih solidaritas: membangun budaya saling dukung, memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan, dan memastikan bahwa kemajuan tidak hanya dinikmati segelintir orang. Melawan kemiskinan adalah tugas kolektif, bukan perjuangan segelintir individu.

  • Politik yang Membumi

Manifesto ini adalah seruan agar politik kembali pada inti kemanusiaan: apakah masyarakat bisa makan dengan layak, berobat tanpa takut biaya, dan menempuh pendidikan tanpa terbebani ongkos. Generasi Z menuntut politik yang membumi, politik yang berpihak pada rakyat kecil, dan politik yang berani mengatakan bahwa kemiskinan bukan warisan yang pantas diteruskan.

Kami tidak ingin hanya dikenang sebagai generasi yang sibuk dengan gawai. Kami ingin dikenang sebagai generasi yang berani menantang kemiskinan, mengubah sistem, dan memperjuangkan masa depan yang lebih adil.