Idul Adha dan Ketahanan Sosial di Tengah Tekanan Ekonomi

Saya adalah dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari citra eliyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Idul Adha 27 Mei 2026 hadir di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, dan kebutuhan dasar membuat banyak rumah tangga menyesuaikan ulang prioritas hidupnya. Dalam konteks ini, Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan, tetapi sebagai ujian ketahanan sosial masyarakat.
Kurban menjadi praktik ibadah yang mempertemukan nilai spiritual dan realitas ekonomi. Di saat konsumsi daging menjadi barang mahal bagi sebagian keluarga, Idul Adha menghadirkan akses pangan secara kolektif. Ia bukan bantuan negara, bukan pula program subsidi, melainkan solidaritas horizontal yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.
Menariknya, ketahanan sosial ini bekerja tanpa sistem birokrasi yang rumit. Tidak ada formulir panjang, verifikasi berlapis, atau stigma penerima bantuan. Distribusi daging kurban berlangsung langsung di lingkungan warga, melalui masjid dan komunitas lokal. Inilah bentuk jaring pengaman sosial yang sederhana namun efektif.
Di sisi lain, proses kurban juga memperlihatkan bagaimana masyarakat kecil saling menopang. Peternak, pedagang pakan, sopir angkut, hingga panitia masjid terlibat dalam satu ekosistem musiman. Meski skalanya terbatas, aktivitas ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat masih bergerak melalui jejaring sosial, bukan semata mekanisme pasar besar.
Namun, ketahanan ini tidak datang tanpa tantangan. Kenaikan harga pakan ternak, dominasi tengkulak, serta keterbatasan modal membuat banyak peternak kecil berada pada posisi rentan. Tanpa penguatan kelembagaan, manfaat Idul Adha berisiko hanya bersifat sementara, bukan solusi berkelanjutan.
Di sinilah pentingnya melihat Idul Adha sebagai momentum refleksi bersama. Jika solidaritas mampu berjalan efektif dalam ibadah kurban, maka prinsip serupa seharusnya bisa diperluas ke sektor lain: pangan, pendidikan, hingga ekonomi komunitas. Idul Adha memberi pelajaran bahwa ketahanan sosial tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi dari praktik berbagi yang konsisten.
Pada akhirnya, Idul Adha mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki modal sosial yang kuat. Di tengah tekanan ekonomi, nilai gotong royong tetap hidup dan bekerja. Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar solidaritas ini tidak hanya hadir setahun sekali, tetapi menjadi fondasi menghadapi ketidakpastian ekonomi ke depan.
