Melek Digital, Buta Literasi dan Numerasi: Kemajuan atau Kemunduran?

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Citra Khodijah Tri Andini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir membawa perubahan besar, termasuk di bidang pendidikan. Gawai, internet, dan aplikasi belajar memudahkan akses informasi serta membuka peluang baru. Anak-anak sejak dini terbiasa dengan perangkat digital, sementara remaja hingga mahasiswa fasih menggunakan media sosial dan platform digital. Sekilas, kondisi ini tampak sebagai tanda kemajuan pendidikan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan masalah yang memprihatinkan. Banyak siswa sekolah dasar belum lancar membaca dan menulis. Di tingkat SMP dan SMA, tidak sedikit peserta didik kesulitan menyelesaikan soal numerik sederhana. Bahkan di perguruan tinggi masih ada mahasiswa yang sulit memahami bacaan akademik dan menulis gagasan secara runtut. Ironisnya, mereka yang lemah dalam literasi justru mahir menggunakan gawai, mengakses hiburan digital, dan membuat konten media sosial. Fenomena ini membuktikan bahwa teknologi memang membuka akses, tetapi sekaligus menyingkap lemahnya kemampuan literasi dan numerasi. Kemampuan Digital Butuh Fondasi Kuat Kemampuan menggunakan gawai dan platform digital memang penting, tetapi tanpa fondasi literasi dan numerasi yang kuat, potensi teknologi tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan. Generasi muda bisa terjebak pada konsumsi hiburan, informasi yang dangkal, dan kesulitan memahami konten yang lebih kompleks. Teknologi akan memberi manfaat maksimal ketika digabungkan dengan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Literasi dan numerasi adalah fondasi utama pendidikan yang menentukan kualitas generasi muda. Tanpa keduanya, keterampilan digital hanya akan berhenti pada konsumsi hiburan, bukan pada penciptaan pengetahuan ataupun inovasi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah pendidikan kita benar-benar sedang mengalami kemajuan, atau justru tengah mundur di balik gemerlap teknologi? Jika kondisi ini dibiarkan, generasi muda akan kehilangan daya saing karena dunia kerja menuntut kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan literasi informasi. Kesenjangan sosial juga akan semakin melebar, sebab mereka yang memiliki literasi kuat akan semakin maju, sedangkan yang lemah semakin tertinggal meskipun berada dalam era digital yang sama. Teknologi Dukung Literasi dan Numerasi Teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperkuat literasi dan numerasi, bukan menggantikannya. Sekolah harus kembali pada esensi pendidikan, yaitu membentuk manusia kritis, kreatif, dan berkarakter. Orang tua pun berperan penting mengarahkan penggunaan gawai agar tepat sasaran. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang bermakna. Pendidikan sejati tidak hanya melahirkan generasi yang melek digital, tetapi juga membangun kemampuan dasar yang kuat. Literasi dan numerasi adalah fondasi, sedangkan digitalisasi hanyalah alat. Tanpa fondasi itu, semua kemajuan rapuh. Maka, melek digital baru dapat disebut sebagai kemajuan sejati jika ditopang oleh literasi dan numerasi yang kokoh.
Citra Khodijah Tri Andini, Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
