Pendidikan Bukan Sekadar Menghafal: Menggali Gagasan Kritis Paulo Freire

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Citra Khodijah Tri Andini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir dan cara seseorang memahami kehidupan sosial. Melalui pendidikan, peserta didik diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu memahami berbagai persoalan di sekitarnya, mengembangkan pemikiran kritis, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Namun, dalam praktiknya, pembelajaran masih sering berorientasi pada penyampaian materi, pencatatan, hafalan, dan pencapaian nilai akademik. Peserta didik dituntut untuk menguasai materi yang diberikan guru, tetapi belum tentu memperoleh kesempatan yang cukup untuk mempertanyakan, mendiskusikan, dan menghubungkan materi tersebut dengan kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai makna pendidikan yang sebenarnya. Apakah keberhasilan belajar cukup diukur dari kemampuan peserta didik mengingat materi, atau justru dari kemampuan mereka memahami dan menggunakan pengetahuan untuk membaca realitas sosial?
Pertanyaan ini relevan dengan pemikiran Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan kritis yang mengkritik praktik pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai penerima pengetahuan secara pasif. Melalui gagasannya, Freire menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi proses yang membantu manusia memahami realitas, mengembangkan kesadaran kritis, dan berpartisipasi dalam perubahan sosial.
Pendidikan Gaya Bank dalam Pemikiran Paulo Freire
Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire memperkenalkan konsep banking education atau pendidikan gaya bank. Konsep ini menggambarkan proses pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pihak yang memiliki dan menyampaikan pengetahuan, sedangkan peserta didik diposisikan sebagai penerima yang bertugas menyimpan serta mengingat informasi tersebut. Dalam model pendidikan ini, keberhasilan pembelajaran cenderung diukur berdasarkan kemampuan peserta didik mengulang materi yang telah disampaikan.
Guru menjadi pusat kegiatan pembelajaran, sementara peserta didik memiliki ruang terbatas untuk menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, atau membangun pemahaman berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Pengetahuan seolah-olah menjadi sesuatu yang dipindahkan dari guru kepada peserta didik, bukan dikembangkan melalui proses dialog dan penyelidikan bersama.
Kritik Freire tidak berarti bahwa guru tidak boleh menjelaskan materi atau bahwa kegiatan menghafal selalu keliru. Persoalan utamanya terletak pada pembelajaran yang terlalu menekankan penerimaan informasi tanpa memberikan ruang bagi peserta didik untuk memahami makna, mempertanyakan isi pengetahuan, dan menghubungkannya dengan persoalan nyata. Ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus, peserta didik berisiko terbiasa mengikuti penjelasan tanpa mengembangkan kemampuan untuk menilai informasi secara mandiri.
Ketika Materi Pelajaran Terpisah dari Realitas Kehidupan
Salah satu persoalan dalam pembelajaran yang berorientasi pada hafalan adalah adanya jarak antara pengetahuan di ruang kelas dan pengalaman peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik mungkin mampu menjelaskan definisi suatu konsep sesuai buku pelajaran, tetapi mengalami kesulitan ketika diminta menggunakan konsep tersebut untuk menganalisis fenomena yang mereka temui.
Sebagai contoh, dalam pembelajaran sosiologi, peserta didik dapat menghafal pengertian perubahan sosial, konflik sosial, atau kesenjangan sosial. Namun, pemahaman tersebut belum tentu membantu mereka menganalisis perubahan pola interaksi akibat penggunaan media sosial, konflik antarkelompok di lingkungan sekolah, atau perbedaan kesempatan ekonomi di masyarakat. Padahal, fenomena tersebut dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan pengalaman mereka.
Kesenjangan serupa juga dapat ditemukan dalam pembelajaran ekonomi. Peserta didik mungkin mengetahui pengertian inflasi, tetapi belum tentu memahami bagaimana kenaikan harga kebutuhan pokok memengaruhi pengeluaran keluarga. Ketika materi hanya dipelajari sebagai definisi, pengetahuan berisiko berhenti sebagai informasi yang diingat untuk menjawab soal, bukan sebagai alat untuk memahami keadaan di sekitar.
Dalam perspektif Freire, pembelajaran seharusnya tidak memisahkan pengetahuan dari realitas kehidupan manusia. Pengalaman sehari-hari dapat digunakan sebagai titik awal untuk mengajukan pertanyaan, mengidentifikasi persoalan, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengetahui suatu konsep, tetapi juga memahami kegunaan konsep tersebut dalam membaca kehidupan sosial.
Dampak Pendidikan yang Berorientasi pada Hafalan
Pembelajaran yang terlalu menekankan hafalan dapat menimbulkan sejumlah persoalan dalam proses pendidikan. Pertama, kemampuan berpikir kritis peserta didik berpotensi kurang berkembang apabila mereka lebih sering diminta mengingat jawaban daripada menganalisis permasalahan.
Peserta didik mungkin terbiasa mencari jawaban yang dianggap benar oleh guru, tetapi kurang terlatih mengemukakan alasan, membandingkan sudut pandang, dan mengevaluasi informasi. Kedua, pembelajaran dapat kehilangan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.
Materi yang dipelajari terasa seperti kumpulan informasi yang harus dikuasai untuk menghadapi ujian, bukan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami lingkungan sosial. Akibatnya, peserta didik berpotensi mengalami kesulitan ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan penerapan konsep dalam situasi nyata.
Ketiga, hubungan antara guru dan peserta didik dapat menjadi kurang dialogis. Apabila guru selalu ditempatkan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, kesempatan peserta didik untuk bertanya, menyampaikan pengalaman, dan mengemukakan pendapat menjadi terbatas. Padahal, proses belajar yang melibatkan pertukaran gagasan dapat membantu peserta didik membangun pemahaman yang lebih luas.
Meskipun demikian, dampak tersebut tidak muncul secara otomatis dalam setiap kegiatan menghafal. Hafalan tetap dapat membantu peserta didik menguasai konsep dasar. Permasalahan muncul ketika hafalan menjadi tujuan utama pembelajaran dan tidak diikuti dengan kegiatan memahami, menerapkan, serta mengevaluasi pengetahuan.
Pendidikan Dialogis sebagai Alternatif
Sebagai alternatif terhadap pendidikan gaya bank, Freire menawarkan pendekatan pendidikan yang menekankan dialog, keterlibatan aktif, dan pemahaman kritis terhadap realitas. Dalam pendidikan dialogis, peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses membangun pengetahuan melalui pertanyaan, diskusi, refleksi, dan penyelidikan terhadap persoalan yang dihadapi.
Guru tetap memiliki peran penting dalam mengarahkan pembelajaran dan membantu peserta didik memahami konsep. Namun, guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Guru juga berperan dalam menciptakan ruang belajar yang memungkinkan peserta didik menguji gagasan, mengungkapkan pengalaman, dan mengembangkan penalaran berdasarkan bukti.
Sebagai contoh, ketika membahas perubahan sosial, guru dapat mengajak peserta didik mengamati perubahan kebiasaan berkomunikasi akibat penggunaan media sosial. Peserta didik kemudian mendiskusikan penyebab perubahan tersebut, pengaruhnya terhadap hubungan sosial, serta dampak positif dan negatifnya.
Konsep perubahan sosial yang sebelumnya dipelajari sebagai definisi dapat digunakan untuk menganalisis fenomena yang mereka alami. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan problem-posing education, yaitu pendidikan yang menjadikan persoalan nyata sebagai bahan untuk berpikir dan berdialog.
Peserta didik didorong untuk mempertanyakan keadaan di sekitarnya, mencari penjelasan, dan memahami bahwa realitas sosial dapat dianalisis secara kritis. Melalui proses tersebut, pembelajaran tidak hanya membantu peserta didik memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kesadaran terhadap lingkungan dan kondisi sosialnya.
Relevansi Pemikiran Paulo Freire dalam Pendidikan
Pemikiran Paulo Freire tetap relevan untuk merefleksikan praktik pendidikan saat ini. Di tengah perkembangan informasi yang semakin cepat, peserta didik tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengingat materi. Mereka juga perlu mampu menilai kebenaran informasi, memahami hubungan sebab-akibat, membandingkan berbagai perspektif, dan menghubungkan pengetahuan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pendidikan yang kritis tidak harus menghilangkan penjelasan guru, penggunaan buku teks, ataupun evaluasi akademik. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa berbagai kegiatan tersebut mendukung pemahaman yang bermakna. Materi pelajaran perlu disertai kesempatan untuk berdiskusi, mengkaji kasus, melakukan pengamatan, dan menyusun kesimpulan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penilaian pembelajaran pun dapat dirancang tidak hanya untuk mengukur kemampuan mengingat definisi, tetapi juga untuk melihat kemampuan peserta didik menerapkan konsep dalam situasi tertentu. Misalnya, peserta didik tidak hanya diminta menjelaskan pengertian konflik sosial, tetapi juga menganalisis penyebab konflik dalam sebuah kasus dan mengusulkan penyelesaian berdasarkan konsep sosiologi.
Dengan demikian, gagasan Freire mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak cukup dinilai dari banyaknya materi yang disampaikan atau tingginya nilai yang diperoleh peserta didik. Pendidikan juga perlu dilihat dari sejauh mana proses pembelajaran membantu mereka memahami realitas, mengembangkan pemikiran kritis, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Pemikiran Paulo Freire memberikan kritik penting terhadap pendidikan yang terlalu berorientasi pada hafalan dan menempatkan peserta didik sebagai penerima pengetahuan secara pasif. Melalui konsep pendidikan gaya bank, Freire menunjukkan bahwa pembelajaran yang hanya menekankan penyampaian dan pengulangan informasi berisiko membatasi keterlibatan peserta didik dalam membangun pemahaman kritis.
Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengingat materi, tetapi juga membantu peserta didik memahami hubungan antara pengetahuan dan kehidupan nyata. Melalui pendekatan dialogis dan pembelajaran yang berangkat dari persoalan sehari-hari, peserta didik dapat mengembangkan kemampuan untuk bertanya, menganalisis, dan merefleksikan realitas sosial.
Oleh karena itu, gagasan Freire mengajak pendidik untuk melihat belajar bukan sekadar sebagai kegiatan menghafal, melainkan sebagai proses memahami dunia dan membangun kesadaran kritis terhadap kehidupan.
