Konten dari Pengguna

Analisis Strategi Penayangan Film Bioskop di Televisi saat Hari Besar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Citra Kurnia Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Rapi Films
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Rapi Films

Televisi masih menjadi salah satu media yang digunakan masyarakat untuk mendapatkan hiburan dan informasi. Dalam penyiarannya, stasiun televisi tidak hanya memikirkan program apa yang akan ditayangkan, tetapi juga harus menentukan waktu yang tepat untuk menayangkan program tersebut. Hal ini berkaitan dengan programming, yaitu bagaimana sebuah stasiun televisi menyusun dan mengatur program agar sesuai dengan kondisi dan kebiasaan penontonnya. Departemen programming tidak hanya bertugas mengisi slot waktu tayang yang kosong, namun programmer juga harus jeli menempatkan dan mengatur acara dalam jadwal siaran. Beberapa pertimbangan seperti waktu tayang, pesaing di jam yang sama, kecocokan penonton dengan acara tersebut menjadi beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum sebuah acara benar-benar masuk ke dalam jadwal susunan acara. Salah satu fenomena yang menarik untuk dilihat adalah penayangan film yang sebelumnya telah diputar di bioskop pada momen-momen tertentu, terutama saat hari raya dan masa liburan seperti Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru. Pada momen tersebut, aktivitas masyarakat cenderung mengalami perubahan. Sebagian orang memiliki lebih banyak waktu untuk berada di rumah sehingga kesempatan untuk menonton televisi juga dapat meningkat.

Berdasarkan fenomena tersebut, artikel ini membahas bagaimana strategi programming televisi dalam menayangkan film bioskop pada momen hari raya serta alasan pemilihan momen tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menarik perhatian penonton.

Penayangan film bioskop di televisi pada saat hari raya dapat dilihat sebagai salah satu bentuk pemanfaatan momen khusus. Ketika masyarakat sedang berada dalam suasana liburan, kebutuhan terhadap tayangan hiburan juga dapat meningkat. Stasiun televisi kemudian dapat memanfaatkan perubahan pola menonton tersebut dengan menghadirkan film-film yang dianggap memiliki daya tarik bagi audiens.

Sweep periods adalah waktu-waktu khusus dalam setahun dimana lembaga pengukuran rating dan share (AGB Nielsen) mengadakan survei menyeluruh untuk mengukur jumlah penonton televisi di seluruh pasar (kota/daerah). Biasanya dilakukan dalam kurun waktu 4 kali dalam setahun selama 30 hari.

Data sweep period ini penting bagi lembaga penyiaran, karena data ini akan menentukan seberapa mahal iklan dapat dijual atau sebagai acuan harga iklan. Jika rating program acara tinggi maka harga iklan akan naik. Oleh sebab itu, stasiun televisi selalu berusaha mendapatkan rating dan share setinggi mungkin selama masa sweep period. Di Indonesia, meskipun tidak ada istilah resmi “sweep periods” praktik serupa tetap dilakukan menjelang Ramadhan dan Lebaran, libur akhir tahun (Natal dan Tahun Baru), Film yang sebelumnya dikenal oleh masyarakat melalui bioskop memiliki keuntungan dari sisi pengenalan. Penonton mungkin sudah mengetahui judul, pemain, atau cerita film tersebut. Ketika film kemudian hadir di televisi pada saat liburan, tayangan tersebut dapat menjadi alternatif bagi penonton yang ingin menikmati hiburan tanpa harus pergi ke bioskop.

Salah satu strategi yang dapat dikaitkan dengan fenomena ini adalah theming. Theming dijelaskan sebagai strategi mengelompokkan program-program dengan tema yang serupa dalam periode tertentu sehingga menciptakan pengalaman menonton yang lebih menyatu. Contohnya adalah tema horor pada malam Jumat, program anak-anak, hingga program dengan tema Ramadan. Strategi ini juga dapat membantu proses promosi karena beberapa program dapat dipasarkan menggunakan satu tema yang sama. Selain theming, strategi penjadwalan juga dapat dikaitkan dengan tentpoling. Strategi ini menempatkan program yang dianggap baru atau lebih lemah di sekitar program populer dengan harapan mendapatkan limpahan penonton dari program tersebut.

Dalam konteks film, strategi tersebut dapat digunakan dengan menempatkan film pada slot setelah program yang sudah memiliki banyak penonton. Penonton yang sebelumnya sudah menonton program tersebut diharapkan tetap melanjutkan tontonan ke film yang ditayangkan setelahnya. Dengan begitu, film tidak berdiri sendiri dalam jadwal, tetapi menjadi bagian dari rangkaian program yang telah disusun.

Programming televisi juga tidak dapat dilepaskan dari persaingan. Stasiun televisi harus melihat program apa yang ditayangkan oleh kompetitor pada waktu yang sama. Programmer perlu mempertimbangkan pesaing karena terkadang stasiun lain memiliki program unggulan pada jam tertentu sehingga persaingan untuk mendapatkan penonton menjadi lebih sulit. Dalam kondisi tersebut, stasiun televisi tidak hanya perlu memikirkan apakah film yang dipilih menarik, tetapi juga bagaimana film tersebut ditempatkan di dalam jadwal. Pemilihan jam tayang dapat menentukan apakah penonton akan memilih film tersebut atau berpindah ke stasiun lain.

Strategi lain yang terdapat dalam modul adalah counterprogramming, yaitu mengisi slot waktu dengan tayangan yang berbeda dari program kompetitor untuk mendapatkan audiens yang tidak tertarik dengan program tersebut. Keberhasilannya bergantung pada pemahaman terhadap audiens dan program pesaing.

Dari pembahasan tersebut, dapat dilihat bahwa penayangan film bioskop pada hari raya memiliki hubungan yang cukup erat dengan strategi programming televisi. Momen hari raya memberikan kondisi penonton yang berbeda dari hari biasa sehingga stasiun televisi perlu menyesuaikan programnya. Film dapat menjadi pilihan karena sifatnya yang relatif mudah dikenali oleh penonton dan dapat dikonsumsi sebagai hiburan dalam satu kali penayangan. Apalagi jika film tersebut sebelumnya sudah memiliki popularitas ketika ditayangkan di bioskop. Namun, tetap diperlukan pertimbangan mengenai genre, target penonton, waktu tayang, serta program pesaing.

Penayangan film pada momen khusus juga menunjukkan bahwa programming televisi tidak hanya berbicara mengenai "acara apa yang bagus", tetapi juga mengenai "kapan acara tersebut ditayangkan" dan "siapa yang sedang menonton". Sebagus apa pun sebuah program, apabila tidak sesuai dengan penonton dan waktu tayangnya, program tersebut belum tentu dapat mencapai hasil yang diharapkan. Modul juga menekankan bahwa program harus ditempatkan pada waktu ketika target audiensnya memang tersedia untuk menonton.

Artikel ini disusun berdasarkan materi pertemuan ke-8 pada mata kuliah Programming Media Penyiaran yang membahas tentang strategi penjadwalan program drama dan non drama. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa programming televisi tidak hanya berkaitan dengan menentukan program yang akan ditayangkan, tetapi juga mempertimbangkan waktu tayang, target penonton, persaingan dengan stasiun televisi lain, serta momen tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk menarik audiens. Salah satu pembahasan yang relevan dengan artikel ini adalah pemanfaatan momen Ramadan, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru sebagai waktu untuk menghadirkan tayangan khusus, termasuk film hiburan.