Analisis Windowing Film dari Bioskop, OTT, hingga Televisi

Mahasiswa Universitas Pamulang - S1 Ilmu Komunikasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Citra Kurnia Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi digital membuat cara masyarakat menikmati film ikut berubah. Kalau dulu penonton harus datang ke bioskop atau menunggu film ditayangkan di televisi, sekarang pilihan untuk menonton semakin beragam dengan adanya layanan Over The Top (OTT) atau platform streaming. Perubahan ini membuat sebuah film tidak hanya berhenti pada satu media saja, tetapi dapat berpindah dari satu platform ke platform lainnya dalam waktu tertentu.
Pola perpindahan penayangan tersebut dapat dilihat melalui konsep windowing, yaitu pengaturan waktu ketika sebuah film ditayangkan melalui media yang berbeda. Dalam praktiknya, sebuah film dapat terlebih dahulu ditayangkan secara eksklusif di bioskop, kemudian masuk ke platform OTT, dan setelah periode tertentu dapat ditayangkan melalui televisi. Setiap media memiliki karakteristik audiens dan tujuan yang berbeda, sehingga pengaturan waktu penayangan menjadi bagian penting dalam strategi programming.
Hal ini berkaitan dengan materi mengenai siklus dan tren program acara dalam media penyiaran. Dalam modul dijelaskan bahwa siklus program televisi terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari perencanaan dan perancangan, pra-produksi, produksi, pascaproduksi, penayangan, hingga evaluasi. Tahapan tersebut dilakukan secara berulang untuk menjaga agar suatu program tetap layak ditayangkan dan diminati audiens.
Jika konsep tersebut dikaitkan dengan film, perpindahan film dari bioskop ke OTT hingga televisi juga dapat dilihat sebagai bagian dari perubahan pola konsumsi media. Penonton saat ini tidak lagi bergantung pada televisi sebagai satu-satunya tempat untuk mendapatkan hiburan. Modul menyebutkan bahwa tren program media dipengaruhi oleh perubahan selera penonton, perkembangan teknologi, serta persaingan antar media. Kehadiran layanan streaming menjadi salah satu faktor yang membuat televisi perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Dari Bioskop ke OTT (Netflix)
Bioskop biasanya menjadi tahap awal dalam perjalanan distribusi sebuah film. Pada tahap ini, film mendapatkan kesempatan untuk menarik penonton secara langsung dan memperoleh pendapatan dari penjualan tiket. Setelah periode penayangan di bioskop selesai, film dapat masuk ke layanan OTT seperti Netflix. Perpindahan ini memberikan kesempatan bagi film untuk menjangkau penonton yang mungkin tidak menontonnya di bioskop.
Kehadiran OTT juga mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi film. Penonton memiliki lebih banyak kebebasan dalam menentukan waktu dan tempat menonton. Hal tersebut streaming ikut memengaruhi permintaan konten yang lebih personal dari audiens. Selain itu, media sosial juga dapat menjadi sumber munculnya tren dan inspirasi bagi program-program baru.
Dari OTT ke Televisi
Setelah tersedia di OTT, sebuah film juga dapat masuk ke televisi. Pada tahap ini, film kembali mendapatkan audiens yang berbeda. Meskipun masyarakat semakin banyak menggunakan layanan streaming, televisi linear masih memiliki penonton, terutama pada kelompok usia tertentu. Media streaming memiliki pengaruh besar terhadap waktu menonton kelompok usia muda, sementara televisi linear masih mendapatkan dukungan dari penonton usia 45 tahun ke atas.
Karena itu, penayangan film di televisi bukan hanya sekadar mengulang tayangan yang sudah tersedia di platform lain. Dari sisi programming, pemilihan film tetap perlu mempertimbangkan siapa audiensnya, kapan film tersebut ditayangkan, serta bagaimana film tersebut dapat bersaing dengan program lain pada waktu yang sama. Programming sendiri berkaitan dengan bagaimana konten dipilih, diatur dalam jadwal, dipromosikan, dan kemudian dievaluasi berdasarkan respons audiens.
Windowing menunjukkan bahwa satu film dapat memiliki perjalanan distribusi yang berbeda di setiap media. Film tidak harus ditayangkan di semua platform dalam waktu yang bersamaan. Justru adanya jeda antara bioskop, OTT, dan televisi dapat menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan nilai dan daya tarik film.
Jika dilihat dari perspektif programming, pengaturan tersebut juga berhubungan dengan perubahan perilaku audiens dan persaingan media. Media penyiaran saat ini tidak hanya bersaing dengan televisi lain, tetapi juga dengan berbagai platform streaming. Perkembangan teknologi dan konvergensi media membuat televisi perlu beradaptasi dengan perubahan cara penonton menikmati program.
Dengan demikian, perjalanan film dari bioskop menuju OTT kemudian televisi dapat dilihat sebagai salah satu bentuk perubahan dalam ekosistem media. Setiap media memiliki fungsi dan karakteristik audiens yang berbeda. Bioskop menawarkan pengalaman menonton secara langsung, OTT memberikan fleksibilitas kepada penonton, sedangkan televisi masih memiliki kekuatan dalam menjangkau audiens melalui sistem penayangan yang terjadwal.
Pada akhirnya, windowing bukan hanya persoalan memindahkan film dari satu media ke media lainnya. Di dalamnya terdapat pertimbangan mengenai waktu, audiens, tren, teknologi, dan persaingan media. Seperti yang dijelaskan dalam modul, programming harus mampu membaca perubahan selera penonton dan perkembangan teknologi agar konten tetap relevan.
Melalui konsep ini, dapat dilihat bahwa perjalanan sebuah film saat ini tidak berhenti ketika film selesai tayang di bioskop. Film masih dapat menemukan penonton baru ketika masuk ke OTT dan kemudian televisi. Perpindahan tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi membuat batas antar media menjadi semakin fleksibel dan membuat strategi programming ikut berkembang mengikuti kebiasaan penonton.
Pembahasan dalam artikel ini diambil dari materi pertemuan ke-20 Programming Media Penyiaran tentang Siklus dan Tren Program Acara. Dari materi tersebut, saya tertarik membahas lebih lanjut mengenai perubahan cara penonton menikmati film, khususnya bagaimana sebuah film dapat melalui beberapa media, mulai dari bioskop, OTT, sampai akhirnya masuk ke televisi.
