Ketika Isu Publik Dibicarakan Lewat Audio-Visual: Perspektif Broadcasting dan Komunikasi Politik

Mahasiswa Universitas Pamulang - S1 Ilmu Komunikasi Thaienthusiast, Kpopers, & Film Enthusiast. Pecinta horror, milo, kopi dan Story Alternative Universe.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Citra Kurnia Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kritik sosial melalui karya audio-visual menjadi salah satu cara untuk menyampaikan persoalan publik dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pesan tentang krisis iklim, ketimpangan sosial, hingga persoalan politik tidak selalu harus disampaikan melalui berita atau pidato formal. Musik, dialog, film, dan video digital juga dapat menjadi media yang mengajak masyarakat untuk memahami persoalan di sekitarnya. Salah satu contohnya dapat dilihat melalui karya Hindia berjudul Wawancara Liar Pt. IV (https://youtu.be/EM4ua6M19B0?si=eZSxStvV7x09ia72), yang mengangkat persoalan krisis iklim melalui percakapan yang terasa dekat dengan situasi kehidupan nyata.
Di tengah perkembangan media digital, karya audio-visual tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana hiburan. Perpaduan suara, dialog, musik, teks, dan gambar dapat membentuk cara audiens memahami sebuah peristiwa. Bahkan, sebuah percakapan yang terlihat sederhana dapat menyimpan kritik terhadap kebiasaan masyarakat, cara pandang pemegang kepentingan, hingga respons manusia terhadap persoalan yang mengancam kehidupan bersama.
Hal ini menarik untuk dikaji dari perspektif ilmu komunikasi. Sebab, pesan sosial tidak hanya ditentukan oleh apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut dikemas, siapa yang menyampaikannya, dan bagaimana audiens menafsirkan pesan itu.
Music Video sebagai Media untuk Membuka Persoalan Publik
Dalam Wawancara Liar Pt. IV, Hindia menghadirkan format percakapan wawancara yang membahas krisis iklim. Melalui dialog antara pewawancara dan narasumber, persoalan lingkungan ditempatkan dalam situasi yang memperlihatkan perbedaan cara pandang terhadap masalah yang sedang terjadi. Percakapan tersebut tidak berhenti pada penjelasan mengenai kerusakan lingkungan, tetapi juga mempertanyakan respons manusia ketika menghadapi persoalan yang semakin sulit diabaikan.
Salah satu hal yang membuat format ini menarik adalah penggunaan dialog sebagai sarana untuk membangun konflik gagasan. Dalam sebuah wawancara, audiens biasanya mengharapkan jawaban yang jelas, penjelasan yang masuk akal, dan solusi atas permasalahan yang dibicarakan. Namun, ketika percakapan justru memperlihatkan kebingungan, ketegangan, dan ketidaknyamanan, audiens diajak melihat bahwa persoalan publik tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana.
Dalam konteks krisis iklim, dialog tersebut mempertemukan kekhawatiran terhadap masa depan dengan kecenderungan manusia untuk terus mencari alasan, menunda respons, atau berharap bahwa persoalan akan diselesaikan oleh pihak lain. Ketegangan ini membuat isu lingkungan terasa lebih dekat karena tidak hanya berbicara tentang kondisi bumi secara abstrak, tetapi juga tentang cara manusia menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan.
Di sinilah dialog memiliki fungsi komunikasi yang penting. Percakapan menjadi sarana untuk menyampaikan informasi sekaligus memperlihatkan pertentangan nilai, kepentingan, dan cara berpikir. Audiens tidak hanya menerima penjelasan mengenai sebuah masalah, tetapi juga diajak menilai bagaimana orang-orang merespons masalah tersebut.
Ketika Karya Musik Menjadi Bentuk Kritik Sosial
Kritik sosial sering kali dipahami sebagai tindakan menyampaikan protes secara langsung terhadap kebijakan, perilaku, atau kondisi masyarakat. Padahal, kritik tidak selalu harus disampaikan melalui pernyataan yang tegas dan formal. Kritik juga dapat dibangun melalui cerita, sindiran, konflik antartokoh, maupun percakapan yang memperlihatkan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.
Melalui Wawancara Liar Pt. IV, persoalan krisis iklim disampaikan dalam bentuk sketsa percakapan yang menjadi bagian dari karya musik. Pendekatan ini membuat isu lingkungan tidak hanya hadir sebagai informasi, tetapi juga sebagai pengalaman komunikasi yang mengandung ketegangan emosional.
Kritik yang muncul dapat dibaca melalui pertanyaan tentang tanggung jawab manusia terhadap kondisi bumi. Ketika kerusakan lingkungan terus dibicarakan, tetapi respons terhadapnya belum sebanding dengan besarnya persoalan, muncul jarak antara kesadaran dan tindakan. Masyarakat mungkin mengetahui bahwa krisis iklim merupakan masalah serius, tetapi pengetahuan tersebut tidak selalu diikuti perubahan perilaku atau dorongan untuk menuntut tindakan yang lebih nyata.
Melalui percakapan yang konfrontatif, audiens dihadapkan pada jarak tersebut. Persoalannya bukan lagi sekadar apakah manusia mengetahui adanya krisis iklim, melainkan bagaimana pengetahuan itu diterjemahkan menjadi sikap dan tindakan.
Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa karya musik dapat berfungsi sebagai medium kritik sosial. Musisi tidak harus menyampaikan seluruh argumennya melalui lirik yang dinyanyikan. Dialog, karakter, dan situasi yang dibangun dalam karya juga dapat membawa pesan yang memperluas makna sebuah album.
Audio-Visual Membentuk Cara Audiens Memahami Pesan
Dalam komunikasi massa, media tidak hanya menyalurkan pesan dari komunikator kepada audiens. Cara sebuah pesan disajikan juga dapat memengaruhi perhatian, pemahaman, dan penafsiran audiens terhadap isu yang dibicarakan.
Pada Wawancara Liar Pt. IV, format dialog memberikan konteks bagi audiens untuk mengikuti pertentangan gagasan secara bertahap. Suara, intonasi, jeda, serta pergantian respons dalam percakapan membantu membangun suasana yang berbeda dari penyampaian informasi melalui narasi biasa.
Ketika sebuah isu disampaikan dalam format wawancara, audiens seolah ditempatkan sebagai pendengar yang menyaksikan langsung perdebatan di antara dua pihak. Situasi tersebut dapat membuat persoalan yang awalnya terasa jauh menjadi lebih konkret. Audiens dapat memperhatikan bukan hanya isi pernyataan, tetapi juga cara karakter merespons pertanyaan dan menghadapi argumen yang berlawanan.
Sementara itu, penyajian visual dalam video membantu menghadirkan identitas dan konteks karya. Dalam format video lirik, teks dan suara menjadi bagian penting dari pengalaman audiens. Penonton dapat mengikuti percakapan melalui unsur verbal sekaligus memahami bagaimana keseluruhan karya dikemas sebagai satu kesatuan.
Perlu dipahami bahwa video lirik tidak selalu menggunakan visual naratif yang kompleks seperti film pendek. Namun, hal tersebut tidak membuatnya kehilangan potensi komunikasi. Justru, ketika perhatian audiens diarahkan pada percakapan dan teks, makna dialog dapat menjadi pusat pengalaman menonton.
Dengan demikian, kekuatan karya audio-visual tidak semata-mata terletak pada banyaknya gambar atau efek visual yang digunakan. Hubungan antara suara, teks, konteks, dan pesan yang disampaikan juga menentukan bagaimana audiens membangun pemahaman terhadap sebuah isu.
Krisis Iklim dan Kebiasaan Menunda Respons
Salah satu persoalan yang menonjol dalam Wawancara Liar Pt. IV adalah cara manusia menghadapi krisis iklim. Isu ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan, tetapi juga dengan komunikasi publik mengenai risiko, tanggung jawab, dan masa depan.
Krisis iklim merupakan persoalan yang dampaknya dapat terasa berbeda bagi setiap kelompok masyarakat. Sebagian orang mungkin mengalaminya melalui banjir, cuaca ekstrem, atau perubahan kondisi lingkungan tempat tinggal. Sementara itu, sebagian lainnya baru menganggap persoalan tersebut penting ketika dampaknya mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perbedaan pengalaman ini menjadi tantangan dalam komunikasi lingkungan. Informasi ilmiah yang disampaikan secara formal belum tentu cukup untuk membuat semua orang memahami urgensi sebuah masalah. Karena itu, cerita dan dialog dapat membantu menghubungkan informasi dengan pengalaman manusia.
Dalam karya Hindia tersebut, persoalan krisis iklim dibawa ke dalam percakapan yang mempertanyakan apa yang dapat dilakukan manusia ketika masalah sudah berlangsung dan waktu terus berjalan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kritik sosial tidak selalu bertujuan memberikan jawaban yang menenangkan. Terkadang, kritik justru berfungsi mengganggu kenyamanan audiens agar mereka bersedia memikirkan kembali sikap yang selama ini dianggap biasa.
Namun, pesan tentang krisis iklim juga perlu dibaca secara kritis. Jika persoalan hanya dipahami sebagai akibat dari kelalaian individu, tanggung jawab pihak-pihak yang memiliki sumber daya, kekuasaan, dan kemampuan untuk melakukan perubahan bisa luput dari perhatian. Karena itu, kesadaran publik perlu diikuti pemahaman mengenai berbagai faktor yang membentuk persoalan lingkungan, termasuk kebijakan, aktivitas industri, dan keputusan kolektif.
Di titik ini, karya audio-visual dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu publik yang lebih luas. Karya tersebut tidak harus menggantikan peran jurnalisme atau penelitian ilmiah, tetapi dapat membantu mendorong audiens untuk mencari informasi, mempertanyakan keadaan, dan mendiskusikan persoalan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.
Dari Pesan yang Disampaikan Menuju Makna yang Dibentuk Audiens
Keberhasilan komunikasi tidak selalu dapat diukur dari seberapa jelas pesan disampaikan oleh pembuat karya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana audiens menerima dan menafsirkan pesan tersebut.
Dalam kajian komunikasi, proses ini berkaitan dengan pemaknaan audiens. Setiap orang membawa pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang yang berbeda ketika mengonsumsi sebuah karya. Akibatnya, satu karya dapat menghasilkan respons yang beragam.
Sebagian penonton mungkin melihat Wawancara Liar Pt. IV sebagai kritik terhadap sikap manusia yang cenderung menunda menghadapi krisis iklim. Penonton lain mungkin lebih tertarik pada persoalan tanggung jawab sosial, ketimpangan kekuasaan, atau cara isu lingkungan dibicarakan di ruang publik.
Perbedaan penafsiran tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa komunikasi gagal. Sebaliknya, hal itu memperlihatkan bahwa audiens bukan penerima pesan yang pasif. Mereka dapat menghubungkan pesan dalam karya dengan pengalaman pribadi dan situasi sosial yang mereka kenal.
Media digital turut memperluas proses tersebut. Setelah menonton sebuah video, audiens dapat membagikannya, mendiskusikan maknanya, atau menghubungkannya dengan peristiwa yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Pesan yang awalnya hadir melalui sebuah karya musik kemudian berpotensi menjadi bagian dari percakapan publik yang lebih luas.
Meski demikian, viralitas tidak otomatis membuktikan bahwa kritik sosial telah dipahami atau menghasilkan perubahan. Jumlah penonton dan interaksi di media sosial hanya menunjukkan sebagian dari respons audiens. Untuk mengetahui dampak yang lebih jauh, diperlukan pengamatan terhadap bagaimana pesan tersebut dipahami, dibicarakan, dan mungkin memengaruhi sikap atau tindakan.
Karya Audio-Visual dan Ruang Diskusi Publik
Pada akhirnya, karya audio-visual memiliki potensi untuk memperluas cara masyarakat membicarakan isu publik. Melalui dialog, suara, teks, dan penyajian yang menarik, persoalan yang sebelumnya terasa rumit dapat dibawa ke ruang komunikasi yang lebih dekat dengan kehidupan audiens.
Wawancara Liar Pt. IV memperlihatkan bagaimana format percakapan dalam karya musik dapat digunakan untuk membicarakan krisis iklim sekaligus mempertanyakan cara manusia meresponsnya. Karya ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari penyampaian informasi formal karena audiens tidak hanya diajak memahami persoalan, tetapi juga menyaksikan ketegangan dalam cara persoalan tersebut dibicarakan.
Dari perspektif ilmu komunikasi, hal ini menegaskan bahwa media bukan sekadar saluran untuk menyampaikan informasi. Media juga dapat membentuk konteks, menghadirkan sudut pandang, dan membuka ruang bagi masyarakat untuk menafsirkan realitas sosial.
Meski begitu, kritik sosial melalui karya audio-visual akan lebih bermakna ketika tidak berhenti pada respons emosional. Rasa khawatir, marah, atau tidak nyaman dapat menjadi awal untuk memikirkan persoalan secara lebih serius, tetapi pemahaman yang baik tetap membutuhkan informasi yang dapat dipercaya dan diskusi yang terbuka.
Sebab, pada akhirnya, kekuatan sebuah karya bukan hanya terletak pada kemampuannya membuat audiens mendengarkan. Karya tersebut juga memiliki potensi untuk membuat audiens bertanya, mempertimbangkan kembali pandangannya, dan melihat bahwa persoalan publik bukan sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan mereka.
Dari sebuah dialog, kritik sosial dapat berkembang menjadi percakapan yang lebih luas. Dan dari percakapan itu, masyarakat memiliki kesempatan untuk memahami bahwa persoalan bersama membutuhkan perhatian, tanggung jawab, dan keterlibatan bersama pula.
