Satu Musisi, Dua Identitas: Analisis Persona Hindia dan Feast

Mahasiswa Universitas Pamulang - S1 Ilmu Komunikasi Thaienthusiast, Kpopers, & Film Enthusiast. Pecinta horror, milo, kopi dan Story Alternative Universe.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Citra Kurnia Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia musik Indonesia, persona Hindia dan .Feast menjadi contoh menarik tentang bagaimana satu musisi dapat menyampaikan pesan melalui dua identitas artistik yang berbeda. Baskara Putra, yang dikenal sebagai Hindia dalam proyek solonya dan sebagai vokalis .Feast, menghadirkan dua pendekatan komunikasi yang punya karakter masing-masing. Melalui Hindia, pendengar diajak menyelami kegelisahan personal dan pergulatan emosional. Sementara itu, .Feast lebih dikenal lewat karya-karya yang menyuarakan kritik sosial, persoalan politik, dan keresahan terhadap kondisi masyarakat.
Perbedaan tersebut bukan sekadar persoalan genre atau gaya bermusik. Jika dilihat dari perspektif komunikasi massa, Hindia dan .Feast memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, membentuk identitas, dan membangun hubungan dengan audiens. Keduanya memiliki cara berbeda dalam mengemas pesan, tetapi sama-sama menjadikan realitas kehidupan sebagai bagian penting dari karya mereka.
Lalu, bagaimana satu musisi bisa menghadirkan dua persona yang berbeda, dan apa yang membuat keduanya tetap relevan bagi pendengar?
Hindia dan Kedekatan Emosional dengan Pendengar
Melalui Hindia, Baskara Putra menghadirkan persona yang terasa lebih personal, reflektif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lagu-lagunya banyak mengangkat pengalaman yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sering kali sulit diungkapkan secara langsung, seperti kelelahan menghadapi hidup, kecemasan tentang masa depan, tekanan sosial, hingga perasaan tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain.
Salah satu contohnya adalah lagu Evaluasi. Lagu ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk melihat kembali perjalanan hidup dan memahami bahwa seseorang tidak harus selalu memiliki jawaban atas semua persoalannya. Sementara itu, Secukupnya mengangkat refleksi tentang keterbatasan manusia dalam menghadapi tekanan kehidupan.
Ada pula Berdansalah, Karir Tak Ada Artinya yang menghadirkan perspektif mengenai pekerjaan, ambisi, dan pentingnya memberi ruang bagi kehidupan di luar tuntutan produktivitas. Melalui lagu-lagu tersebut, Hindia seolah menawarkan ruang bagi pendengar untuk berhenti sejenak dan memikirkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Dari perspektif komunikasi interpersonal, pengalaman ini menarik karena pesan dalam lagu dapat terasa seperti percakapan personal. Pendengar mungkin merasa bahwa ada seseorang yang memahami kegelisahannya, bahkan ketika mereka sendiri kesulitan menjelaskan perasaan tersebut kepada orang lain.
Namun, kedekatan ini perlu dipahami secara tepat. Mendengarkan lagu bukan berarti pendengar sedang berkomunikasi interpersonal secara langsung dengan penyanyinya. Hubungan tersebut lebih tepat dilihat sebagai kedekatan emosional yang muncul ketika pendengar menghubungkan pesan lagu dengan pengalaman pribadinya.
Di sinilah kekuatan persona Hindia. Pengalaman individual disampaikan melalui karya yang dapat dimaknai oleh banyak orang. Kegelisahan yang awalnya terasa pribadi kemudian menjadi pengalaman bersama karena pendengar menemukan bagian dari dirinya dalam lirik yang mereka dengarkan.
.Feast dan Musik sebagai Medium Kritik Sosial
Jika Hindia lebih menonjolkan pengalaman personal, .Feast menghadirkan pendekatan yang cenderung lantang dan kritis terhadap berbagai persoalan sosial. Melalui musiknya, band ini mengangkat isu yang berkaitan dengan politik, kekuasaan, kehidupan masyarakat, dan berbagai kondisi yang mendorong pendengar untuk mempertanyakan realitas di sekitarnya.
Lagu Politrik, misalnya, dapat dibaca sebagai kritik terhadap praktik dan dinamika politik. Sementara itu, Peradaban menghadirkan refleksi mengenai kondisi masyarakat dan persoalan yang menyertai kehidupan bersama. Melalui Kami Belum Tentu, .Feast juga mengajak pendengar untuk mempertanyakan berbagai asumsi dan penilaian yang berkembang di lingkungan sosial.
Lagu-lagu tersebut memperlihatkan bahwa musik tidak selalu harus berfungsi sebagai hiburan. Musik juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan kritik, mengangkat persoalan yang tidak nyaman, dan membuka ruang diskusi di tengah masyarakat.
Dalam perspektif komunikasi massa, hal ini menjadi penting karena pesan yang disampaikan melalui karya musik dapat menjangkau audiens dalam jumlah besar. Melalui layanan streaming, media sosial, pemberitaan, dan pertunjukan langsung, gagasan yang terkandung dalam lagu dapat beredar jauh melampaui situasi ketika lagu itu pertama kali didengarkan.
Pendengar pun tidak harus menerima pesan tersebut dengan pemaknaan yang sama. Ada yang mungkin memahami sebuah lagu sebagai kritik terhadap kondisi politik, ada pula yang menghubungkannya dengan pengalaman sosial yang lebih dekat dengan kehidupannya. Perbedaan interpretasi ini menunjukkan bahwa audiens bukan sekadar penerima pesan yang pasif, melainkan pihak yang turut memberikan makna terhadap karya yang mereka konsumsi.
Dengan demikian, kekuatan .Feast tidak hanya terletak pada keberanian mengangkat persoalan sosial, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan materi yang dapat menjadi bahan refleksi dan percakapan publik.
Komunikasi Massa: Bagaimana Dua Persona Menyampaikan Pesan?
Untuk memahami perbedaan Hindia dan .Feast secara lebih mendalam, konsep komunikasi massa dapat digunakan sebagai kerangka analisis utama. Komunikasi massa membahas proses penyampaian pesan melalui media kepada khalayak yang luas dan beragam.
Dalam konteks musik, lagu bukan hanya produk artistik, tetapi juga medium komunikasi. Lirik, aransemen, karakter vokal, visual video musik, hingga cara sebuah karya diperkenalkan kepada publik dapat memengaruhi bagaimana pesan diterima dan dimaknai oleh audiens.
Hindia dan .Feast memperlihatkan perbedaan dalam penekanan pesan yang mereka hadirkan. Hindia cenderung mengemas pengalaman personal menjadi cerita yang memungkinkan pendengar melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, .Feast lebih sering menempatkan persoalan sosial sebagai titik berangkat untuk menyampaikan kritik dan membangun kesadaran terhadap kondisi di sekitar.
Perbedaan ini dapat dipahami melalui tiga aspek komunikasi.
Pertama, konstruksi pesan. Hindia cenderung menggunakan narasi personal dan reflektif untuk mengomunikasikan kegelisahan manusia. .Feast lebih menonjolkan pesan kritis yang berkaitan dengan persoalan sosial dan kehidupan kolektif.
Kedua, jangkauan dan konteks penerimaan pesan. Melalui media digital dan berbagai saluran distribusi musik, karya keduanya dapat menjangkau pendengar dengan latar belakang yang berbeda. Pesan yang sama dapat diterima secara beragam karena setiap pendengar memiliki pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang masing-masing.
Ketiga, kemungkinan dampak komunikasi. Karya Hindia dapat mendorong pendengar untuk merefleksikan pengalaman emosionalnya, sedangkan karya .Feast dapat memancing pertanyaan dan diskusi tentang persoalan sosial. Dampak tersebut tidak selalu muncul secara langsung, tetapi dapat berkembang melalui proses pemaknaan dan percakapan setelah seseorang mendengarkan musik.
Meski demikian, perbedaan ini bukan batas yang mutlak. Hindia juga dapat menyampaikan refleksi yang berkaitan dengan kehidupan sosial, sedangkan .Feast tetap memiliki dimensi emosional. Yang membedakan keduanya adalah kecenderungan pendekatan yang digunakan dalam membangun identitas artistik dan menyampaikan pesan.
Satu Musisi, Dua Persona: Apakah Keduanya Bertentangan?
Melihat Hindia dan .Feast sebagai dua identitas yang bertentangan justru dapat menyederhanakan kompleksitas karya Baskara Putra. Keduanya dapat dipahami sebagai dua ruang ekspresi yang menonjolkan perspektif berbeda terhadap kehidupan.
Hindia memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat menjadi bahan refleksi yang relevan bagi banyak orang. Sementara itu, .Feast menunjukkan bahwa pengalaman manusia juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial, budaya, dan politik yang membentuknya.
Keduanya memiliki titik temu dalam hal kegelisahan. Perbedaannya terletak pada arah pesan yang lebih dominan: Hindia cenderung mengajak pendengar melihat ke dalam dirinya, sedangkan .Feast lebih sering mengarahkan perhatian pada persoalan di luar diri individu.
Dari sisi komunikasi, hal ini memperlihatkan bahwa identitas artistik tidak selalu harus dibatasi oleh satu karakter. Seorang musisi dapat menghadirkan cara penyampaian pesan yang berbeda melalui proyek musik yang berbeda pula, tanpa harus kehilangan kesinambungan gagasan yang menjadi bagian dari karyanya.
Karena itu, dua persona ini tidak harus dipahami sebagai dua kepribadian yang saling meniadakan. Keduanya justru memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dan keresahan sosial dapat menjadi bagian dari spektrum ekspresi seorang seniman.
Dari Kegelisahan Pribadi Menuju Percakapan Kolektif
Salah satu hal paling menarik dari Hindia dan .Feast adalah kemungkinan pendengar menemukan keterhubungan melalui dua pendekatan yang berbeda. Seseorang mungkin mendengarkan Hindia ketika sedang berusaha memahami perasaannya sendiri, kemudian menemukan perspektif lain melalui .Feast ketika ingin memahami persoalan yang lebih luas.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa musik dapat berfungsi sebagai penghubung antara pengalaman individual dan realitas kolektif. Perasaan lelah, cemas, atau tidak pasti memang dialami secara pribadi, tetapi pengalaman tersebut juga dapat berkaitan dengan tuntutan sosial, kondisi ekonomi, budaya kerja, dan berbagai situasi yang memengaruhi kehidupan seseorang.
Dalam konteks ini, komunikasi massa memungkinkan pesan yang dikemas melalui musik menjangkau banyak orang dan berkembang menjadi bahan percakapan. Ketika sebuah lagu dibagikan di media sosial, didiskusikan bersama teman, atau dihubungkan dengan peristiwa tertentu, proses pemaknaan terhadap lagu tersebut dapat terus berkembang.
Di sisi lain, kedekatan emosional yang dirasakan pendengar terhadap Hindia memperlihatkan bahwa pesan yang disebarkan melalui media massa tetap dapat memiliki arti yang sangat personal. Jangkauan pesan boleh luas, tetapi pengalaman ketika menerima pesan itu dapat terasa intim bagi setiap individu.
Dengan demikian, komunikasi massa dan komunikasi interpersonal tidak harus diposisikan sebagai dua hal yang sepenuhnya terpisah. Musik dapat disebarkan kepada khalayak luas, kemudian menjadi bahan percakapan antarmanusia dan memperoleh makna baru melalui pengalaman personal mereka.
Musik Bukan Sekadar Bunyi, tetapi Cara Memahami Kehidupan
Pada akhirnya, Hindia dan .Feast memperlihatkan dua pendekatan komunikasi yang menarik dalam musik Indonesia. Melalui Hindia, Baskara Putra menghadirkan ruang untuk memahami kegelisahan personal. Melalui .Feast, ia bersama rekan-rekannya menghadirkan ruang untuk mempertanyakan kondisi sosial dan berbagai persoalan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Perbedaan persona tersebut memperlihatkan bahwa musik dapat menjalankan beragam fungsi komunikasi. Musik bisa menjadi medium refleksi, sarana penyampaian kritik, sekaligus ruang tempat pendengar menemukan makna berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri.
Hal yang membuat keduanya menarik bukan semata-mata karena satu terdengar lebih personal dan yang lain lebih kritis. Keduanya menunjukkan bahwa pesan yang kuat tidak selalu harus disampaikan melalui satu pendekatan. Ada kalanya seseorang membutuhkan musik untuk memahami dirinya sendiri, tetapi ada pula saat ketika ia membutuhkan musik untuk memahami dunia yang sedang dihadapinya.
Melalui Hindia dan .Feast, kita dapat melihat bahwa musik bukan hanya tentang apa yang didengar, melainkan juga tentang bagaimana pesan diterima, dimaknai, dan dibicarakan kembali oleh pendengarnya.
Sebab, pada akhirnya, kegelisahan manusia tidak hanya hidup di dalam dirinya sendiri. Sebagian tumbuh dari dunia di sekitarnya. Dan melalui musik, keduanya dapat menemukan ruang untuk disuarakan.
