Konten dari Pengguna

Kenapa Caption Bahasa Inggris Terlihat Lebih Aesthetic?

Citra Amiratia

Citra Amiratia

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, FIKOM Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Citra Amiratia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: gambar ini diambil dari Freepik.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: gambar ini diambil dari Freepik.

“Trying my best, I swear.”

Kalimat itu sering muncul di media sosial. Ringan, relatable, dan seolah menyiratkan banyak hal tanpa perlu terlalu terbuka. Tapi coba terjemahkan langsung ke bahasa Indonesia: “Aku berusaha sekuat tenaga, sumpah.” Langsung terasa lebih berat dan lebih jujur gitu.

Bagi banyak dari kita—terutama yang tumbuh bareng Instagram dan Twitter—caption berbahasa Inggris sering terasa lebih aman dan elegan. Meski isinya tentang kegalauan, lelah, atau overthinking, bahasa Inggris memberi jarak yang cukup. Lebih ringan menulis “I’m tired” dibanding “Aku capek banget.” Lebih nyaman bilang “It’s been a rough day” daripada “Hari ini kacau banget.” Padahal, maknanya sama saja.

Bahasa Inggris memungkinkan kita jujur tanpa merasa sepenuhnya terbuka. Sementara bahasa Indonesia—karena terlalu dekat—kadang terasa terlalu nyata. Seolah menulisnya saja bisa membuat perasaan jadi lebih telanjang dari yang kita siap hadapi.

Dan itu wajar. Bahasa asing, dalam hal ini, berfungsi seperti filter. Ia menyamarkan luka, membungkus keresahan dengan gaya. Cocok untuk zaman digital, di mana bahkan perasaan pun dituntut untuk tampil menarik.

Tapi ini bukan soal gengsi. Ini soal citra. Di media sosial, kita terbiasa menyusun narasi hidup yang rapi, keren, dan—ya—sedikit aesthetic. Bahasa Inggris menyediakan kosakata yang terdengar elegan untuk hal-hal yang sebenarnya berantakan.

Tapi pertanyaannya: apakah kita benar-benar tidak bisa mengekspresikan hal serupa dalam bahasa Indonesia? Atau kita hanya belum terbiasa mendengar bahasa kita sendiri tampil bebas, tanpa aturan sekolah atau nada formal?

Padahal, bahasa Indonesia juga bisa terasa indah, puitis, bahkan sarkastis. Kalimat seperti “Lelah bukan berarti kalah” atau “Aku baik, tapi pura-pura” bisa menyentuh—tanpa perlu diimpor dari kutipan luar. Mungkin bukan soal bahasanya, tapi keberanian untuk jujur.

Bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkaitan dengan rasa percaya diri, keinginan untuk diterima, dan kebutuhan untuk menjaga jarak. Maka bukan hal aneh jika banyak dari kita lebih nyaman memilih kata yang terdengar aman, meski bukan dari bahasa sendiri.

Mau pakai bahasa Inggris, Indonesia, daerah, atau campur-campur juga sah-sah saja. Bahasa adalah cara kita menavigasi perasaan. Tapi kadang, menyebut sesuatu dengan nama aslinya—dalam bahasa yang paling dekat—adalah bentuk kejujuran yang paling melegakan.

Karena aesthetic itu penting. Tapi autentik? Lebih menenangkan.