Konten dari Pengguna

Delulu is the Solulu : Optimisme Baru atau Distorsi Kognitif?

Clara Farell Herlandri

Clara Farell Herlandri

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Clara Farell Herlandri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi individu yang membangun ekspektasi ideal melalui media sosial, yang tidak selalu mencerminkan realitas.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi individu yang membangun ekspektasi ideal melalui media sosial, yang tidak selalu mencerminkan realitas.

Belakangan ini, istilah “delulu is the solulu” ramai digunakan di media sosial, khususnya TikTok, sebagai cara baru anak muda menghadapi realitas. Ungkapan ini tidak hanya viral, tetapi juga perlahan membentuk cara berpikir: seolah-olah menjadi “sedikit delusional” justru merupakan solusi. Di tengah budaya digital yang serba cepat, muncul berbagai ungkapan yang tidak hanya viral, tetapi juga membentuk cara berpikir. Salah satunya adalah “delulu is the solulu”, sebuah frasa yang secara sederhana berarti: “bersikap ‘delusional’ adalah solusi.”

Di satu sisi, ungkapan ini terdengar seperti dorongan untuk percaya diri dan tidak membatasi diri. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah keyakinan tanpa dasar dapat dianggap sebagai strategi rasional, atau justru mencerminkan kesalahan dalam berpikir?

Pertanyaan ini penting, terutama dalam konteks logika penyelidikan ilmiah, yang menuntut agar setiap klaim diuji melalui bukti, konsistensi, dan argumentasi yang valid.

Ketika Optimisme Menjadi Strategi

Tidak semua bentuk “delulu” harus langsung ditolak. Dalam batas tertentu, keyakinan positif memang memiliki fungsi penting. Banyak penelitian psikologi menunjukkan bahwa optimisme dapat meningkatkan motivasi, ketekunan, dan kemampuan individu dalam menghadapi kegagalan.

Namun, ada syarat penting yang sering diabaikan: optimisme yang sehat tetap berpijak pada realitas. Ia bukan sekadar percaya, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan, keterbatasan, dan bukti yang tersedia.

Di titik ini, kita mulai melihat perbedaan antara optimisme sebagai strategi kognitif dan optimisme sebagai ilusi.

Masalahnya: Ketika Keyakinan Menggantikan Bukti

Ungkapan “delulu is the solulu” mengandung asumsi implisit bahwa keyakinan kuat cukup untuk menghasilkan keberhasilan. Secara intuitif, ini terdengar meyakinkan. Namun jika diuji secara logis, klaim ini bermasalah.

Tidak semua orang yang yakin akan berhasil benar-benar berhasil. Misalnya, seseorang yang percaya akan diterima di pekerjaan impiannya hanya karena merasa “pasti cocok”, tanpa mempersiapkan keterampilan atau memahami kebutuhan perusahaan, tetap berisiko gagal. Keberhasilan bergantung pada banyak faktor: kemampuan, usaha, kondisi sosial, hingga faktor kebetulan. Mengabaikan kompleksitas ini berarti melakukan penyederhanaan yang berlebihan.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan dalam konteks akademik. Tidak jarang mahasiswa meyakini bahwa mereka akan memperoleh nilai tinggi hanya karena merasa “paham” atau “yakin bisa”, tanpa melakukan persiapan yang memadai. Keyakinan ini sering kali tidak diiringi dengan strategi belajar yang sistematis, sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan ekspektasi. Dalam situasi seperti ini, kegagalan bukan lagi dilihat sebagai akibat dari kurangnya usaha atau metode belajar yang kurang tepat, melainkan sebagai kurangnya keyakinan diri.

Lebih jauh lagi, pola pikir “delulu” rentan terhadap berbagai bias kognitif, seperti:

• kecenderungan hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan,

• mengabaikan bukti yang bertentangan,

• serta merasa terlalu yakin tanpa dasar yang cukup.

Dalam kerangka ilmiah, ini bukan sekadar gaya berpikir—melainkan potensi kesalahan dalam penalaran.

Antara Motivasi dan Distorsi

Meski demikian, menolak “delulu” sepenuhnya juga kurang tepat. Ada sisi lain yang perlu dipertimbangkan.

Keyakinan, bahkan yang tampak tidak realistis, kadang berfungsi sebagai pemicu tindakan. Seseorang yang percaya bahwa ia mampu mencapai sesuatu cenderung bertindak lebih berani dibandingkan mereka yang ragu. Dalam hal ini, “delulu” bisa berperan sebagai alat psikologis untuk mendorong perilaku.

Namun di sinilah batas kritisnya:

ketika keyakinan tidak lagi diuji, tidak lagi dikoreksi oleh realitas, dan mulai menggantikan bukti, maka ia berubah dari motivasi menjadi distorsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa batas antara keyakinan yang mendorong dan keyakinan yang menyesatkan sangatlah tipis. Tanpa kerangka berpikir yang jelas, individu mudah terjebak dalam keyakinan yang terasa benar tetapi tidak memiliki dasar yang kuat. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang mampu menyeimbangkan antara harapan dan realitas melalui penalaran yang lebih sistematis.

Mengembalikan Peran Rasio

Fenomena “delulu is the solulu” mencerminkan ketegangan klasik antara harapan dan realitas. Di satu sisi, manusia membutuhkan harapan untuk bergerak maju. Di sisi lain, tanpa penalaran yang kritis, harapan dapat berubah menjadi ilusi yang menyesatkan.

Logika penyelidikan ilmiah menawarkan jalan tengah:

bukan menolak keyakinan, tetapi mengujinya.

Artinya, kita tetap boleh berharap tinggi, tetapi:

• keyakinan harus terbuka terhadap koreksi,

• klaim harus dapat dipertanggungjawabkan,

• dan keputusan harus mempertimbangkan bukti yang relevan.

Kesimpulan

“Delulu is the solulu” bukan sekadar tren bahasa, melainkan cerminan cara berpikir yang semakin umum di era digital. Ia dapat menjadi sumber motivasi, tetapi juga berpotensi menjadi distorsi kognitif ketika tidak disertai dengan evaluasi rasional.

Nilainya tidak terletak pada benar atau salah secara mutlak, melainkan pada bagaimana ia digunakan. Dalam konteks akademik, misalnya, keyakinan bahwa seseorang akan berhasil tanpa persiapan yang memadai menunjukkan bahwa apa yang diyakini tidak selalu berlandaskan pengetahuan yang valid. Ketika keyakinan menggantikan proses belajar dan pembuktian, maka yang muncul bukanlah optimisme yang sehat, melainkan asumsi yang tidak teruji.

Dari sudut pandang epistemologi, fenomena ini menegaskan bahwa pengetahuan seharusnya dibangun melalui bukti, proses, dan verifikasi yang jelas. Keyakinan yang tidak dapat diuji atau dipertanggungjawabkan secara rasional tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan yang sahih. Oleh karena itu, tantangan utamanya bukan menolak optimisme, melainkan memastikan bahwa setiap keyakinan tetap berpijak pada dasar pengetahuan yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.