Konten dari Pengguna
Bagaimana Neurosains Mengatur Lapar, Haus, Mengantuk, dan Hasrat
3 Desember 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Bagaimana Neurosains Mengatur Lapar, Haus, Mengantuk, dan Hasrat
Bagaimana Neurosains Mengatur Lapar, Haus, Mengantuk, dan HasratCLARISA ROSA AMANDA
Tulisan dari CLARISA ROSA AMANDA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Apa itu Neurosains? Neuorsains adalah bidang ilmu yang mempelajari sistem saraf atau sistem neuron. Bidang ini menggunakan prinsip dan metode neurosains untuk memahami bagaimana sistem saraf memengaruhi kognisi, emosi, dan perilaku manusia, serta bagaimana keduanya dapat dipengaruhi oleh kondisi neurologis dan psikiatris. Disiplin ini menggabungkan psikologi, neurobiologi, dan disiplin ilmu lain untuk menyelidiki fungsi otak yang mendasari proses mental. Pada intinya, neurosains akan menjawab pertanyaan: Bagaimana otak kita berpikir, merasa, bertindak, dan merasakan dorongan seperti lapar, haus, mengantuk, dan hasrat seksusal?.
ADVERTISEMENT
Mengapa perilaku makan, minum, tidur, dan seks dipelajari? Karena semuanya adalah basic survival drives, secara ekstensif dalam berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, biologi, dan fisiologi karena merupakan kebutuhan fisiologis dan motivasi mendasar manusia yang sangat penting bagi kelangsungan hidup individu dan spesies. Keempat perilaku ini muncul dari kombinasi faktor fisiologis, hormonal, emosional, dan sistem reward yang semuanya diproses oleh otak.
Neurosains juga berperan dalam pengkajian informasi seperti makan, minum, tidur, dan perilaku seksual. Mengapa seperti itu? Makan merupakan perilaku untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh. Makan akan dikontrol otak dan hormon yang saling membantu dalam memberikan respon saat nafsu makan meningkat atau menurun. Hipotalamus merupakan bagian otak yang sangat berperan dalam mengendalikan asupan makan dan sensasi lapar serta kenyang. Selain hipotalamus, hormon dan neurotransmiter juga berperan dalam mengatur makan. Hormon ghrelin (hormon lapar), hormon leptin (hormon kenyang), insulin (pengatur glukosa), dan dopamin (membuat makan terasa menyenangkan). Jadi saat kita lapar hormon ghrelin akan memberi sinyal ke hipotalamus untuk mengendalikan kita agar makan.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya makan, ternyata minum juga sangat diperlukan pada tubuh manusia. Minum merupakan perilaku agar tubuh mempertahankan keseimbangan cairan. Hipotalamus juga berperan dalam mengontrol haus, terutama OVLT (Organum Vasculosum Lamina Terminalis) dan Subfornical Organ (SFO), keduanya mendeteksi kadar garam dalam darah (osmolatitas). Pada umumnya, manusia dapat minum sekitar 8 gelas atau 2 liter air putih per hari, tetapi kebutuhan ini bervariasi tergantung usia, aktivitas fisik, iklim, dan kondisi kesehatan. Cairan juga bisa didapatkan dari makanan, seperti buah dan sayur, sehingga total asupan cairan tubuh tidak hanya dari air minum saja.
Selain mengatur lapar dan haus, otak juga akan mengatur siklus tidur dan rasa kantuk pada tubuh manusia. Tidur adalah keadaan fisiologis alami yang penting untuk pemulihan fisik, mental, memori, dan regulasi hormonal. Mengapa kita mengantuk? Karena Ritme Sirkadian mengatur jam biologis untuk membuat kita merasa mengantuk dan juga membangunkan kita saat tertidur. Jadi, Ritme Sirkadian sendiri akan di tentukan oleh Suprachiasmatic Nucleus (SCN) agar mengatur siklus tidur dan juga bangun. Saat kita ingin tidur otak akan mengatur Ventrolateral Preoptic Area (VLPO) untuk menurunkan aktivitas otak agar memulai tidur. Kemudian saat kita bangun Reticular Activating System (RAS) akan mempertahankan kewaspadaan saat kita akan bangun. Jadi kita akan merasa mengantuk ketika VLPO telah melakukan penurunan aktivitas otak.
ADVERTISEMENT
Ketika otak mengatur lapar, haus, dan juga mengantuk, otak juga memainkan peran sentral dalam membentuk dan mengarahkan perilaku seksual manusia. Apa itu perilaku seksual? Perilaku seksual merupakan perilaku reproduksi yang memiliki aspek biologis, hormonal, emosional, dan juga reward. Mengapa manusia dapat melakukan perilaku seksual? Karena perilaku seksual diatur oleh struktur subkortikal, seperti hipotalamus, batang otak, dan sumsum tulang belakang, serta beberapa area kortikal otak yang bertindak sebagai orkestra untuk mengatur perilaku primitif, kompleks, dan serbaguna ini. Selain itu, bagian otak lain seperti korteks frontal juga terlibat dalam mengontrol dan memoderasi perilaku seksual dengan pemikiran logis dan pertimbangan sebab-akibat. Di antara wanita dan pria adapun perbedaan perilaku seksual yang dapat dikaitkan dengan substrat anatomi dimorfik yang terletak di sistem genital dan saraf, serta profil hormonal yang berbeda (Hausmann, 2017 ; MacLusky & Naftolin, 1981 ; McEwen & Milner, 2017). Hasrat seksual umumnya didefinisikan sebagai adanya pikiran, fantasi, dan motivasi seksual untuk terlibat dalam perilaku seksual sebagai respons terhadap isyarat internal dan eksternal yang relevan (Buss & Schmitt, 1993). Pada pria, gairah seksual fisiologis dimulai dengan ereksi, yang merupakan peristiwa refleksogenik yang didorong oleh sinyal sensorik yang disampaikan oleh saraf dorsal penis setelah stimulasi ujung saraf bebas yang terletak di sepanjang penis dan glans. Hal ini disebabkan oleh oksida nitrat yang dilepaskan oleh endotelium setelah stimulasi parasimpatis dari saraf panggul. Gairah pada wanita bergantung pada mekanisme yang serupa; namun, gairah seksual bersifat fasik seiring dengan siklus menstruasi. Hemodinamika di klitoris setelah rangsangan seksual dikendalikan oleh sistem saraf otonom. Selama gairah, kelenjar Bartholin yang terletak di kedua sisi lubang vagina menghasilkan lendir, yang bersama dengan sekresi vagina, melumasi area tersebut sehingga hubungan seksual terasa lebih nyaman (Yucel dkk., 2004).
ADVERTISEMENT
Dari pembahasan yang telah kita baca, keempat kebutuhan dasar manusia (makan, minum, tidur, dan perilaku seksual) merupakan perilaku yang melibatkan proses neurosains. Otak memahami kondisi fisiologis tubuh, kemudian menghasilkan rasa lapar, haus, mengantuk, dan hasrat sebagai “bahasa biologis” agar tubuh dapat bertahan dan berkembang. Pemahaman terhadap proses ini tidak hanya penting secara teoritis, tetapi juga memiliki implikasi praktis dalam memahami dan menangani berbagai gangguan. Jadi neurosains sangat berperan dalam segala aktivitas pada manusia.

