Konten dari Pengguna

Menyelami Kesenjangan Identitas: Anoreksia Nervosa dan Penanganannya

Clarissa Salsabila

Clarissa Salsabila

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Clarissa Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang bingung Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang bingung Foto: Shutterstock

Tentunya kita tidak asing dengan kalimat 'kalau kamu cantik setengah permasalahan hidupmu akan teratasi' bukan? Kalimat ini sering berseliweran di media sosial karena kecantikan fisik merupakan hal yang sangat diagung-agungkan pada saat ini. Bahkan masyarakat sering mewajarkan perilaku buruk dari seseorang hanya karena individu tersebut memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang ideal.

Wanita memiliki standart bahwa yang ideal adalah tubuh yang kurus bak idol-idol korea. Hal tersebut menimbulkan berbagai dampak buruk yaitu gangguan makan (eating disorder), salah satunya yaitu anoreksia nervosa.

Apa Itu Anoreksia Nervosa?

Anoreksia nervosa merupakan sindrom klinis di mana seseorang mengalami rasa takut yang tidak wajar terhadap kegemukan (Towsend, 1998). Individu yang mengalami gangguan ini akan membiarkan diri mereka kelaparan. Anoreksia nervosa merupakan gangguan yang disebabkan adanya penyimpangan dalam menilai suatu situasi.

Penderita anoreksia memiliki kepercayaan diri yang rendah sehingga selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki tubuh menarik. Mereka yang memiliki kepercayaan diri yang rendah melakukan hal ekstrem untuk memenuhi tuntutan lingkungan sekitar.

Penderita gangguan makan ini kebanyakan berasal dari remaja. Menurut penelitian 11,6% remaja Jakarta dari 34,8% menderita anoreksia nervosa yaitu penyimpangan perilaku makan (Tantiana, 2007). Hal itu dikarenakan remaja masih memiliki pemikiran yang labil sehingga melakukan berbagai cara agar memiliki tubuh yang ramping dan cantik.

Bagaimana Kriteria Individu yang Dapat Dikatakan Penderita Anoreksia Nervosa?

Kita perlu mengetahui kriteria penderita anoreksia nervosa agar orang terdekat kita yang sedang mengalami gangguan makan ini dapat segera dikenali dan diatasi. Gangguan makan ini dapat dikenali dengan cukup mudah. Diagnostic and Statistical Manual of (DSM-IV: American Psychiatric Assosiation, 1994) mengatakan bahwa terdapat 4 kriteria individu dapat dikatakan penderita anorexia nervosa, antara lain:

  • Memiliki ketakutan berlebihan apabila badan menjadi gemuk padahal individu tersebut memiliki berat badan di bawah batas normal.

  • Penderita akan mengalami kesulitan menerima berat badan dan bentuk tubuh dirinya yang pada akhirnya akan memengaruhi penilaian penderita atau tidak mempedulikan risiko dari memiliki berat badan di bawah normal yang akan menimbulkan penyakit yang serius.

  • Menolak untuk mempertahankan berat badan sesuai dengan umur dan tinggi badannya.

  • Wanita mengalami gangguan pada siklus menstruasinya yaitu tidak hadirnya menstruasi minimal 3 kali sesuai siklusnya. Gangguan ini biasanya terjadi sebelum adanya penurunan berat badan drastis.

Apa Penyebab Terjadinya Anoreksia Nervosa?

Banyaknya penderita anoreksia nervosa harus segera diatasi agar tidak terjadi malnutrisi. Cara pertama yang harus dilakukan untuk menagatasi gangguan makan ini yaitu mencari tahu terlebih dahulu penyebab terjadinya anoreksia nervosa dan bumilia nervosa. Adapun penyebab terjadinya anoreksia nervosa dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:

  • Faktor sosio-kultur : Wanita dihadapkan tekanan pandangan masyarakat yang menganggap bahwa wanita cantik adalah wanita bertubuh kurus. Kurus yang dimaksud adalah kurus yang tidak realistis. Terkadang dengan adanya pandangan ini banyak perempuan yang memiliki tubuh berisi mendapatkan ejekan dan menjadi korban perundungan sehingga korban menjadi tidak percaya diri dengan penampilannya.

  • Faktor psikologis : Kecenderungan individu yang ingin terlihat sempurna hingga tidak dapat menghargai diri sendiri membuat individu tersebut mengalami anoreksia nervosa. Individu tersebut pun akan menjalani diet yang tidak sehat demi mendapatkan berat badan yang diinginkannya. Padahal diet yang ekstrem akan mendapatkan efek samping yang serius. Salah satunya yaitu hilangnya kontrol makan sehingga individu tersebut akan makan secara belebihan. Hal ini disebut dengan bulimik.

  • Faktor keluarga : Keluarga juga menjadi faktor penting penyebab gangguan makan ini. Adanya kurang perhatian dan kasih sayang kepada anak sehingga tidak ada yang menyadari dan menegur pola makan hidup anaknya yang tidak sehat. Pola pengasuhan yang diberikan keluarga juga memengaruhi tingkat kepercayaan diri anak. Keluarga yang tidak harmonis dan banyak terjadi pertengkaran juga bisa menjadi faktor penyebab terjadinya aneroksia nervosa. Anak yang sering melihat pertengkaran kedua orang tuanya akan menjadi stress dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyakiti dirinya sendiri.

  • Faktor biologis : adanya pengaruh genetis dari orang tua atau terjadinya ketidakkeseimbangan dalam mengatur mood dan makan yang terjadi pada sistem neutrotransmitter di otak.

Bagaimana Cara Menangani Penderita Aneroksia Nervosa?

Penderita aneroksia nervosa jika berlangsung dalam jangka panjang akan mendapatkan dampak kesehatan dan psikis yang sangat serius, seperti hipotensi kronis, anemia, pembengkakan kelenjar liur, gagal jantung, dan lainnya. Maka dari itu, penderita anoreksia nervosa perlu segera ditangani. Penanganan gangguan makan ini tentu tidak mudah. Banyak penderita yang tidak mau untuk mendapatkan penanganan.

Penanganan penderita gangguan makan ini bisa berupa rawat inap di rumah sakit atau hanya melakukan kontrol ke rumah sakit dan menjalani terapi dari orang lebih profesional. Perlu diperhatikan keberhasilan dari terapi ini tentunya harus didukung oleh pihak keluarga dan lingkungannya. Keluarga memiliki peran sangat penting dalam penyembuhan penderita untuk meningkatkan kepercayaan dirinya.