Konten dari Pengguna

Banyak Anak Banyak Rezeki: Mitos Budaya dan Dampaknya terhadap Perekonomian

Cleodora Gisa Nugroho

Cleodora Gisa Nugroho

SMA Citra Berkat Tangerang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cleodora Gisa Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ini dibuat dengan ChatGPT atas permintaan penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ini dibuat dengan ChatGPT atas permintaan penulis.

Pepatah “banyak anak banyak rezeki” sudah lama tertanam kuat di budaya masyarakat Indonesia, khususnya bagi orang yang lahir sebagai masyarakat agraris di masa lalu yang memandang anak sebagai sumber rezeki dan tenaga kerja tambahan dalam keluarga. Pada masa itu, semakin banyak anak dianggap membawa lebih banyak membawa rezeki karena anak dapat membantu pekerjaan para orang tua di sawah, menjaga rumah, serta memperkuat ikatan keluarga besar yang menjadi andalan untuk saling membantu. Pepatah ini tidak hanya menjadi keyakinan, tetapi juga semacam pegangan hidup bagi keluarga yang hidupnya tergolong sederhana sampai yang miskin. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, muncul pertanyaan besar tentang relevansi pepatah ini di tengah perubahan struktur ekonomi, gaya hidup modern, dan meningkatnya kebutuhan pendidikan anak.

Permasalahan muncul ketika kondisi sosial dan ekonomi berubah drastis dibandingkan dengan masa lalu. Kehidupan di zaman modern ini, bagi orang yang berpenghasilan rendah, menghadapi tekanan biaya hidup yang terus meningkat, seperti biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari justru akan terasa semakin berat. Banyak anak yang dulu dianggap sebagai sumber rezeki, kini justru dapat menjadi beban ekonomi apabila keluarga tidak siap secara finansial dan pengetahuan. Rendahnya akses informasi tentang pentingnya keluarga berencana dan masih kuatnya kepercayaan lama yang membuat sebagian keluarga miskin tetap ingin memiliki banyak anak, meskipun mereka sadar bahwa kondisi ekonomi mereka sangat terbatas. Situasi ini dapat memunculkan risiko kemiskinan turun-temurun dan menghambat kesejahteraan generasi berikutnya.

Pandangan bahwa pepatah “banyak anak banyak rezeki” memang memiliki nilai positif tentang keikhlasan menerima anak sebagai anugerah Tuhan. Namun, dalam konteks saat ini, jumlah anak tetap harus direncanakan dengan bijak sesuai kemampuan ekonomi dan kesiapan orang tua. Setiap anak membutuhkan hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, kesehatan, dan perhatian. Sehingga keluarga harus mampu menyesuaikan jumlah anak dengan kemampuannya. Dengan perencanaan keluarga yang baik dan kesadaran akan tantangan zaman, anak-anak yang lahir akan benar-benar menjadi sebuah berkat, bukan sebaliknya menjadi beban yang berpotensi memperkuat rantai kemiskinan.

IIlustrasi ini dibuat dengan ChatGPT atas permintaan penulis.

Berdasarkan berbagai sumber, keluarga miskin cenderung memiliki anak lebih banyak dibanding keluarga yang lebih sejahtera. Artikel Merdeka.com menyebut rendahnya tingkat pendidikan dan keterbatasan akses informasi sebagai penyebab utama tingginya angka kelahiran di keluarga miskin. Artikel Greennetwork.id menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga miskin sering hanya mengenyam pendidikan rendah dan akhirnya memiliki pendapatan yang rendah saat dewasa, sehingga memperkuat lingkaran kemiskinan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sementara itu, Sekda Sulawesi Selatan dalam wawancara di Detik.com juga berpendapat bahwa keluarga miskin yang memiliki banyak anak sering kali mewariskan kemiskinan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, gizi, dan masa depan anak. Fakta-fakta ini menunjukkan adanya hubungan erat antara jumlah anak yang besar, kemiskinan, dan rendahnya mobilitas sosial.

Selain fakta tersebut, ada pendapat yang menyebutkan bahwa pendidikan formal saja tidak selalu menjamin kesuksesan. Artikel di Kompasiana menjelaskan bahwa faktor seperti kerja keras, kreativitas, dan kemampuan membaca peluang juga sangat berperan penting dalam menentukan masa depan seseorang. Namun demikian, tanpa bekal pendidikan dan keterampilan yang cukup, anak-anak dari keluarga miskin tetap memiliki jalan yang lebih sulit untuk memperbaiki taraf hidup mereka. Artikel Kompas.com juga mengingatkan kita bahwa pepatah “banyak anak banyak rezeki” lahir di masa yang konteksnya sangat berbeda, ketika masyarakat masih hidup bergantung pada pertanian. Kini, dengan biaya pendidikan yang semakin tinggi dan persaingan hidup yang semakin ketat, jumlah anak perlu direncanakan agar keluarga tetap bisa memberikan hak pendidikan dan pengasuhan terbaik bagi setiap anak.

Melalui fakta dan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pepatah “banyak anak banyak rezeki” sudah tidak sepenuhnya relevan jika diterapkan begitu saja di masa kini. Permasalahan jumlah anak bukan sekadar soal angka, tetapi juga terkait kemampuan orang tua dalam mendidik, memenuhi kebutuhan dasar, dan mempersiapkan masa depan anak-anak mereka di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks.

Oleh sebab itu, solusi yang paling tepat adalah meningkatkan kesadaran keluarga berencana melalui pendidikan dan informasi yang mudah diakses, memperluas layanan kesehatan reproduksi, serta mendukung program pemberdayaan ekonomi dan pelatihan keterampilan bagi keluarga miskin. Dengan begitu, keluarga dapat memiliki anak sesuai dengan kemampuan mereka, dan setiap anak yang lahir dapat tumbuh dengan kesempatan yang lebih baik untuk memutus rantai kemiskinan. Perubahan cara pandang ini penting agar pepatah lama tetap memiliki makna positif, tetapi juga sesuai dengan tantangan zaman.