Berhenti Menghakimi, Mulai Mendengarkan demi Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Mulawarman
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Clery tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, topik mengenai kesehatan mental mulai banyak dibicarakan di berbagai ruang publik. Jika dulu gangguan mental sering dianggap aib atau bahkan dikaitkan dengan hal-hal mistis, kini masyarakat perlahan memahami bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Media sosial, komunitas, hingga lembaga pendidikan mulai membuka ruang diskusi dan dukungan bagi mereka yang ingin menjaga keseimbangan emosionalnya. Meski begitu, masih banyak stigma yang melekat di masyarakat, sehingga sebagian orang memilih diam dan memendam perasaannya.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, sekitar 9,8% penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional seperti stres berat, cemas, dan depresi. Sementara itu, laporan World Health Organization (WHO) tahun 2022 mencatat bahwa satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan mental.
Kesadaran terhadap kesehatan mental semakin meningkat sejak pandemi COVID-19, di mana banyak orang merasakan tekanan akibat keterbatasan sosial dan situasi yang penuh ketidakpastian. Berbagai kampanye kesehatan mental kemudian bermunculan, baik melalui webinar, konten media sosial, maupun kegiatan komunitas.
Menurut pandangan saya, meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental adalah perkembangan yang sangat baik, tetapi belum sepenuhnya merata. Masih banyak orang yang memahami isu ini hanya sebatas tren, tanpa benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak yang berani berbicara tentang “self-care” di media sosial, namun ragu untuk datang ke psikolog karena takut dianggap lemah. Padahal, mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk memahami diri sendiri.
Menjaga kesehatan mental berarti memberi waktu bagi diri untuk beristirahat, menetapkan batas, dan berani mengatakan “tidak” ketika diperlukan. Kesadaran semacam ini seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup, bukan hanya respons terhadap tekanan. Saya percaya generasi muda memiliki peran besar dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap isu ini, dengan saling mendukung, bukan menghakimi.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental adalah langkah awal menuju kehidupan yang lebih manusiawi. Namun, perubahan sejati tidak cukup hanya dengan membicarakannya, perlu ada tindakan nyata dalam bentuk dukungan, pemahaman, dan keberanian untuk saling membantu.
Kita harus berhenti menganggap masalah mental sebagai kelemahan, sebab justru di balik kerentanan itulah kekuatan manusia diuji. Dengan membuka ruang empati dan saling mendengarkan, masyarakat akan tumbuh menjadi lebih peka, lebih hangat, dan lebih sehat secara emosional.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukan hanya soal diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita menciptakan lingkungan yang menenangkan bagi orang lain.
