Konten dari Pengguna

AI dalam Dunia PR: Antara Efisiensi, Etika, dan Tanggung Jawab Sosial

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Bersama (Sumber: Unika Atma Jaya)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bersama (Sumber: Unika Atma Jaya)

Jakarta, 29 Juli 2025 – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menjadi tuan rumah dalam kegiatan GoodTalk Off-Air bertajuk “Antara Akurasi dan Reputasi – Bagaimana Etika Komunikasi di Era AI?” yang diselenggarakan oleh Good News from Indonesia (GNFI) dan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) pada Selasa (29/7), bertempat di Gedung Yustinus, Lt. 14, Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi yang menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi untuk membahas secara mendalam peran etika dalam pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di bidang komunikasi, khususnya Public Relations (PR), di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Diskusi menyoroti berbagai peluang, tantangan, serta batasan etika dalam penggunaan AI, dengan penekanan pada pentingnya menjaga akurasi pesan, transparansi proses produksi konten, dan tanggung jawab moral di tengah semakin dominannya peran teknologi.

Dalam sambutannya, apt. Sherly Tandi Arrang, M.Farm-Klin., University Secretary Unika Atma Jaya, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi yang sangat cepat, termasuk kecerdasan buatan, perlu disikapi dengan bijak agar tidak hanya mendorong efisiensi, tetapi juga tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan etika.

apt. Sherly Tandi Arrang, M.Farm-Klin. selaku University Secretary Unika Atma Jaya (Sumber: Unika Atma Jaya)

“Sebagai institusi pendidikan, kami percaya bahwa teknologi harus digunakan untuk memperkuat nilai-nilai luhur dalam komunikasi. Diskusi seperti ini penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga tangguh secara moral,” ujarnya.

Komisaris Good News from Indonesia (GNFI), Agus Kustiwa, dalam sambutannya menyampaikan bahwa profesi PR atau humas merupakan salah satu profesi tertua yang sejak awal dijalankan berdasarkan protokol kode etik. “Profesi PR atau humas itu salah satu profesi tertua yang protokolnya kode etik, jadi hal seperti ini penting untuk dibicarakan,” tuturnya.

Dalam sesi diskusi, Dr. Ir. Lukas, MAI, CISA, IPU, Ketua Indonesia Artificial Intelligence Society sekaligus dosen Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) Unika Atma Jaya, menyoroti tiga tren utama yang tengah berkembang dalam komunikasi berbasis AI. Pertama, kecepatan dalam produksi konten. Kedua, kemampuan AI menghasilkan konten yang menyerupai karya manusia, meskipun sepenuhnya diproduksi tanpa intervensi manusia. Ketiga, pergeseran fokus dari isi pesan ke proses penciptaan yakni apakah konten tersebut dibuat oleh manusia atau mesin.

Menurut Lukas, ketiga tren tersebut tidak serta merta membawa dampak positif. Justru, di balik kemampuan AI yang mengagumkan dalam menciptakan konten menarik, terdapat potensi krisis etika yang besar, seperti penyebaran hoaks, manipulasi pesan, hingga absennya tanggung jawab atas konten yang dihasilkan.

Dr. Ir. Lukas, MAI, CISA, IPU, Ketua Indonesia Artificial Intelligence Society sekaligus dosen Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) Unika Atma Jaya (Sumber: Unika Atma Jaya)

“AI bisa menyusun kata, tetapi tetap manusia yang bisa memberi makna, dan motifnya ada di manusia,” tegasnya.

Sebagai solusi, Lukas mengusulkan perlunya panduan yang jelas mengenai kapan dan bagaimana AI boleh digunakan, kewajiban untuk mencantumkan informasi apabila konten dibuat menggunakan AI, serta pelatihan etika bagi para praktisi komunikasi yang menggunakan teknologi ini dalam pekerjaannya.

Senada dengan yang disampaikan oleh Dr. Lukas, Rizky C. Saragih, Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Keanggotaan dan PERHUMAS Muda, turut menekankan pentingnya peran manusia dalam menjaga etika komunikasi di era AI. Meskipun teknologi semakin canggih dan AI mampu menggantikan banyak proses teknis, Rizky menilai bahwa nilai-nilai kemanusiaan tetap tidak tergantikan.

“Keputusan akhirnya, pertimbangan moral, pemahaman akan konteks, serta etika Bangsa Indonesia harus tetap berada di tangan kita sebagai manusia, bukan di tangan mesin. Di sini letak etika komunikasi menjadi sangat vital,” ujarnya.

Dalam perspektif praktisi, Sekar Adisty Prabandari, Head of Corporate Communications PT Blue Bird Tbk, memaparkan bagaimana perusahaannya mengadopsi AI untuk meningkatkan layanan. Mulai dari optimalisasi rute pengemudi melalui Internet of Things (IoT), penggunaan chatbot untuk layanan pelanggan, hingga pemanfaatan social listening tools untuk memantau persepsi publik.

Sekar Adisty Prabandari, Head of Corporate Communications PT Blue Bird Tbk (Sumber: Unika Atma Jaya)

“Apa yang sering orang omongin soal Blue Bird, kata-kata itu yang kami jadikan message untuk bisa kami sampaikan sebagai message perusahaan. Karena kita mendengar mereka lewat social listening dan mereka juga mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Blue Bird (terkait) komunikasinya,” ungkap Sekar.

Meski AI digunakan secara luas, Sekar menegaskan bahwa semua tetap berada di bawah kendali manusia. “Human connection adalah hal yang membedakan Blue Bird dari aplikasi layanan lainnya, karena semua masih di-manage oleh manusia,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan AI tidak lepas dari risiko seperti hilangnya sentuhan manusia, penyebaran misinformasi, atau komunikasi yang impersonal. Untuk itu, Blue Bird menerapkan prinsip etis dalam penggunaan AI, yakni mengedepankan empati, kejelasan tujuan, kehati-hatian, dan menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia.

Diskusi ini ditutup oleh Steve Saerang, Co-Founder & Chief of Communication GEMA Worldwide sekaligus Ketua Bidang Pengembangan Keanggotaan dan Perhumas Pemuda. Ia menyodorkan lima hal sebagai dasar dalam membangun budaya penggunaan AI yang etis, yakni kepemimpinan (leader), kebijakan (policy), pelatihan (training), sistem dan perangkat kerja (tools & systems), serta keterlibatan publik (public engagement).

Menurut Steve, seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas penggunaan AI oleh orang-orang di sekitarnya, khususnya dalam memutuskan mana hal yang benar dan salah dari penggunaan teknologi tersebut. Di sisi lain, kebijakan yang disusun oleh negara juga berperan penting sebagai panduan dan landasan etik.

Steve Saerang, Co-Founder & Chief of Communication GEMA Worldwide sekaligus Ketua Bidang Pengembangan Keanggotaan dan Perhumas Pemuda (Sumber: Unika Atma Jaya)

“Ini yang harus kita bangun sebenarnya, mungkin dengan forum seperti ini, dibantu oleh Good News from Indonesia untuk meng-highlight pentingnya kita sebagai negara kalau mau sovereign, benar-benar berdikari, benar-benar punya kedaulatan dan kita harus stick with it,” tegasnya.

Untuk aspek pelatihan dan sistem, Steve menekankan perlunya kesadaran bahwa AI tetap memiliki kelemahan. Oleh karena itu, penting bagi penggunanya untuk memiliki kompetensi dalam memanfaatkan teknologi ini secara tepat. Terakhir, ia menegaskan perlunya transparansi dalam penggunaan AI dalam setiap aktivitas komunikasi. “Semua orang pakai AI tetapi tidak transparan kalau dia pakai AI. If you generate something with AI, just name it ‘I’m generating this pakai AI’,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, Unika Atma Jaya turut berkontribusi dalam membangun ruang diskusi yang kritis dan reflektif mengenai tantangan komunikasi di era digital. Diharapkan, kolaborasi antara institusi pendidikan, media, dan organisasi profesi ini dapat menjadi fondasi dalam menciptakan budaya komunikasi yang etis, akurat, dan bertanggung jawab di tengah kemajuan teknologi yang semakin cepat.