Konten dari Pengguna

Chris Willy Arianto Memahami Manusia Lewat Psikologi Musik

Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Platform diseminasi informasi akademisi Unika Atma Jaya dari kegiatan kemahasiswaan, penelitian, pengabdian masyarakat, kerjasama nasional dan internasional, hingga perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Chris Willy Arianto Memahami Manusia Lewat Psikologi Musik
zoom-in-whitePerbesar

Terapi, konseling, atau organisasi? Itulah wajah psikologi yang dikenal masyarakat. Namun, Chris Willy Arianto atau yang akrab disapa Billy lebih tertarik dengan psikologi musik. Baginya musik memiliki peran besar dalam kehidupan manusia, mulai dari cara berperilaku, mengolah emosi, hingga cara seseorang berpikir dan menjalani kehidupannya.

Kepala Program Studi Magister Psikologi di Unika Atma Jaya ini telah lama memiliki ketertarikan dengan musik. Hingga ia merasa ‘salah jurusan’ ketika menjadi mahasiswa psikologi. Namun ketika masa orientasi, ia diperkenalkan dengan psikologi musik. Di sinilah titik balik motivasinya, ia melihat bahwa musik dan psikologi merupakan dua hal dalam kehidupan sehari-hari yang saling terikat. “Musik itu dekat sekali dengan kehidupan manusia,” jelasnya.

Sejak saat itu, ia tidak hanya melihat musik sebagai karya seni namun juga menjadi fokus akademik dan penelitian yang ia tekuni hingga kini. Psikologi musik sendiri merupakan cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara musik dan tingkah laku manusia. Melalui musik, manusia dapat membentuk suasana hati, mengekspresikan emosi, hingga memengaruhi cara berpikir seseorang.

“Kita mau mencari tahu sebenarnya apa yang membuat musik bisa berhubungan dengan kecerdasan, kenapa kalau mendengarkan musik kita bisa senang atau sedih. Nah, itulah yang dipelajari di psikologi musik,” pungkasnya.

Dari berbagai penelitiannya, Billy menemukan sejumlah hal menarik tentang hubungan musik, kecerdasan, dan kesehatan mental. Salah satu temuan menariknya adalah adanya perbedaan proses pengolahan informasi antara individu yang bermain musik dan yang tidak.

“Orang yang bermain musik ternyata mengolah informasi secara lebih cepat,” jelasnya. “Namun kita belum tahu, apakah musik menyebabkan seseorang menjadi lebih cerdas atau justru orang cerdas yang tertarik bermain musik,” imbuhnya.

Namun bagi Billy, musik bukan hanya soal kemampuan kognitif dan kecerdasan. Di balik dunia musik yang terlihat gemerlap, ia juga melihat sisi lain yang jarang dibicarakan, kesehatan mental para musisi profesional. “Ternyata para musisi profesional memiliki kesejahteraan hidup dan kesehatan mental yang paling rentan. Sehingga kita perlu menaruh perhatian lebih kepada para musisi profesional,” jelasnya.

Terlepas dari perannya di dunia riset, Billy juga aktif di komunitas Psikologi Musik Indonesia yang ia dirikan bersama rekannya, Lestika Madinah Hasibuan. Berdirinya komunitas ini berasal dari kesedihannya atas perkembangan bidang psikologi musik yang masih terbatas di Indonesia, padahal Indonesia memiliki potensi besar melalui keberagaman budaya dan musik.

“Komunitas Psikologi Musik Indonesia ini menjadi ruang bersama bagi musisi, komposer, guru, mahasiswa, dan masyarakat umum. Dimana di dalam komunitas ini kita saling belajar terkait dengan materi-materi yang ada di dalam psikologi musik,” jelasnya.

Bagi Billy, musik tidak berhenti pada melodi yang didengar telinga. Di balik setiap irama, di situlah manusia menyampaikan emosi, pemikiran dan cerita hidupnya.

(CHA)