Samuel Hestu Pinandyo, Mahasiswa FKIK UAJ Terpilih ESMO-NCCS-DukeNUS Course
Tulisan dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Samuel Hestu Pinandyo, mahasiswa angkatan 2022 Program Studi Pendidikan Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ), terpilih untuk mengikuti ESMO-NCCS-DukeNUS Course in Medical Oncology for Medical Students pada 18-20 September 2026 di Singapura. Samuel menjadi satu dari tujuh mahasiswa Indonesia yang terpilih di antara total 60 mahasiswa kedokteran tahun ke-4 dan ke-5 dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.
Program ini diselenggarakan oleh European Society for Medical Oncology (ESMO), badan terkemuka dunia di bidang onkologi medik, bersama National Cancer Centre Singapore (NCCS), rumah sakit khusus kanker utama di Singapura, dan Duke-NUS Medical School, fakultas kedokteran terkemuka hasil kerja sama National University of Singapore dan Duke University. Tahun ini juga menjadi pertama kalinya program tersebut digelar di Asia-Pasifik, setelah bertahun-tahun diadakan di Valencia, Spanyol, untuk kawasan Eropa.
Keputusan Samuel untuk mendaftar didorong oleh cita-citanya menjadi medical oncologist. Selama ini, ia mengaku belajar onkologi secara otodidak dan belum terstruktur, sehingga penjelasan dasar langsung dari para pakar menjadi hal yang sangat ia butuhkan. “Saya berupaya mencari kesempatan terbaik yang bisa saya temukan untuk belajar, bahkan ketika kesempatan tersebut sepertinya mustahil,” ujarnya.
Selain itu, minat ini tumbuh saat berkuliah di FKIK UAJ. Melalui program pertukaran mahasiswa ke Leiden University, Samuel pertama kali belajar tentang kanker, dan dari sanalah ketertarikannya bermula. Selama di FKIK UAJ, ia merasakan lingkungan penelitian yang suportif, teman-teman sebagai co-author yang sangat bekerja keras, serta bimbingan dari Maria Mardalena Martini Kaisar, PhD yang membekalinya dengan keterampilan analisis penelitian. “Hal ini hanya mungkin bila saya di FKIK UAJ,” katanya.
Bekal itulah yang kemudian ia bawa ke dalam proses seleksi. Menurut Samuel, banyak peserta yang lolos seleksi datang dari minat yang beragam, seperti onkologi toraks, ortopedi, dan bedah onkologi. Ia menambahkan bahwa para pelamar lain sama hebatnya, sehingga setiap pelamar perlu menunjukkan hal yang spesial dari dirinya. “Salah satu hal yang dipertimbangkan (saat seleksi) adalah how eager and curious you want to learn, and to show it in your application,” jelasnya.
Selama tiga hari, Samuel dan para peserta mengikuti kuliah interaktif, diskusi kasus, serta kegiatan kelompok yang membahas kanker paru-paru, payudara, kolorektal, prostat, dan hati. Mereka juga mempelajari dasar-dasar terapi dan onkologi medik, penelitian di bidang kanker, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam onkologi.
Dari seluruh rangkaian itu, Samuel menyebut momen ketika peserta bersama-sama menentukan tata laksana lanjutan untuk sebuah kasus sebagai pengalaman paling membekas baginya. Dari situ, ia bisa melihat langsung penerapan penalaran klinis dengan cara berbeda oleh setiap orang. Samuel mengaku sudah cukup banyak terpapar pengalaman internasional, namun lewat program ini ia berkenalan dengan peserta dari beragam latar belakang, termasuk untuk pertama kalinya berjumpa dengan mahasiswa dari Yordania dan Papua Nugini.
Pertemuan-pertemuan itu membuat Samuel memaknai keikutsertaannya sebagai tahapan baru dalam internasionalisasi perjalanannya menjadi dokter. Baginya, relasi adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam dunia kedokteran, sehingga bertemu dengan mahasiswa, dokter, dan profesor yang sepemikiran sangat berguna.
Relasi seperti itu pula yang ingin Samuel bagikan kepada para mahasiswa di FKIK. Karena terbiasa mencari peluang seperti ini secara mandiri, ia ingin membantu rekan-rekannya dan mempersilakan siapa pun yang membutuhkan bantuan untuk menghubunginya langsung, khususnya dalam mencari kesempatan internasional serupa di bidang onkologi. Menurut Samuel, banyak mahasiswa FKIK UAJ yang mampu melebihi dirinya, ”Saya yakin banyak mahasiswa FKIK UAJ yang lebih hebat dari saya, lebih berpengalaman, dan lebih ambisius. Mereka hanya tidak tahu harus mencari ke mana”.
Kepada mahasiswa FKIK UAJ, Samuel menyampaikan pesan untuk tetap fokus pada diri sendiri dan teman-teman seperjuangan. “Jangan minder kepada prestasi orang lain, jadikanlah inspirasi untuk menyadari bahwa ternyata hal itu mungkin dilakukan,” katanya.
(STV)

