Bernapas dalam Ginastel: Menghargai Waktu Seutuhnya
Tulisan dari Cornelius Calvin Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika kecepatan adalah agama, maka aku dan Ayah adalah penganutnya yang paling taat. Bagi kami, liburan bukanlah soal menikmati perjalanan, melainkan sebuah misi penaklukan. Menaklukkan destinasi wisata yang populer, dengan foto-foto estetik di gawai yang harus segera diraup.
Dini hari, pukul lima pagi, saat kabut Bandung masih enggan beranjak dari aspal, mobil kami sudah menderu membelah jalan tol. Ayah, dengan tangan yang mencengkeram kemudi seolah sedang memegang kendali pesawat tempur, memasang target, pukul dua belas tepat kami harus sudah menginjakkan kaki di Surakarta.
“Kita harus efisien, Nak. Jangan sampai waktu terbuang percuma hanya di jalan,” ujar Ayah tanpa menoleh, matanya tajam memindai celah untuk menyalip truk di depannya.
Aku mengangguk, sibuk mengatur jadwal tempat-tempat menarik di kepala. Pasar Gede, Keraton, lalu mencari spot foto instagrammable yang sedang viral. Semuanya harus didapat. Harus tuntas.
Namun, manusia memang boleh menyusun rencana secepat kilat, tapi nasib seringkali berjalan lambat seperti siput.
Begitu roda mobil menyentuh aspal kota Solo, dewa kecepatan seolah meninggalkan kami. Jalanan yang menyempit dan arus kendaraan yang padat meruntuhkan segala arogansi mesin mobil kami. Kami berputar-putar mencari lahan parkir yang seakan hilang, penuh sesak, dengan mobil seperti lautan tak berujung. Setiap kali melihat celah kosong, kendaraan lain sudah lebih dulu menyerobot datang untuk mengisi.
“Lambat sekali orang-orang ini!” gerutu Ayah sembari memukul setir. Wajahnya merah padam, kontras dengan lagu gending Jawa yang lamat-lamat terdengar dari radio lokal. Rencana makan siang pukul dua belas berantakan. Kami terjebak, lapar, dan dikuasai emosi penuh amarah.
Akhirnya, dengan napas memburu karena kesal, kami menepikan mobil di sebuah sudut jalan sempit. Di sana, di bawah naungan pohon kersen yang rindang, berdiri sebuah kedai teh sederhana. Dindingnya kayu lapuk, dengan penerangan lampu kuning teplok khas zaman dahulu. Dengan toples-toples kaca besar berisi daun teh kering di depan kedainya, kami pun yakin untuk singgah sejenak menenangkan emosi.
Penjaganya adalah seorang perempuan tua, kami memanggilnya Mbah. Dengan kebaya berbatik lusuhnya, dan gerakan yang... ya Tuhan, lambatnya bukan main, dirinya pun menyiapkan minuman bagi pengunjung.
“Es teh dua, Mbah. Cepat ya, kami buru-buru,” kata Ayah tanpa basa-basi.
Mbah itu hanya tersenyum, senyum yang teduh namun membuat darah mudaku mendidih. Ia tidak segera menyendok gula batu. Ia justru mengambil cangkir tanah liat, mengelapnya dengan kehati-hatian dengan kain bersih, lalu menjumput daun teh dengan takaran yang seolah dihitung per lembar. Air panas dituang tak kalah perlahan, penuh kehati-hatian.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Ayah sudah mengetuk-ngetukkan kakinya ke tanah, tanda umum untuk ketidaksabaran yang hampir memuncak.
“Kenapa sih orang Solo tidak bisa sedikit saja lebih cepat?” gumamku yang cukup keras untuk didengar.
Mbah itu berhenti mengaduk. Ia meletakkan sendok kecilnya, lalu menatap kami berdua. Tatapannya bukan tatapan tersinggung, melainkan tatapan seorang nenek yang seolah melihat cucunya sedang tantrum.
“Le, Nduk,” suaranya lemah dan serak, seperti gesekan kayu tua. “Kenapa harus terburu-buru? Memangnya waktu itu musuh yang harus dibunuh?”
Aku terdiam. Ayah yang tampak hendak protes pun tertahan mulutnya.
“Hidup itu bukan soal seberapa cepat kalian sampai di tujuan,” lanjut si Mbah sambil menyodorkan dua gelas besar teh panas yang warnanya pekat kehitaman. “Tapi soal merayakan setiap jam yang kalian miliki. Kalau cuma mau cepat sampai, untuk apa mampir? Untuk apa ada perjalanan?”
Kalimat itu tampaknya sederhana, namun benar-benar menghantam dada kami. Semua urat leher yang tadinya tegang perlahan tenang dan mengendur. Bau asap kendaraan seolah lenyap, tergantikan aroma melati teh yang lembut.
Aku meraih gelas itu. Panasnya merambat ke telapak tangan. Aku menyesapnya. Rasanya tidak seperti teh celup instan yang biasa kami minum di rest area. Ini pekat. Sepet. Pahit, namun di ujung lidah tertinggal rasa manis gula batu yang lumer perlahan. Ada aroma melati yang menyeruak, aroma sangrai yang gosong namun sedap.
Anehnya, dalam setiap tegukan yang “tidak enak” bagi lidah orang kota yang terbiasa rasa sintetis ini, aku justru merasakan sesuatu yang telah lama hilang. Aku merasakan tekstur kasar teh tubruk yang lolos saringan. Aku pun merasakan waktu yang perlahan menyempurnakan tegukan demi tegukan.
Sepuluh menit menunggu teh itu dibuat ternyata bukan waktu yang terbuang. Itu adalah hadiah. Hadiah untuk napas yang lebih teratur, untuk melihat debu jalanan yang menari disorot matahari, untuk menyadari bahwa aku sedang duduk berdua dengan Ayah tanpa disela dering telepon pekerjaan.
Ayah menghela napas panjang, seolah melepaskan beban berat di pundaknya. Bahunya turun. Ia menatap gelas tehnya, lalu menatap jalanan Solo yang padat merayap hari itu. Perlahan dia pun berkata, “Mungkin Mbah benar. Kita terlalu sibuk mengejar sampai, lupa caranya berangkat.”
Sisa hari itu dihabiskan dengan ritme yang berbeda. Kami mencari penginapan tanpa mengumpat pada aplikasi peta, menikmati setiap gang sempit yang salah kami masuki. Di warung Soto Mangkunegaran, kami tidak lagi makan dengan tergesa seolah dikejar hantu. Kami menyesap kuah bening itu, menikmati gurihnya daging ayam, dan mendengarkan riuh rendah percakapan warga lokal berbahasa jawa yang tak satu katapun kami mengerti.
Bahkan saat mengunjungi Keraton, kami tak lagi sibuk mencari angle foto terbaik. Kami berjalan pelan, menyentuh dinding-dinding tebal yang dingin, melihat atap biru berlampu gantung vintage, membiarkan setiap cerita sejarah meresap masuk tanpa dipaksa. Solo, dengan segala kelambatannya, ternyata sedang mengajarkan kami cara bernapas yang benar.
Malam berikutnya, kami tiba kembali di Bandung. Lelah rasanya. Kini perlahan, satu persatu ku bongkar isi koperku. Saat membongkarnya, tanganku menyentuh sebuah box kue serabi yang sempat kami beli di pinggir jalan sebelum masuk tol menuju pulang. Kue itu sekarang sudah dingin.
Aku pun duduk di lantai, membuka box, dan menggigit kue serabi itu. Jika dibandingkan dahulu, aku akan menelannya dalam dua suapan besar supaya bisa segera membongkar tas, mandi, dan tidur. Tapi malam ini, aku seolah ingin mengunyahnya pelan-pelan.
Rasanya meledak di mulut. Rasa gurih santan, manis kinca, dan sedikit aroma hangus dari tungku tanah liat bercampur dengan padu di mulutku.
“Ternyata serabi rasanya sangat enak.” gumamku.
Atau mungkin, ia selalu enak, hanya saja selama ini aku terlalu sibuk menelannya bulat-bulat hingga lupa menikmatinya.
Sama seperti hidupku. Sama seperti waktuku.
(Cornelius Calvin Saputra, ‘08, Siswa Kelas XI SMA Trinitas Bandung)

