Konten dari Pengguna

Ketika Kerja Keras Tak Cukup: Mengapa Si Penjilat Justru Cepat Naik Jabatan?

Buku 48 Laws of Power (Sumber: Arsip Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Buku 48 Laws of Power (Sumber: Arsip Pribadi)

Pernahkah melihat kondisi dimana pekerja keras seringkali kalah cepat promosi dibandingkan si penjilat? Kenapa seseorang yang performanya biasa aja, kapabilitasnya ga keren-keren banget, tapi justru jadi orang yang pertama naik jabatan? Apakah jawabannya selalu “Dunia ini memang tidak adil.” atau “Yah mungkin bukan rezekinya.” Tapi sebelum berakhir di pernyataan penutup, maukah anda mencoba melihat alasannya?

Mari berkenalan dengan sosok Robert Greene. Ia adalah seorang penulis kelahiran 1959 dari Amerika Serikat dan hampir 24 tahun lalu membahas fenomena penjilat tersebut. Menurutnya semua hal tersebut berkaitan dengan kekuasaan atau power. Lantas ia mendefinisikan kekuasaan dalam bukunya berjudul “48 Laws of Power”, sebuah karya yang membahas secara lengkap berdasarkan bukti sejarah yang menggambarkan pola-pola tindakan penguasa yang relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Melalui buku ini, kita akan mampu menyingkap alasan dibalik ketidakadilan fenomena keberhasilan jabatan yang selalu diampu oleh mereka yang pandai menaruh muka pada sang penguasa.

Identitas Buku

  • Judul Buku: 48 Laws of Power

  • Penulis: Robert Greene (Pengantar Dr. A. Setyo Wibowo)

  • Penerbit: Renebook

  • Tahun Terbit: 2002, cetakan 34

  • Tebal Halaman: 276 halaman

  • ISBN: 978-623-6083-85-7

Hukum 1: Jangan Pernah Tampil Lebih Cemerlang dari Atasan Anda (Never Outshine the Master) - Jangan pernah membuat atasan anda tersaingi

Banyak orang disini pasti merasa “Dih keren banget deh gw waktu rapat tadi, udh bisa membuat semua orang di ruangan diam ga berkutik. Jelas bentar lagi dia bakal mengakui kehebatan gw, dan promosi di depan mata hihihi…” Lalu apakah kejadian seindah imajinasi tersebut? Kenyataan yang terjadi seringkali malah terbalik dari imajinasi. Besok anda berpeluang dipecat atau mungkin dipindah tugas ke tempat yang sekiranya jauh dari jangkauan kekuasaan.

Lah kok gitu? Kan saya udah berhasil bikin semua orang di ruangan setuju sama saya? Kenapa masih dipecat? Maaf pembaca, saya rasa anda harus sering-sering introspeksi diri jika masih berpikiran demikian. Coba baca ulang sekali lagi paragraf diatas, dan anda akan menemukan perulangan kata “saya” sebanyak beberapa kali. Gini deh, coba sekarang saya tanya, kira-kira yang berkuasa di ruangan itu siapa? Si Bos yang duduknya tumpang kaki? Atau anda presenter yang cape-cape harus berdiri di ruangan? Ya benar, boss anda adalah yang punya kekuasaan di ruangan tersebut. Artinya kebutuhannya harus dipenuhi, bukan anda. Berpikirlah demi keberhasilan dirinya, bukan keberhasilan anda. Maka jadikanlah Ia istimewa, sehingga dia merasa kamu alatnya, dan bukan ancaman keberadaannya.

Dalam hubungan kekuasaan, kemampuan seseorang yang terlalu menonjol dapat dipersepsikan sebagai ancaman oleh pihak yang merasa posisinya sedang ditantang. Siapa sih yang ga insecure kalau liat sesamanya lebih pintar? Itu adalah kekhawatiran dan rasa takut yang timbul dari persepsi naluri manusia. Dengan meredam atau mengurangi rasa takut tersebut, seseorang bos akan merasa aman sehingga rela untuk menaikkan jabatan anda ke jenjang yang lebih tinggi. Sebab dirinya akan berpikir anda bukan sebuah ancaman yang membahayakan dirinya dan anda adalah alat bagi keberhasilan dirinya. Buatlah atasan-atasan anda tampil lebih cemerlang dari yang sebenarnya dan Anda akan mencapai puncak kekuasaan.

Hukum 6: Pikatlah Perhatian Berapa pun Harga yang Harus Dibayar (Court Attention at All Costs) - Menarik Perhatian

Apakah yang membedakan pria yang berjalan di pedestrian dengan pria yang berjalan di atas panggung? Manakah yang lebih menarik perhatian anda? Saya duga adalah pria yang berjalan di atas panggung. Ia berjalan dengan sorotan lampu, dan seluruh aksesoris mewah di tubuhnya. Dengan anggun ia berjalan satu langkah demi langkah menuju ke depan panggung megah. Ia menarik perhatian siapapun yang berada di sekitarnya. Ia dipandang manusia unggul, pantas, rupawan, dan sulit terlupakan bahkan jika hari telah berlalu.

Bagaimana dengan pria berjalan di pedestrian? Ia tidak memiliki lampu sorot maupun aksesoris mewah. Pria tersebut juga mirip dengan sekelilingnya, berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia melakukan tugas penting mencapai suatu lokasi untuk bertahan hidup. Namun tidak seorang pun memandangnya, tidak seorang pun mengingatnya.

Poin pada paragraf kedua memang menyedihkan, hasilnya pun berbeda jauh. Tidak ada seorang pun mengingat pria yang berjalan di pedestrian hari itu. Ia sama-sama berjalan, namun memiliki makna berbeda di hati orang banyak. Tanpa perhatian yang memikat, seseorang mudah untuk dilupakan. Bagi seorang atasan memiliki banyak bawahan seringkali tidak mampu mengingat seluruhnya. Ia akan mengingat mereka yang penting maupun berguna bagi hidupnya sehingga hanya melihat mereka yang memberikan makna, sehingga layak untuk diingat mereka.

Hal tersebutlah yang menjadi pengingat bagi anda. Bahwa sesungguhnya perhatian atasan merupakan hal yang istimewa. Penting bagi anda untuk mencolok dengan segala cara. Jadikan diri Anda magnet perhatian hingga lebih terlihat dari massa yang menjemukan serta penyegan.

Hukum 24: Berperanlah Sebagai Penghuni Istana yang Sempurna (Play the Perfect Courtier) - Memahami etika, hubungan, dan dinamika lingkungan kekuasaan.

Apakah anda sering kesal ketika melihat penjilat-penjilat berkeliaran di kantor atau ruangan yang sama dengan anda? Tapi sadarkah anda, bahwa mereka selalu ada di setiap perusahaan manapun di dunia. Mungkin kita bertanya-tanya, bukankah seharusnya mereka sudah tidak ada sejak lama karena tingkah laku mereka dibenci oleh orang-orang di perusahaan? Sayangnya kita harus memandang kemampuan mereka yang baik dalam berperan dalam lingkungan penuh kekuasaan.

Penjilat yang baik mengerti seni muslihat, dia tidak hanya menyanjung, namun bahkan mengalah pada atasan. Bahkan seringkali menegaskan kekuasaan atas orang lain secara tidak langsung. Lihatlah bagaimana mereka memahami gerak-gerik bos, tahu saat yang tepat untuk merayu hati bos, dan mendapatkan keuntungan dari hal tersebut. Mereka pandai dalam hal-hal tersebut.

Penutup

Setelah menyadari besarnya peran kekuasaan dalam kehidupan kita, alangkah baiknya kita berhati-hati dalam bertutur dan bertindak. Pemikiran mendalam berperan penting dalam menjaga kita dari amukan sang penguasa. Saya kira anda tidak harus menjadi penjilat untuk mendapatkan posisi dan jabatan. Bekerja keraslah yang dapat membuat kita layak diperhitungkan. Namun, kemampuan memahami manusia menentukan apakah kita benar-benar diperhitungkan.

(Cornelius Calvin Saputra, Bandung 21/09/2026)