Konten dari Pengguna

Lebih dari Baris-Berbaris: SMA Trinitas Latih Karakter di Pusdikpom Cimahi

Pelatihan Karakter SMA Trinitas Bandung di Pusdikpom Cimahi, (17-18 Juli 2025)
zoom-in-whitePerbesar
Pelatihan Karakter SMA Trinitas Bandung di Pusdikpom Cimahi, (17-18 Juli 2025)

“Jongkok-Jongkok!”, Begitulah suara keras danton yang berulang kali menggema di telinga saya setiap kali saya dan teman-teman melakukan kesalahan dalam mobilisasi. Bukan, saya bukan mendaftar jadi tentara, tapi saya adalah salah satu dari peserta pelatihan karakter SMA Trinitas di Pusdikpom, Cimahi.

Pelatihan SMA Trinitas di Pusdikpom ini bukanlah hal baru, sudah sejak beberapa tahun ke belakang pihak sekolah bekerjasama dengan Pusdikpom Cimahi. Oh iya, Pusdikpom Cimahi adalah singkatan dari Pusat Pendidikan Polisi Militer yang berada di Kota Cimahi. Pusdikpom adalah tempat bagi para calon maupun prajurit yang sudah berkarir di Polisi Militer mendapatkan pendidikannya.

Sebagai tempat pelatihan Polisi Militer, tidak semua orang awam bisa memasukinya. Maka dari itu, melalui artikel ini, saya ingin membagikan beberapa dari pengalaman belajar berharga saya sebagai peserta pelatihan karakter di Pusdikpom Cimahi selama dua hari satu malam.

Kedatangan di Pusdikpom

Sesampainya saya di tempat Pusdikpom Cimahi, kami dibariskan menurut masing-masing peleton. Istilah peleton tersebut merujuk kepada masing-masing kelas, sehingga bisa dikatakan juga bahwa kami dibariskan menurut masing-masing kelas. Kemudian, Saya melihat dari jauh pemimpin dari pelatihan ini, Seorang ibu berseragam Polisi Militer TNI AD yang sayangnya saya sudah lupa namanya. Dengan suara khas militer, beliau memberikan pengarahan sebentar bagi saya dan teman-teman di depan lokasi Pusdikpom.

Arahan selesai, masing-masing dari peleton dimobilisasikan menuju Aula S. Parman. Begitulah instruksi dari pemimpin latihan kepada setiap pembimbing-pembimbing peleton. Para pembimbing peleton pun dengan sigap membawa kami menuju ke dalam ruangan Aula S. Parman. Sebuah aula besar tanpa tiang penyangga di tengahnya, sehingga setiap sudut ruangan bisa terlihat dengan baik. Di dalam, untunglah kami diperlakukan baik oleh para pelatih. Mereka menyalakan AC di ruangan tersebut, sehingga baik suhunya.

Dalam posisi berbaris masing-masing pleton, kami dibubarkan sejenak untuk menaruh barang di sekitar aula dan setelahnya segera diminta berbaris kembali. Kami pun di cek kondisi kesehatannya oleh para tenaga medis dengan cara di tensi dan screening awal. Segala riwayat penyakit, kondisi-kondisi tertentu, dan pertanyaan-pertanyaan bersifat medis ditanyakan kepada kami. Terakhir, kami diberikan pita oleh pelatih sebagai simbol peserta latihan.

Selesai sudah seluruh dari kami dicek, para pelatih mengarahkan kami berbaris menghadap podium di Aula S. Parman untuk latihan upacara pembukaan. Setelah latihan upacara dan gladi upacara, Upacara pembukaan sesungguhnya pun dimulai. Suara hening memberikan suasana berbeda pada upacara pembukaan ini. Ditambah dengan dituntutnya kami untuk bersikap siap tegak tanpa perubahan gerakan hingga akhir upacara, membuat rasa tegang semakin memuncak. Susunan upacara pun dilakukan, dimulai dengan kedatangan inspektur upacara, pembacaan janji sumpah peserta latihan, menyanyikan indonesia raya, dan diakhiri dengan inspektur upacara meninggalkan lapangan upacara. Maka selesailah upacara pembukaan, badan kami pun diizinkan digerakkan kembali.

Perasaan tegang saya pun hampir mereda. Namun sayang, ini adalah permulaan panjang dari latihan selama dua hari satu malam di Pusdikpom Cimahi ini.

Jam 11 Siang, PBB

Matahari kini sudah hampir di puncak kekuasaannya, teriknya sudah menyengat hingga ke dalam daging manusia. Siapakah yang menyangka akan diminta berlatih di siang terik ini? Saya bukan salah satunya. Dengan berbekalkan topi di kepala, kami diminta berlatih PBB. PBB merupakan sebuah singkatan dari Peraturan Baris Berbaris.

“Hadap Kanan, Gerak…, Hadap Kiri, Gerak…,”

Seru pelatih kami Daniel dengan kacamata hitamnya. Ia terus-menerus meneriakkan komando kepada kami sembari menjelaskan aturan baris-berbaris selama hampir satu jam penuh. Luar biasa bukan staminanya, memang sungguh seorang TNI. Bagaimana dengan saya? Rasanya hampir pingsan. Untunglah mereka segera sadar bahwa kami adalah siswa pelajar SMA yang tidak pernah dilatih secara keras, anak mamih katanya. Setelah satu jam, kami pun diminta masuk kembali ke dalam Aula.

Ibadah Siang Menurut Agama Masing-Masing.

Satu hal yang saya perlu berikan penghargaan kepada pihak pelatih adalah kesediaan mereka dalam mengakomodasikan Ibadah siang menurut agama kepercayaan masing-masing bagi individu peserta latihan. Setiap masing-masing pemeluk agama berbeda diberikan ruang berbeda untuk menjalankan ibadahnya. Teman saya yang seorang muslim dipersilahkan menuju Masjid, teman saya seorang hindu dipersilahkan menuju ruang khusus, begitupun bagi yang budha (tidak ada pemeluk konghucu di angkatan kami ini, sehingga total kami hanya memiliki lima keberagaman agama). Nah dikarenakan SMA Trinitas merupakan sekolah katolik, kebanyakan dari kami merupakan penganut kristus, seorang Nasrani. Sebagai mayoritas sementara, kami pun bersama-sama melaksanakan ibadah gabungan Katolik-Kristen di Aula S. Parman.

Bagilah Pisang Menjadi Lima Bagian.

Tengah hari sudah lewat, waktu makan saya pun sesungguhnya sudah terlewat. Layaknya manusia, makan adalah kebutuhan dasar kami yang perlu segera dicukupi. Kami pun akhirnya masuk ke ruang makan yang namun jauh dari kata kehangatan. Makan kami kali ini penuh siksaan. Duduk tegak, satu meja berdelapan, mulut rapat tidak berisik, dan tak kalah menantang, pisang dibagi lima. Kenapa lima? Katanya sih melambangkan lima sila Pancasila, namun satu hal pasti, membagi pisang menjadi lima adalah persoalan yang cukup besar.

Tidak cukup dibagi lima, kini pisang tersebut diminta diletakkan diatas kepada kami. Wah, pisang diatas kepala? Membayangkannya saja sudah lucu bukan? Betapa tersiksanya saya harus melihat semua teman terdekat saya menaruh pisang di atas kepalanya, jelas membuat saya ingin tertawa. Namun saya terpaksa memilih untuk menahannya, setidaknya hingga acara pelatihan selesai untuk menghindari hukuman pelatih.

Sebagai informasi saja, kenapa pisang ini harus ditaruh di atas kepala? Karena para pelatih ingin kami untuk makan secara tegak. Mendekatkan sendok ke mulut, bukan sebaliknya.

Refleksi Penulis sebagai Penutup

Apakah kegiatannya hanya berhenti sampai di makan siang dengan pisang di atas kepala? Jelas tidak. Masih banyak pengalaman berharga lainnya di Pusdikpom Cimahi yang tak mungkin saya ceritakan seluruhnya, sehingga pengalaman diatas ini saya rasa perlu persingkat. Namun secuil pengalaman di atas, jelas telah menggambarkan pengalaman unik dan berharga saya bersama teman-teman SMA Trinitas di Pusdikpom Cimahi yang masih saya kenang hingga saat ini. Sikap disiplin masih saya kerap diterapkan, khususnya dalam makan. Mentalitas pantang menyerah dan kerja sama tim pun saya rasakan. Juga rasa syukur atas kehidupan nikmat di rumah pun semakin saya sadari. Kepada para pembaca, saya mengajak untuk tidak ragu mencoba pengalaman serupa untuk mengembangkan diri. Akhir kata, seseorang pernah berkata “lebih baik menyesal mencoba, dibandingkan menyesal karena tidak pernah berani mencoba.”

Salam Hangat,

Cornelius Calvin Saputra Siswa Kelas XI SMA Trinitas Bandung