Mengubah Kepedulian Sosialnya Menjadi Karier Diplomasi
Tulisan dari LSPR NEWS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Syahrul Haidar Kamal masih muda banget. Dalam usianya yang 23 tahun, dia menjadi CEO and Founder of Ziken (The Voice of Youth Diplomacy Indonesia), sebuah platform diplomasi.
Sebagai alumnus International Relations (IR) batch 24, Syahrul membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk berkontribusi di kancah internasional. Dia berhasil mengubah kepedulian sosialnya menjadi karier diplomasi profesional melalui pendidikan di LSPR Institute of Communication and Business,.
Ketertarikan Syahrul pada dunia diplomasi bermula sejak bangku SMA. Sikap itu didorong oleh keprihatinannya terhadap konflik internasional seperti isu Israel-Palestina. Karena itulah, selulus SMA, dia memilih LSPR. Kenapa? “Kurikulumnya didukung oleh para praktisi, termasuk banyak Duta Besar yang menjadi pengajar.”
Di LSPR banyak dosen yang Duta Besar. Bapak Yuwono Agus Putranto misalnya, lebih dari lima tahun menjadi Duta Besar RI di Oslo. Ada juga Ibu Yuli Mumpuni Widarso yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk Spanyol. Bahkan Ibu Yuli sempat menjabat Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia (Sesmenpora).
Syahrul sendiri termasuk mahasiswa yang sangat aktif. Ia terlibat dalam organisasi internasional seperti G20 dan OIC. Salah satu pencapaian akademisnya adalah mengikuti program pertukaran pelajar ke Rusia. Dia terpilih menjadi perwakilan mahasiswa Indonesia dalam konferensi Indonesia-Asia di Moskow.
Ketika di Moskow, Sjahrul mempunyai pengalaman yang sangat mengesankan. “Ketika saya baru sampai Moskow, itu yang jemput saya itu bukan mahasiswa, tapi Duta Besar Indonesia di KBRI,” ceritanya.
“Syahrul, kamu muridnya Bu Dubes Yuli di LSPR?” tanya Pak Dubes.
“Iya. dan Dubes tersebut minta foto ke saya. Kata Pak Dubes, buat laporan ke Bu Dubes Yul.”
Kini, di usianya yang baru 23 tahun, Syahrul telah menjabat sebagai CEO and Founder of Ziken (The Voice of Youth Diplomacy Indonesia). Melalui platform ini, ia menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian Luar Negeri serta berbagai kedutaan besar, seperti Kedutaan Rusia, Uni Eropa, dan Palestina. Ziken juga aktif menjadi perwakilan pemuda Indonesia di ASEAN.
Dalam melakukan aktivitasnya itu, Syahrul menekankan pentingnya mata kuliah seperti Geopolitik Internasional dan Diplomasi Publik Internasional yang ia pelajari di LSPR. Kemampuan negosiasi dan analisis yang ia dapatkan sangat membantunya dalam menentukan posisi strategis organisasi saat menghadapi isu global, seperti konflik Rusia-Ukraina atau ketegangan di Timur Tengah,.
Bagi Syahrul, masa kuliah adalah waktu yang tepat untuk mencoba segala hal dan berani gagal. Ia menyarankan mahasiswa untuk aktif dalam organisasi dan magang di berbagai sektor (pemerintah maupun startup) agar memiliki daya saing dan kemampuan analisis yang kuat setelah lulus,.
Kisah Syahrul memberikan gambaran bahwa lulusan Hubungan Internasional LSPR memiliki peluang karier yang luas, tidak hanya sebagai diplomat, tetapi juga sebagai pemimpin organisasi non-pemerintah (NGO), peneliti, hingga pengusaha kreatif di bidang diplomasi.
Sebagai analogi, Syahrul ibarat seorang jembatan hidup yang menghubungkan aspirasi pemuda Indonesia dengan dunia diplomasi formal, memastikan bahwa suara generasi baru terdengar jelas di meja-meja perundingan internasional.

