Konten dari Pengguna

Irama Game Jepang dan Pengaruh Budaya Global

Cristella Adelia Chrizunt

Cristella Adelia Chrizunt

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cristella Adelia Chrizunt tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bangunan Jepang (Sumber: https://www.pexels.com/photo/buildings-2425251/)
zoom-in-whitePerbesar
Bangunan Jepang (Sumber: https://www.pexels.com/photo/buildings-2425251/)

Di dalam mobil, di ruang kelas saat istirahat, hingga di kamar sebelum tidur, banyak remaja sering memainkan game musik di handphone mereka. Layar penuh dengan not-not berwarna yang harus diklik sesuai dengan irama lagu. Bagi sebagian orang, ini hanyalah cara yang santai untuk menghabiskan waktu luang. Namun tanpa disadari, permainan tersebut justru membawa sesuatu yang lebih besar lagi, yaitu budaya pop Jepang.

Permainan seperti Project Sekai: Colorful Stage! dan seri Hatsune Miku: Project DIVA telah dimainkan oleh jutaan pemain di berbagai negara di dunia. Kedua game tersebut mengenalkan pemain kepada lagu-lagu Vocaloid, karakter idol virtual, serta estetika visual yang khas dari anime. Melalui permainan tersebut, para pemain dari berbagai negara semakin mengenal musik Jepang dan juga ikut terlibat dalam komunitas penggemar musik tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa video game tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi alat untuk menyebarkan budaya. Dalam bidang studi hubungan internasional, terdapat istilah yang dinamakan soft power. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan politik bernama Joseph Nye. Secara mudah, soft power adalah kemampuan sebuah negara memengaruhi orang lain tanpa menggunakan kekuatan militer atau ekonomi, melainkan dengan daya tarik budaya.

Jepang adalah salah satu negara yang mampu memanfaatkan budaya pop sebagai pengaruh yang berdampak ke tingkat global. Anime, manga, hingga musik J-Pop sudah lama dikenal oleh masyarakat di luar negeri. Peneliti bidang budaya populer juga menunjukkan bahwa produk budaya Jepang berhasil menciptakan gambaran yang baik tentang negara tersebut di mata masyarakat internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, industri game menjadi salah satu media baru yang digunakan untuk menyebarkan budaya tersebut.

Permainan ritme atau permainan musik memiliki peran yang khusus dalam proses ini. Berbeda dari jenis game lain yang lebih fokus pada aksi atau strategi, rhythm game mengutamakan musik sebagai bagian paling penting dari permainan. Pemain diwajibkan menekan layar atau tombol sesuai dengan irama lagu yang sedang diputar. Dengan cara ini, pemain secara tidak langsung terlibat secara langsung dalam musik yang berasal dari budaya tertentu.

Misalnya dalam Project Sekai: Colorful Stage!, banyak lagu yang diambil dari ekosistem musik Vocaloid. Karakter virtual seperti Hatsune Miku telah menjadi simbol internasional dalam dunia musik digital. Melalui game itu, pemain dari berbagai negara bisa memainkan lagu-lagu yang sebelumnya mungkin hanya terkenal di Jepang.

Situasi yang sama juga terjadi pada seri Hatsune Miku: Project DIVA yang sudah tersedia di berbagai platform konsol. Game ini tidak hanya menawarkan pengalaman bermain yang didasarkan pada musik, tetapi juga menampilkan visual dan estetika yang memukau yang menggambarkan budaya pop Jepang. Desain karakter bernuansa anime, konsep idol virtual, serta tampilan panggung digital menjadi bagian dari pengalaman bermain yang ditawarkan.

Ketika jutaan pemain dari berbagai negara memainkan game tersebut, mereka tidak hanya bermain dalam sebuah permainan. Mereka juga terkena pengaruh budaya Jepang melalui musik, visual, dan karakter-karakter yang terdapat di dalamnya. Itulah sebabnya mengapa rhythm game bisa menjadi alat penyebaran budaya secara global.

Di zaman digital saat ini, penyebaran budaya tidak lagi terbatas hanya pada film atau televisi saja. Video game kini menjadi salah satu industri hiburan terbesar di dunia. Laporan Global Games Market Report dari Newzoo menyebutkan bahwa industri game dunia memiliki ratusan juta pemain aktif yang bermain di berbagai jenis platform. Perkembangan dunia mobile gaming membuat orang lebih mudah mengakses berbagai game, sehingga genre seperti rhythm game bisa dimainkan oleh pemain di berbagai negara.

Namun fenomena ini juga menghadirkan pertanyaan penting bagi Indonesia. Sebagai salah satu negara yang memiliki banyak pemain game, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar dalam bidang industri game digital. Namun, sebagian besar pemain Indonesia masih berperan sebagai pengguna, bukan sebagai pencipta game yang terkenal secara internasional.

Padahal Indonesia memiliki beragam kekayaan musik, mulai dari musik tradisional hingga musik modern. Jika digabungkan dengan teknologi game, musik-musik tersebut bisa menjadi identitas budaya yang menarik bagi pemain dari luar negeri. Pengalaman dari Jepang menunjukkan bahwa game bisa menjadi cara yang baik untuk memperkenalkan budaya kepada orang-orang di seluruh dunia.

Oleh karena itu, pengembangan industri game lokal harus mendapatkan perhatian yang lebih serius. Kerja sama antara pengembang game dan musisi asli Indonesia bisa memberi kesempatan baru bagi industri kreatif tanah air. Permainan ritme yang menggabungkan teknologi digital dengan musik lokal bisa menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada pemain di seluruh dunia.

Akhirnya, game ritme menunjukkan bahwa pengaruh budaya di masa digital bisa muncul dalam bentuk yang cukup sederhana. Permainan musik di layar ponsel ternyata bisa membawa budaya dari satu negara ke negara lain melewati batas geografis. Ketika pemain dari berbagai penjuru dunia mengikuti irama lagu dalam game Jepang, mereka tidak hanya sedang bermain. Mereka juga secara tidak langsung turut serta dalam menyebarluaskan budaya pop Jepang ke berbagai belahan dunia.