Konten dari Pengguna

Beban Mental Si "Gak Enakan"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cristiano Imanuel Napitupulu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang mengalami tekanan, karena menjadi orang "Gak Enakan". (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang mengalami tekanan, karena menjadi orang "Gak Enakan". (Sumber: Ilustrasi AI)

Pernah gak sih lu terjebak dalam situasi di mana lu bilang "Iya, boleh" padahal seluruh hati dan jadwal lu berteriak "Enggak"? Sebagai orang yang sering mengamati dinamika sosial di sekitar, yang jujur aja kadang gue alamin sendiri, gue melihat kalau sindrom "orang gak enakan" atau people pleaser ini udah sampai pada tahap yang bikin capek banget. Di permukaan, sifat gak enakan sering kali dipuji sebagai bentuk kesopanan atau kepedulian yang tinggi. Tapi dari sudut pandang gue, di balik senyuman yang terpaksa itu, ada tekanan batin luar biasa yang perlahan-lahan mengikis kesehatan mental kita.

Menjadi orang yang selalu mengutamakan kenyamanan orang lain di atas kenyamanan diri sendiri bukanlah hal yang menenangkan. Dampak nyata yang paling pertama berasa adalah burnout emosional dan fisik karena kita sering kali refleks bilang iya buat setiap permintaan bantuan, mulai dari nemenin temen belanja pas kita lagi capek, minjemin barang yang masih kita pakai, sampai nampung curhatan orang lain pas energi kita sendiri lagi habis. Efeknya, kita kehabisan waktu dan energi buat melakukan self care. Selain bikin capek, sifat ini juga bikin kita kehilangan identitas diri karena pas fokus kita selalu beralih ke apa yang orang lain pengen biar mereka suka sama gue, kita perlahan kehilangan suara dan preferensi pribadi. Menurut opini gue, ini serem banget karena kita lama-lama jadi asing sama diri sendiri, bahkan rasa gak enakan ini bisa jadi bom waktu kebencian yang menumpuk dan siap meledak kapan aja karena terus-menerus dimanfaatkan. Pas kita selalu berusaha menghindari konflik sama orang lain, sebenarnya kita lagi bikin konflik yang jauh lebih gede di dalam diri sendiri.

Gue melihat akar dari sifat gak enakan ini biasanya bukan sekadar karena kita baik hati, melainkan ada kecemasan sosial yang tersembunyi yang sering dialami anak muda zaman sekarang. Faktor utamanya adalah rasa takut ditolak atau dijauhi, di mana ada kekhawatiran mendalam kalau satu kata enggak bakal bikin orang lain benci, nganggap kita egois, atau bahkan bikin kita didepak dari sirkel pertemanan. Hal ini juga diperparah oleh kebutuhan akan validasi yang berlebihan, di mana kita menggantungkan harga diri pada penilaian orang lain dan merasa berharga cuma kalau kita berguna buat orang di sekitar. Belum lagi ditambah faktor konstruksi budaya di lingkungan kita yang sering kali keliru dalam mengaburkan batas antara sopan santun yang tulus dengan tindakan mengorbankan diri secara berlebihan.

Keluar dari lingkaran setan ini emang gak gampang, tapi menurut gue bisa banget dilatih karena menolak orang lain bukan berarti lu jahat, melainkan artinya lu menghargai kapasitas diri sendiri. Langkah pertama yang bisa lu coba adalah belajar beli waktu sebelum merespons dengan tidak langsung menjawab pas dimintain tolong, melainkan pakai kalimat jeda seperti bilang mau cek jadwal dulu agar ngasih kita ruang buat mikir rasional. Selanjutnya, lu bisa mulai melatih otot menolak dari hal-hal kecil yang risikonya rendah, contoh sederhananya adalah berani nolak tawaran menu tambahan pas lagi pesen makanan, atau nolak ajakan nongkrong pas lu bener-bener butuh istirahat sendirian di kamar. Terakhir, lu harus belajar untuk menolak tindakannya, bukan orangnya, dengan memberikan alasan singkat tanpa perlu bohong atau bertele-tele namun tetap tegas dan sopan, seperti mengatakan kalau lu pengen banget bantu tapi urusan lu lagi padat banget minggu ini.

Kesimpulan dari opini gue, menetapkan batasan diri atau boundaries itu sama sekali bukan tindakan egois, melainkan bentuk komunikasi yang sehat. Orang-orang yang tulus sayang sama kita pasti bakal menghargai batasan itu, dan sebaliknya, kalau ada yang marah pas kita bilang enggak, itu tanda kalau selama ini mereka cuma menikmati fakta kalau kita mudah dikendalikan. Inget, kita bertanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri, bukan atas ekspektasi semua orang di dunia ini. Bersikap baik itu harus, tapi jadi martir demi validasi orang lain adalah hal yang harus gue dan lu hentikan.